Pelepasan tim solidaritas kemanusiaan NTB untuk korban gempa NTT, Minggu petang (16/8/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)
Eks Direktur RSUD NTB itu menyebutkan sejumlah upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan kepada korban gempa di Manggarai Timur. Diantaranya, melakukan breafing tim Kesehatan untuk penempatan pelayanan kesehatan di pos-pos kesehatan yang sudah tersedia.
Kemudian melakukan rujukan pasien ke Rumah Sakit Ruteng dengan kasus obstetri, yaitu ibu bersalin yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Selain itu, melakukan koordinasi dengan Health Emergency Operation Center (HEOC) atau Pusat Operasi Darurat Kesehatan Provinsi serta HEOC Kabupaten/Kota terkait pelaksanaan respons kesehatan.
Pihaknya juga melakukan koordinasi terkait alur rujukan serta mengoptimalkan pelayanan kesehatan di beberapa pos kesehatan pada wilayah terdampak. Fikri menambahkan, pihaknya mengintegrasikan pelayanan kesehatan Tim Kesehatan NTB dengan Tim Layanan Kesehatan Universitas Airlangga (UNAIR) dalam memberikan pelayanan kesehatan di pos kesehatan.
Berikutnya, melakukan koordinasi untuk pembukaan layanan kesehatan di beberapa wilayah terdampak. Serta pendistribusian Tim Kesehatan NTB Tahap II ke wilayah NTT untuk memperkuat respons pelayanan kesehatan.
Tim Kesehatan NTB juga mengoperasikan Pos Induk Kesehatan di Puskesmas Dampek, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur sebagai pusat koordinasi dan pelayanan kesehatan. Kemudian melaksanakan pelayanan kesehatan secara mobile di beberapa lokasi terdampak untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
Di Kabupaten Manggarai Timur tercatat populasi terdampak gempa sebanyak 313.876 orang, dengan 27 meninggal dunia, 239 luka berat, 404 luka ringan, serta 19.330 pengungsi pada 246 titik pengungsian. Kondisi ini, kata Fikri menunjukkan beban kesehatan dan kebutuhan pelayanan yang cukup besar, terutama terkait penanganan korban luka, pelayanan kesehatan pengungsi, obat-obatan, kesehatan lingkungan, serta pemantauan penyakit potensial KLB di lokasi pengungsian.
"Secara keseluruhan, konsentrasi pengungsi dan korban luka menjadi perhatian utama, sehingga diperlukan penguatan pelayanan kesehatan di titik pengungsian, surveilans harian, pemantauan sanitasi dan air bersih, serta kesiapsiagaan terhadap peningkatan penyakit menular pascabencana," kata dia.
Jumlah Tim Kesehatan NTB yang diterjunkan ke NTT sebanyak 89 orang, yang terbagi dalam 2 tahap pemberangkatan. Pada tahap pertama, relawan kesehatan yang diberangkatkan sebanyak 53 orang dan tahap 2 sebanyak 36 orang.
Dengan komposisi tenaga kesehatan didominasi perawat sebanyak 32 orang, dokter 28 orang, driver 11 orang, apoteker 6 orang, adminkes 3 orang, psikolog 3 orang, epidemiolog 2 orang, tenaga kesehatan lingkungan 2 orang, bidan 1 orang dan analis kesehatan 1 orang.