Kepala BRIN Puji Rumput Laut NTB dan NTT Jadi Material Bodi Pesawat

Rumput laut dari NTB dan NTT diakui Kepala BRIN berperan penting sebagai bahan komponen bodi pesawat karena mengandung senyawa seperti alginat, selulosa, dan polisakarida alami.
BRIN mengembangkan inovasi energi alternatif dengan mengubah sampah plastik menjadi BBM serta memanfaatkan limbah sawit menjadi gula industri untuk mendukung kemandirian energi nasional.
Kepala BRIN mendorong pembangunan Rumah Inovasi Daerah di NTT agar perguruan tinggi dan masyarakat lokal dapat memperkuat riset serta pengembangan produk unggulan daerah.
Kupang, IDN Times - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyebut rumput laut dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) berkontribusi besar dalam dunia dirgantara atau penerbangan. Sebab komoditas tersebut banyak dijadikan komponen bodi pesawat.
Ia memaparkan hal itu saat membuka Rapat Koordinasi Terpadu Pimpinan Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah Provinsi NTT di Kota Kupang, Selasa (5/5/2026). Sat itu Arif memaparkan arah kebijakan Riset nasional dalam mendukung pembangunan daerah yang berdampak.
1. Rumput laut asal NTB dan NTT dijadikan bahan komponen bodi pesawat

Saat memaparkan sejumlah inovasi, Arif menyinggung kualitas rumput laut asal NTB dan NTT. Alasannya, komponen bodi pesawat banyak yang berasal dari rumput laut yang diproduksi di kedua provinsi tersebut.
"Sebenarnya masyarakat NTT dan NTB ini yang punya kontribusi atas kemajuan dirgantara karena itu (bodi pesawat) komponennya dari rumput laut," kata dia.
Rumput laut, jelas Arif, bisa menghasilkan komponen atau senyawa khusus seperti alginat, selulosa, dan polisakarida alami yang berkontribusi dalam material terutama pada badan pesawat. "Seperti alginat itu yang dicari," ucapnya.
2. Limbah sampah jadi BBM, limbah sawit jadi gula

Arif menceritakan, dia baru saja dari Jepara untuk memantau uji coba dan pembuatan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM). Uji coba energi alternatif bernama Petasol ini dilaksanakannya di Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Saat ini inovasi tersebut sudah digunakan oleh kapal-kapal nelayan dan pengetahuan ini akan disebarluaskan ke berbagai daerah termasuk di NTT. BRIN menyebut inovasi ini menentukan peradaban Indonesia termasuk NTT.
"Menghasilkan energi, bahan bakar dari bahan baku dari sampah plastik yang tidak bernilai dan ini yang kita lakukan di beberapa kabupaten. Ini yang terus kita diseminasikan," ungkapnya saat yang sama.
Ia menyinggung pula soal limbah sawit juga dapat diolah ulang sehingga menjadi gula industri. Untuk gula dari bahan baku disebutnya sebagai generasi pertama dan generasi keduanya ialah gula dari padi.
"Gula dari kelapa sawit itu generasi ketiga," kata dia.
Ia juga menyebut BRIN sedang dalam riset untuk membuat alternatif LPG hingga dengan mengubah limbah kelapa menjadi inovasi lainnya.
3. Kepala BRIN ingin NTT punya Rumah Inovasi Daerah

Sebelumnya ia menyebut petani di NTT perlu didukung dengan Rumah Inovasi Indonesia dari BRIN termasuk di dengan Rumah Inovasi Daerah. Ia menyebut ini menjadi bentuk bekerja sama dengan Kemenristekdikti.
"Mudah-mudahan juga dibangun di NTT Rumah Inovasi Daerah sehingga bagi perguruan tinggi di NTT bisa mendukung inovasi di daerah," tukasnya.
Ia mencontohkan juga Kabupaten Sikka, NTT, yang kini makin berinovasi juga dengan cokelat. Untuk itu BRIN dan akademisi perlu terlibat mendukung inovasi tersebut
"Supaya lebih berkualitas dan punya standar seperti di luar negeri," tukasnya.
Ia kembali mengakui garam dan rumput laut khususnya memiliki lebih banyak produk turunan dan ini bisa dikembangkan misalnya kosmetik hingga kebutuhan sandang.














![[QUIZ] Sudah Disakiti Berkali-kali, Tapi Kamu Tetap Bertahan? Ini Jawabannya!](https://image.idntimes.com/post/20260426/pexels-rdne-6669876_ffe53f2d-54ac-457b-872a-97b9d01c774b.jpg)




