Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pengungsi Gempa di Reok Mengaku Mengais Makanan pada Sisa Reruntuhan Rumah
Korban gempa Flores di Sikka berdiam di tenda BNPB. (Dok BNPB)
  • Sekitar 1.300 pengungsi mandiri di Kampung Barangkolong, Reok, kekurangan pangan hingga mengais bahan makanan dari reruntuhan rumah karena bantuan belum merata.
  • Pengungsi juga membutuhkan popok, alas tidur, dan selimut; sebagian tidur di tikar atau terpal terbuka dan mulai mengalami keluhan batuk serta pilek.
  • Pemprov NTT mengirim 17 truk bantuan tahap pertama berisi pangan, air, perlengkapan tidur, kebutuhan bayi-perempuan, serta peralatan medis untuk wilayah terdampak gempa Flores.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Demi mengisi perut yang lapar, Selfiana Beti bersama warga korban gempa Flores di Kampung Barangkolong terpaksa kembali mengais sisa-sisa bahan makanan di antara reruntuhan rumah mereka. Langkah nekat ini diambil karena bantuan pangan di lokasi pengungsian mandiri Kecamatan Reok sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan sekitar 1.300 jiwa.

Pasokan dari dapur umum sejauh ini baru berupa beras dan mi instan yang jumlahnya jauh dari kata cukup. Minimnya peralatan serta tenaga relawan membuat fasilitas dapur umum belum mampu melayani seluruh pengungsi secara merata.

Alhasil, para korban harus memutar otak dan mengolah sendiri bahan mentah seadanya di tengah kepungan keterbatasan. Mereka kini berjuang bertahan hidup secara mandiri sembari berharap uluran tangan bantuan yang lebih layak segera tiba.

1. Warga bertahan di tenda-tenda

Korban gempa Flores di Sikka berdiam di tenda BNPB. (Dok BNPB)

Minimnya pasokan makanan memaksa sebagian warga memberanikan diri merayap di antara reruntuhan rumah dan kebun demi mencari sisa bahan pangan. Mereka tak memiliki pilihan lain untuk mengganjal perut di tengah bantuan yang makin menipis.

Meski Pemerintah telah membuka tiga posko utama di Kecamatan Reok, yakni Posko Barangkolong, Posko Conggo, dan Posko Kota Reo—tidak semua korban gempa memilih mengungsi di sana. Banyak warga terdampak yang justru memilih bertahan di kantong-kantong pengungsian mandiri sekitar permukiman mereka.

Kondisi para pengungsi mandiri ini tergolong paling rentan karena belum tersentuh distribusi bantuan secara merata. Keterbatasan akses jalan dan sarana logistik membuat nasib mereka kini membutuhkan perhatian serta penanganan darurat.

"Kami harap pemerintah mendata secara menyeluruh agar bantuan dapat disalurkan secara merata dan tepat sasaran," tukasnya. 

Kecamatan Reok sendiri menjadi salah satu wilayah terdampak parah gempa Flores. Data sementara BNPB juga menyebut sekitar 12 orang meninggal dunia di wilayah tersebut.

2. Pengungsi kekurangan kebutuhan dasar

Penyaluran bantuan dari istana kepresidenan kepada korban gempa Flores. (Dok Polda NTT)

Selain makanan, pengungsi juga membutuhkan sejumlah perlengkapan dasar seperti popok bayi, alas tidur, dan selimut. Sebagian warga masih tidur menggunakan tikar atau terpal di area terbuka. Kondisi itu mulai memicu keluhan kesehatan, seperti batuk dan pilek.

"Karena kami tidak ada pilihan lain," ujarnya. 

Di tengah keterbatasan tersebut, pelayanan kesehatan tetap berjalan. Kepolisian mendirikan pos kesehatan dengan melibatkan dokter dan tenaga medis dari Mabes Polri serta tenaga kesehatan dari Puskesmas setempat. 

Para pengungsi berharap bantuan makanan dan kebutuhan dasar lainnya segera diperkuat, mengingat mereka masih harus bertahan di tenda pengungsian dalam kondisi serba terbatas.

3. Bantuan dari pemerintah

Tim SAR Gabungan dalam proses evakuasi terhadap korban dan dampak gempa Flores. (Dok Basarnas)

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menyalurkan bantuan logistik secara bertahap bagi warga terdampak gempa bumi di wilayah Flores. Pada pengiriman tahap pertama, sebanyak 17 truk bermuatan bermacam kebutuhan dasar telah diberangkatkan.

"Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur mengirimkan bantuan tahap pertama untuk masyarakat di wilayah Flores yang terdampak bencana gempa," ujar Gubernur NTT Melki Laka Lena, Senin (17/8/2026).

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTT merilis daftar bantuan yang dikirimkan ke Posko PDB BPBD Kabupaten Ende pada Minggu, 16 Agustus 2026. Bantuan ini terdiri dari kebutuhan medis, makanan, air minum, perlengkapan tidur, hingga kebutuhan bayi dan perempuan.

Untuk peralatan medis terdiri dari set instrumen, bor, box skrup, K-wire dan S-wire, serta box plate. Peralatan ini berasal dari Perhimpunan Bedah Ortopedi Indonesia (PABOI) NTT dan diperuntukkan untuk mendukung penanganan korban gempa.

Untuk kebutuhan pangan, bantuan mencakup 100 karung beras SPHP ukuran 5 kilogram, 100 dos mi goreng, 32 dos minyak goreng, 20 ikat telur, serta 100 dos air mineral gelas. Ada pula bantuan beras sebanyak 210 karung, 50 lembar terpal, 100 lembar tikar, dan 40 kasur lipat.

Bantuan lainnya berupa 300 kilogram beras, pembalut, biskuit, bubur bayi, susu, serta ikan kaleng. Kebutuhan untuk bayi dan keluarga juga dilengkapi dengan popok, sabun cair, dan sejumlah kebutuhan dasar lainnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Topics

Editorial Team

Related Article