Parade 105 Ogoh-Ogoh, Iqbal: Tunjukkan Masyarakat NTB Paham Toleransi

Mataram, IDN Times - Umat Hindu di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar parade budaya ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948, Rabu (18/3/2026). Parade budaya ogoh-ogoh diikuti 105 peserta yang dilepas Wali Kota Mataram Mohan Roliskana dan dihadiri Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan pada pekan ini ada dua hari besar keagamaan yang nyaris dilaksanakan bersamaan yaitu Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948 dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Dua hari besar keagamaan itu merupakan hari pensucian.
"Hampir 96 persen dari masyarakat di NTB adalah muslim dan 3 persen Hindu. Artinya, 99 persen masyarakat NTB mengalami proses pensucian dalam beberapa hari ke depan ini.
"Mudah-mudahan ini pertanda baik bahwa kedamaian akan selalu bersama kita, kenyamanan dan ketertiban akan selalu bersama kita, dan saya yakin bahwa masyarakat NTB sudah sangat dewasa dalam beragama. Sudah tahu bagaimana saling menghormati dan menjaga toleransi," kata Iqbal.
1. Tunjukkan pada dunia bahwa masyarakat NTB paham toleransi

Eks Duta Besar Indonesia untuk Turki itu mengatakan bahwa masyarakat NTB telah hidup bersama selama beratus-ratus tahun dalam suasana yang damai meskipun berbeda agama dan budaya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat NTB paham bertoleransi antar umat beragama.
"Kita tunjukkan pada dunia bahwa kita tahu artinya saling menghormati keyakinan. Semua berjalan dengan lancar, saling menjaga dan saling menghormati," kata dia.
2. Jumlah peserta parade ogoh-ogoh berkurang dibandingkan 2025

Ketua Panitia Parade Ogoh-ogoh Kota Mataram, Made Krisna Prasetya menyebutkan jumlah peserta tahun ini sebanyak 105. Jumlah peserta berkurang dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 185 peserta parade ogoh-ogoh.
Dia mengatakan parade budaya ogoh-ogoh bukann naya tradisi Umat Hindu. Tetapi juga wujud kreativitas generasi muda sekaligus memupuk semangat persaudaraan.
"Melalui kegiatan ini kita dapat melihat bagaimana seni, budaya dan nilai-nilai spiritual berpadu menjadi satu dalam bentuk karya. Selain itu, kegiatan ini merupakan simbol keberagaman," kata dia.
3. Budaya menjadi jembatan menyatukan elemen masyarakat

Saat ini, masyarakat hidup di tengah keberagaman dengan berbagai suku, agama dan budaya. Namun, perbedaan itu menjadi kekuatan yang memperkaya masyarakat bersama dalam semangat kebhinekaan.
"Kita tunjukkan bahwa budaya dapat menjadi jembatan yang menyatukan seluruh elemen masyarakat. Kami berharap melalui kegiatan ini dapat tumbuh rasa menghargai, memperkuat toleransi serta menjaga kerukunan antar umat beragama di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk di Kota Mataram," ujarnya.









![[QUIZ] Tipe Pasangan Seperti Apa yang Cocok untuk Kepribadian Sanguinis?](https://image.idntimes.com/post/20260107/pexels-nayla-bernardes-1673442920-31838676_43b53ef2-4e01-4e92-987e-0b4e93c28765.jpg)







![[QUIZ] Tipe Pasangan Apa yang Paling Cocok untuk Kepribadian Ekstrovert?](https://image.idntimes.com/post/20260108/pexels-vlada-karpovich-4873541_93b44dfa-02c7-4b88-89e5-b853de3a0cff.jpg)
