Natalius Pigai Ngaku Punya Warisan Tanah di NTT tapi Gak Masuk LHKPN

- Natalius Pigai mengaku memiliki warisan tanah di Papua dan Flores, namun belum sah secara hukum sehingga belum dilaporkan ke LHKPN.
- Kementerian HAM di bawah Natalius Pigai berhasil memecahkan rekor dunia Guinness untuk pelatihan HAM terbesar dengan 4.000 peserta, melampaui rekor sebelumnya dari Ekuador.
- Pigai datang ke NTT untuk membangun Pusat Studi HAM yang akan menjadi wadah pendidikan dan riset internasional bagi generasi muda di wilayah tersebut.
Kupang, IDN Times - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengaku baru akan memiliki tanah dan rumah. Salah satu aset yang mungkin dimilikinya nanti adalah di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia mengungkap ini saat akan menandatangani kesepakatan bersama dengan Pemerintah Provinsi NTT di Kantor Gubernur NTT, Senin (8/6/2026).
Pada saat yang sama ia menyebut dirinya baru menerima pesan bahwa dirinya akan diberikan rekor dunia terkait pelatihan HAM terbesar.
1. Belum bisa lapor ke LHKPN

Awalnya, Natalius menyebut dirinya datang ke NTT seperti pulang kampung. Ia mengaku memiliki warisan di NTT. Namun belum resmi masuk dalam harta kekayaannya, sehingga belum disampaikan pada Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).
"Saya merasa pulang kampung. Saya menteri yang tidak punya rumah dan tanah. Tapi ada warisan tapi belum legal yaitu warisan nenek moyang di Papua dan di Flores hanya belum legal menjadi milik saya, maka saya belum bisa laporkan ke LHKPN," ungkap Pigai saat itu.
Ia tidak menyebut jelas mengenai luas dan lokasi warisan tersebut, namun ia yakin itu akan menjadi hartanya kelak.
"Jadi saya punya tanah yang berpotensi memungkinkan jadi milik saya ada di Papua dan NTT ini. Jadi ini saya pulang kampung," tukasnya.
2. Dapat penghargaan

Pada saat yang sama Natalius Pigai mengungkap dirinya dihubungi dari Guinness World Record karena Kementerian HAM memecahkan rekor dunia.
"Hari ini Kementerian HAM Indonesia telah pecahkan rekor. Rekor yang diraih tiga kali lipat dari Ekuador," kata dia.
Ia mengungkap sebelumnya Ekuador yang mendapat penghargaan Largest Human Rights Lesson dengan 1.772 partisipan dari anggota polisi.
"Jadi saya sedang dipersiapkan mendapat Rekor Dunia, bukan Muri ya. Largest Human Right Lesson atau pendidikan HAM yang masif dan jumlah besar dalam hari yang sama. Saya kumpulkan 4000 orang. Saya mengajar. Itu sudah menjadi rekor dunia, di hari yang sama," jelas dia lagi.
Sebelumnya, ia mengungkap peran Presiden Prabowo Subianto mengenai posisi Indonesia sebagai Dewan HAM PBB.
"Bersyukurlah, di tingkat internasional nama Indonesia sudah mulai bagus. Di level internasional di mana Indonesia berhasil memimpin Dewan HAM PBB. Ini berkat Pak Prabowo," lanjut dia.
3. Bangun Pusat Studi HAM

Natalius Pigai dalam kesempatan tersebut mengaku datang ke NTT untuk membangun Pusat Studi HAM dan juga demo mensosialisasikan HAM di seluruh NTT.
"Ini penting karena bisa terhubung ke seluruh dunia, mau kuliah S2 - S3 bisa, mau NTT menjadi Special Rapporteur Perserikatan Bangsa-bangsa," tukasnya.
Natalius juga ingin beberapa pusat studi hadir di NTT sehingga dapat melahirkan ahli-ahli baru lainnya terkait bidang HAM.
"Pusat Studi HAM ini bisa di Flores satu, Timor, Sumba atau di perbatasan. Itu penting. NTT bisa jadikan orang yang hebat di humaniora khususnya soal HAM," kata dia.

















