Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Puncak Musim Kemarau, Setengah Juta Warga NTB Krisis Air Bersih
Kepala Pelaksana BPBD NTB Ahmadi. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Mataram, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyebut setengah juta warga mengalami krisis air bersih di 9 kabupaten/kota. Dari 10 kabupaten/kota di provinsi NTB, hanya Kota Mataram yang tidak dilanda bencana kekeringan.

Sementara itu, 9 kabupaten/kota lainnya seperti Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima dan Kota Bima telah menetapkan status tanggap darurat kekeringan.

"Sembilan kabupaten/kota sudah tanggap darurat kekeringan sejak sebulan lalu. Kalau masyarakat yang terdampak sekitar 500 ribu jiwa pada puncak kemarau ini," kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB Ahmadi dikonfirmasi di Mataram, Selasa (3/9/2024).

1. Banyak permintaan droping air bersih

ilustrasi tangki air bersih. (dok. BPBD Kota Semarang)

Ahmadi mengatakan pihaknya banyak menerima permintaan droping air bersih dari masyarakat terdampak. Untuk itu, BPBD NTB mendistribusikan air bersih mulai dari Lombok Barat Lombok Tengah dan Lombok Timur.

"Mereka mengalami kesulitan air bersih karena memang mereka tak memiliki sumber air tanah atau jaringan air bersih. Sehingga harus didatangkan air bersih," terangnya.

2. Siapkan 1.000 mobil tangki bantuan air bersih

ilustrasi tangki air. (dok. BPBD Kota Semarang)

Ahmadi menambahkan dalam APBD Perubahan 2024, Pemprov NTB telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp350 juta untuk bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan. Anggaran sebesar itu hanya untuk bantuan sebanyak 1.000 mobil tangki air bersih.

Satu mobil tangki air bersih dengan kapasitas 5.000 liter. Diharapkan dapat membantu masyarakat yang mengalami krisis air bersih pada puncak musim kemarau ini.
"Pemda NTB sudah menyiapkan 1.000 tanki air bersih. Dalam APBD Perubahan sekitar Rp350 juta," sebutnya.

3. Masyarakat terdampak kekeringan bisa jatuh miskin

ilustrasi kekeringan (Markus Spiske/pexels.com)

Ahmadi menjelaskan status tanggap darurat kekeringan ditetapkan hingga akhir 2024. Selain krisis air bersih, bencana kekeringan yang melanda NTB menyebabkan potensi kebakaran hutan dan lahan semakin tinggi.

Dikatakan, bencana kekeringan juga dapat menyebabkan masyarakat jatuh miskin. Karena tidak sedikit masyarakat yang harus mengeluarkan uang untuk membeli air bersih.

Misalnya, seperti di wilayah Kecamatan Jerowaru Lombok Timur. Masyarakat membeli air sekitar Rp250 ribu per tangki. Dalam satu KK, kebutuhan air bersih sebanyak satu tangki.

Sedangkan bencana kekeringan sudah melanda berbulan-bulan. Sehingga mereka harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Editorial Team

Related Article