Ilustrasi panen jagung (ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah)
Jagung merupakan tanaman penting bagi Indonesia sebagai bahan pangan untuk mencukupi kebutuhan diet tinggi protein bagi penduduk. Meningkatkan produksi jagung dalam negeri memberikan stabilitas harga bagi sumber protein seperti unggas dan telur. Oleh karena itu penting untuk ketahanan pangan Indonesia. Presiden Jokowi telah memerintahkan upaya-upaya untuk meningkatkan produksi jagung nasional, salah satunya dilakukan dengan menggunakan benih jagung bioteknologi.
"Ada kesenjangan besar antara pasokan dan permintaan jagung di Indonesia sehingga industri benih harus mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah ini," kata Ketua Komisi Tetap Ketahanan Pangan KADIN Indonesia Prof. Hermanto Siregar.
Pihaknya mengapresiasi upaya Bayer, selaku anggota KADIN, yang telah menghadirkan benih bioteknologi jagung ke Indonesia. Juga kepada Seger Agro Nusantara, yang telah bekerja sama dengan Bayer, menjadi pihak pembeli jagung hasil panen. Bersama-sama, kedua perusahaan tersebut membentuk model bisnis closed-loop sehingga pada akhirnya para petani dan seluruh mitra dalam rantai nilai jagung akan mendapatkan manfaatnya.
Peluncuran Dekalb DK95R menandai awal dari rangkaian produk dan inovasi bioteknologi Bayer dalam mendukung petani di Indonesia. Rangkaian teknologi yang akan diperkenalkan termasuk benih jagung VT Double PRO® (VT2P), teknologi yang menggabungkan kontrol serangga dan sifat toleransi glifosat. VT2P akan menjadi teknologi unggulan yang memberikan kontrol sepanjang musim terhadap ulat grayak (Fall Armyworm/FAW), yang menjadi kekhawatiran besar bagi petani jagung di Indonesia.
Selama tahap pertumbuhan awal yaitu 3 hingga 12 daun, jagung sangat sensitif terhadap persaingan dengan gulma untuk mendapatkan cahaya, nutrisi, dan air. Biasanya, pengendalian gulma pada jagung dimulai pada awal musim tanam atau sebelum atau setelah tanaman muncul untuk menghilangkan gulma kecil yang biasanya segera bersaing secara agresif dengan tanaman jagung.
Praktik umum petani mengaplikasikan herbisida 3 hingga 4 kali per musim tanam. Dengan benih jagung RR petani hanya perlu mengaplikasikan 1 hingga 2 kali per musim tanam. Benih jagung RR telah dikembangkan sejak tahun 1980-an sebagai respons terhadap permintaan petani akan metode pengendalian gulma yang ramah lingkungan, efisien secara waktu dan biaya dengan tingkat keamanan yang lebih baik.
Saat ini, tanaman hasil rekayasa genetika yang paling banyak digunakan di seluruh dunia adalah tanaman yang dimodifikasi secara genetik untuk memiliki sifat toleransi terhadap herbisida, seperti benih jagung RR.