Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kemenkes: Tim Kesehatan Terkendala Kondisi Geografis untuk Jangkau Korban Gempa
Tim Kesehatan saat memeriksa kondisi pengungsi di Manggarai Barat. (Dok. Dinkes Manggarai Barat)
  • Topografi berbukit, jalur berkelok, dan gempa susulan menghambat tim kesehatan menjangkau wilayah terdampak Flores; perjalanan ke Nagekeo dapat memakan 12 jam, sedangkan Ruteng sekitar 6 jam.
  • Kemenkes bekerja sama dengan Basarnas memobilisasi EMT Mobile yang siap menghadapi medan berat, sementara tenaga medis melakukan pendekatan persuasif kepada warga yang menolak evakuasi atau memilih pengobatan tradisional.
  • Kerusakan rumah sakit di Ruteng dan Nagekeo membuat ruang operasi tak berfungsi normal; Kemenkes mendirikan rumah sakit lapangan dan memperketat skrining kesehatan tenaga medis di zona merah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
22 Agustus 2026

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, Dr. Sumarjaya, menyatakan mobilisasi tim medis ke wilayah gempa Flores terkendala medan berbukit, jalan berliku, dan risiko gempa susulan. Kemenkes bekerja sama dengan Basarnas untuk mengerahkan EMT Mobile.

saat ini

Kemenkes telah mengoperasikan rumah sakit lapangan, termasuk tenda operasi, untuk menggantikan fasilitas rumah sakit yang rusak di Ruteng dan Nagekeo.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Tim kesehatan menghadapi hambatan geografis, risiko gempa susulan, penolakan sebagian warga terhadap pengobatan medis, serta kerusakan rumah sakit saat menangani korban gempa di Flores.
  • Who?
    Kemenkes RI, Basarnas, EMT Mobile, relawan, tenaga medis, dan warga terdampak gempa terlibat dalam penanganan darurat.
  • Where?
    Wilayah terdampak gempa di Flores, termasuk Manggarai Timur, Nagekeo, dan Ruteng.
  • When?
    Kondisi penanganan disampaikan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI Dr. Sumarjaya pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
  • Why?
    Medan berbukit, jalan berkelok, jarak tempuh panjang, gempa susulan, kerusakan fasilitas rumah sakit, dan keengganan sebagian warga menjalani rujukan medis menghambat layanan darurat.
  • How?
    Kemenkes bekerja sama dengan Basarnas memobilisasi EMT Mobile, mendirikan rumah sakit lapangan dan tenda operasi, melakukan edukasi persuasif, serta memperketat skrining kesehatan tenaga medis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gempa terjadi di Flores. Tim kesehatan susah menolong orang karena jalan jauh, berbukit, dan berkelok-kelok. Gempa kecil juga masih datang. Ada warga yang tidak mau pergi ke dokter karena memilih dukun. Rumah sakit di Ruteng dan Nagekeo rusak. Sekarang Kemenkes membuat rumah sakit tenda dan tim medis bekerja di sana.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mataram, IDN Times - Bencana gempa bumi yang melanda wilayah Flores menghadirkan berbagai hambatan berat bagi tim kesehatan dalam memberikan pelayanan darurat yang cepat. Kondisi topografi wilayah yang berbukit-bukit dan akses jalan yang sulit membuat mobilitas tenaga medis menuju titik terdampak menjadi terkendala.

Selain hambatan geografis yang ekstrem, petugas di lapangan juga harus menghadapi tantangan kultural berupa keengganan sebagian masyarakat untuk dievakuasi atau berobat medis. Kendala berlapis ini menuntut strategi khusus agar keselamatan para korban tetap dapat tertangani dengan optimal di tengah keterbatasan.

"Untuk yang paling parah itu, kita kan jangkauannya kan agak sulit. Kami sudah bekerja sama dengan Basarnas, ya Direktur Operasional Basarnas, itu memobilisasi tenaga EMT Mobile (Emergency Medical Team/Tim Medis Darurat Bergerak) yang memang orang-orang yang tahan banting," ujar Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan (SKK) Kemenkes, Dr. Sumarjaya kepada IDN Times, Sabtu (22/8/2026).

1. Topografi ekstrem dan berliku-liku

Tim Kesehatan saat memeriksa kondisi pengungsi di Manggarai Barat. (Dok. Dinkes Manggarai Barat)

Dr Sumarjaya mengatakan bahwa wilayah terdampak seperti Manggarai Timur dan daerah sekitarnya didominasi oleh medan berbukit dengan jalur perjalanan yang sangat jauh dan berkelok-kelok. Waktu tempuh menuju titik-titik krusial seperti Nagekeo atau Ruteng bisa memakan waktu hingga belasan jam lamanya.

Situasi tersebut diperparah dengan ancaman susulan gempa yang terus-menerus terjadi sehingga perjalanan darat menjadi sangat berisiko bagi keselamatan tim medis. Kondisi ini menuntut kehadiran tenaga kesehatan yang benar-benar siap secara fisik untuk menembus medan lapangan yang berat.

"Jadi, kalau pergi ke Nagekeo itu 12 jam, kita ke sana, pergi ke Ruteng itu 6 jam. Jadi, jalannya itu berbukit-bukit, kalau kelok-kelok, jadi memang seperti itu yang membuat kita memang sulit," jelas dr Sumarjaya.

3. Hambatan kultural di lapangan

Tim Kesehatan saat memeriksa kondisi pengungsi di Manggarai Barat. (Dok. Dinkes Manggarai Barat)

Tantangan non-teknis turut menjadi batu sandungan tersendiri ketika tim kesehatan mencoba mengevakuasi korban cedera di perkampungan terpencil yang terisolasi. Sebagian warga kerap menolak rujukan medis karena lebih memilih pengobatan tradisional atau dukun di tengah budaya setempat.

Bahkan, tidak sedikit pasien yang menunjukkan resistensi hingga berusaha melarikan diri saat sudah dinaikkan ke dalam ambulans untuk mendapatkan pertolongan lanjutan. Hal ini memaksa para relawan dan tenaga medis untuk rutin melakukan pendekatan persuasif secara sabar selama berhari-hari.

"Jadi memang banyak masyarakat tuh kan gak mau berobat, dia lebih senang ke paranormal, dukun, gitu ya. Jadi kita yang patah-patah, jadi memang kita menuju sekali memberikan edukasi, memberikan pertolongan," kata dr Sumarjaya.

3. Rumah sakit darurat dan beban kerja tenaga kesehatan

Tim Kesehatan saat memeriksa kondisi pengungsi di Manggarai Barat. (Dok. Dinkes Manggarai Barat)

Kerusakan bangunan rumah sakit di sejumlah titik seperti Ruteng dan Nagekeo membuat fasilitas ruang operasi tidak dapat berfungsi secara normal pascabencana. Keadaan darurat ini memaksa Kemenkes memutar otak dengan mendirikan rumah sakit lapangan lengkap beserta tenda operasi khusus.

Di sisi lain, beban kerja yang terlampau tinggi di tengah ancaman gempa susulan juga membahayakan keselamatan para relawan dan tenaga medis itu sendiri. Oleh karena itu, pihak Kemenkes harus memperketat skrining kesehatan bagi nakes yang diterjunkan ke zona merah.

"Maka kita di sana mendirikan rumah sakit lapangan. Dan Alhamdulillah saat ini kita sudah beroperasi di sana, dan operasi dilakukan di rumah sakit lapangan," papar dr Sumarjaya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article