Petani di Lombok Timur Keluhkan Kelangkaan Pupuk Bersubsidi

Lombok Timur, IDN Times - Para petani di Lombok Timur (Lotim) mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk urea bersubsidi. Hal itu disebabkan karena stok pupuk bersubsidi di tingkat pengecer yang sudah habis. Kalau pun ada, harga pembelian pupuk tersebut jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Persoalan kelangkaan pupuk ini merupakan persoalan berulang yang hampir terjadi setiap memasuki musim tanam padi di Lotim. Kondisi ini menyebabkan petani terpaksa membeli dengan harga yang tidak wajar, jauh dari harga HET.
1. Petani beli pupuk hingga Rp450 ribu per kwintal

Karena kelangkaan pupuk urea ini, petani terpaksa harus membeli pupuk dengan harga dua kali lipat dari harga HET. Petani membeli pupuk dengan harga Rp 400 ribu per kwintal, bahkan ada petani yang membeli sampai harga Rp450 ribu per kwintal atau Rp4.500 per kilogram. Padahal harga HET pupuk urea bersubsidi ini hanya Rp225 ribu atau Rp2.250 per kilogram.
Mengantisipasi kelangkaan pupuk ini, petani menyiasati dengan membeli pupuk sebelum memasuki musim tanam. Itu pun harganya masih tinggi, yaitu Rp300 ribu hingga Rp350 ribu per kwintal. Itu juga masih lebih tinggi dari HET.
"Setiap musim tanam padi, pupuk ini selalu langka. Kalau pun ada, kita beli dengan harga sangat mahal, yaitu Rp400 ribu hingga Rp450 ribu," kata salah seorang petani di Desa Kabar Kecamatan Sakra Lombok Timur.
2. Disebabkan kuota pupuk subsidi menurun

Jumlah usulan pupuk yang dikirim pemerintah Kabupaten Lotim sejauh ini masih jauh dari kuota yang diberikan pemerintah pusat. Usulan dalam bentuk Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E-RDKK) tahun 2024 ini jenis urea sebanyak 33.430 ton dan NPK sebanyak 43.225 ton. Dari usulan itu, Lotim ini diberikan kuota urea hanya 17.648 ton dan NPK 12.700 ton.
Dibandingkan tahun lalu, masih ada penurunan sampai saat ini. Meski demikian, setiap tahun selalu diberikan kuota tambahan. Tambahan yang diberikan dipastikan bisa menutupi kekurangan. Seperti tahun 2023 lalu, penambahan mencapai 50 persen dari kuota.
"Memasuki musim tanam 2024 yang mengalami pergeseran saat ini, semua kuota pupuk bersubsidi tersebut sudah ada di gudang distributor dan siap disalurkan ke petani lewat pengecer, bahkan sudah ada yang melakukan pemupukan," ungkap Kepala Dinas Pertanian Lotim, Sahri, Senin (15/1/2023).
3. Sarankan petani beralih ke pupuk nonsubsidi dan organik

Sahri mengatakan karena berkurangnya kuota pupuk bersubsidi ini, petani disarankan untuk beralih menggunakan pupuk nonsubsidi atau pupuk anorganik. Karena jumlah pupuk nonsubsidi dan organik di toko-toko ini tak terbatas.
Penggunaan pupuk kimia yang selama ini berlebihan diharapkan bisa dikurangi oleh petani. Sehingga petani di dorong untuk menggunakan pupuk organik untuk memperbaiki kondisi lahan yang sudah memang miskin unsur hara.
"Sekarang diketahui ada namanya bio-saka yaitu pemupukan dengan kembali ke alam. Cukup dengan menggunakan tanaman tujuh jenis dikumpulkan jadi satu, lalu bisa digunakan sebagai pupuk alami," tutupnya.

















![[QUIZ] Sudah Tersakiti tapi Masih Bertahan? Cari Tahu Alasannya dari Kuis Ini!](https://image.idntimes.com/post/20251113/pexels-gustavo-fring-4173140_8317ea12-c705-4b40-9e7b-c03fd3b3b51d.jpg)
![[QUIZ] Bagaimana Kepribadianmu saat Sendirian? Cari Tahu di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20260404/1000013396_7125005e-5677-451a-8d3d-0ba37705bec5.jpg)
