KM Lawit Tabrak Pelabuhan, PELNI Minta Maaf dan Refund Tiket Penumpang

KM Lawit menabrak dermaga Pelabuhan Ippi, Ende, saat hendak bersandar pada 29 Oktober 2026 dengan 1.146 penumpang; tidak ada korban jiwa, sementara dermaga rusak sekitar 4,5 meter.
PELNI meminta maaf, mengembalikan 100 persen tiket bagi 379 calon penumpang yang batal berangkat dari Ende, serta menyediakan transportasi alternatif untuk perjalanan lanjutan.
Sekitar 800 penumpang KM Lawit dipindahkan ke KM Egon dengan bantuan empat bus; kapal tersebut membantu layanan hingga 2 November sebelum kembali ke rute reguler.
Kupang, IDN Times — PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) menyampaikan permohonan maaf pasca-insiden KM Lawit yang menabrak Pelabuhan Ippi, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (29/10/2026), sekitar pukul 16.20 WITA.
Pada saat itu KM Lawit yang sedang membawa 1.146 penumpang berupaya untuk bersandar di Pelabuhan Ippi, Ende, namun bagian kiri depan anjungan kapal menghantam dermaga. Insiden tersebut berdampak pada pelayanan pelayaran yang sudah dipesan para penumpang.
"Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penumpang atas ketidaknyamanan akibat insiden ini," ungkap Sekretaris Perusahaan PELNI, Ditto Pappilanda, Sabtu (31/10/2026).
1. Sediakan transportasi alternatif dan pengembalian tiket

Para penumpang terdampak pasca insiden KM Lawit tabrak Pelabuhan Ippi Ende. (Dok PELNI) Pasca kejadian tersebut sebanyak 317 penumpang turun di Pelabuhan Ende, sedangkan 379 calon penumpang yang seharusnya naik dari pelabuhan itu pun terpaksa batal diberangkatkan.
PELNI kemudian memberikan pengembalian uang tiket atau refund sebesar 100 persen kepada 379 penumpang yang terdampak. Selain itu disediakan transportasi alternatif bagi penumpang yang masih harus melanjutkan perjalanan tetap terlayani.
"Kami berupaya menyiapkan alternatif transportasi agar perjalanan penumpang lanjutan tetap dapat dilayani," ujar Dito.
Menurut laporan, saat ini Pelabuhan Ippi tetap beroperasi peristiwa dengan kerusakan pada bagian luar dermaga sepanjang sekitar 4,5 meter. Sementara para penumpang tidak ada yang menjadi korban jiwa dalam insiden tersebut.
2. Penumpang lainnya dipindahkan ke KM Egon

KM Egon bantu pelayanan sementara pasca KM Lawit tabrak Pelabuhan Ippi Ende. (Dok PELNI) PELNI telah mengupayakan pengangkutan penumpang eks KM Lawit dengan mengajukan perubahan rute KM Egon kepada Kementerian Perhubungan. KM Lawit sebenarnya dijadwalkan menyinggahi sejumlah pelabuhan di NTT yakni Ende, Lewoleba, dan Kupang, sebelum kembali ke Pelabuhan Waingapu.
Dalam upaya ini, jelas dia, PELNI mengerahkan empat bus untuk membantu proses pemindahan sekitar 800 penumpang KM Lawit ke KM Egon pada Jumat (30/10/2026) malam. Kepala Cabang PELNI Kupang, Teguh Hari Setiadi, dalam keterangan yang sama membenarkan kondisi ini akan berdampak terhadap rencana perjalanan masyarakat.
"Oleh karena itu, kami akan memastikan informasi mengenai jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal, proses debarkasi, serta pengaturan penumpang disampaikan secara jelas," kata Teguh.
Pihaknya berkoordinasi dengan kantor pusat, KSOP, dan pihak terkait untuk memastikan mobilisasi penumpang berjalan aman dan lancar. Sementara itu ia meminta meminta penumpang terdampak mengikuti arahan petugas PELNI selama proses pemindahan dan pengaturan perjalanan lanjutan.
3. KM Egon akan membantu hingga 2 November

KM sebelum menabrak Pelabuhan Ippi Ende. (Dok PELNI) KM Egon sendiri dipastikan akan kembali ke rute regulernya pada 2 November 2026 usai membantu melayani penumpang yang terdampak insiden KM Lawit. Pihaknya akan teru memantau proses perbaikan KM Lawit dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan kesiapan kapal tersebut kembali beroperasi.
"Keselamatan penumpang dan kru kapal tetap menjadi prioritas utama kami. Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan penanganan berjalan dengan baik serta menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan bagi penumpang terdampak," ujarnya.
PELNI mengimbau penumpang untuk mengikuti informasi resmi perusahaan terkait perubahan jadwal dan ketersediaan kapal alternatif selama proses penanganan insiden berlangsung.



















