Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kabur dari Ambulans, Banyak Korban Gempa NTT Enggan Dirujuk ke Rumah Sakit
Tim Kesehatan saat memeriksa kondisi pengungsi di Manggarai Barat. (Dok. Dinkes Manggarai Barat)
  • Penanganan korban gempa NTT terkendala medan sulit serta sebagian warga memilih dukun atau paranormal, bahkan menolak rujukan rumah sakit meski membutuhkan perawatan.
  • Petugas kesehatan dan EMT Mobile bersama Basarnas menyisir wilayah terisolir, memberi pertolongan serta edukasi agar korban bersedia menjalani pengobatan di fasilitas kesehatan.
  • Korban ditentukan melalui triase merah, kuning, dan hijau; kategori merah dirujuk ke RSUD Borong lewat darat atau RSUD Komodo Labuan Bajo dengan helikopter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
kemarin

Seorang korban gempa berusia 16 tahun di Ruteng awalnya menolak operasi. Setelah didekati selama sehari, korban akhirnya bersedia dioperasi.

Sabtu (22/8/2026)

Kemenkes mengungkap banyak korban gempa NTT enggan dirujuk ke rumah sakit dan memilih berobat ke dukun atau paranormal. Petugas EMT Mobile bersama Basarnas menjangkau korban di wilayah sulit, melakukan triase, serta merujuk pasien kategori merah ke rumah sakit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sejumlah korban gempa di Nusa Tenggara Timur menolak rujukan rumah sakit, memilih berobat ke dukun atau paranormal, dan ada korban yang melarikan diri dari ambulans saat akan menjalani operasi.
  • Who?
    Korban gempa NTT, petugas kesehatan Emergency Medical Team Mobile, Basarnas, serta Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes Dr. Sumarjaya terlibat dalam penanganan dan edukasi.
  • Where?
    Penanganan berlangsung di wilayah gempa NTT, termasuk daerah perbukitan dan terisolir; rujukan dilakukan ke RSUD Borong Manggarai Timur dan RSUD Komodo Labuan Bajo. Seorang korban berusia 16 tahun ditangani di Ruteng.
  • When?
    Kondisi tersebut disampaikan Dr. Sumarjaya pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Penanganan, penyisiran, triase, serta edukasi korban masih dilakukan di lapangan.
  • Why?
    Sejumlah korban enggan dirujuk karena lebih memilih pengobatan melalui dukun atau paranormal, terutama untuk patah tulang. Kondisi ini menjadi kendala nonteknis bagi petugas kesehatan.
  • How?
    EMT Mobile dan Basarnas menjangkau korban, memberi pertolongan dan edukasi, lalu melakukan triase. Korban kategori kuning dan hijau dibawa ke puskesmas; kategori merah dirujuk lewat darat ke RSUD Borong atau helikopter ke RSUD Komodo.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan (SKK) Kemenkes, Dr. Sumarjaya mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi di lapangan terkait penanganan korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain medan yang sulit di beberapa wilayah, banyak korban gempa lebih memilih berobat ke dukun atau paranormal.

"Memang ada budaya kadang-kadang di daerah sana itu masyarakatnya kalau patah tulang lebih cenderung berobat ke paranormal atau dukun. Jadi memang kita sudah memberikan edukasi, artinya beberapa masyarakat tadi yang tidak bisa dirujuk, mau dirujuk," ungkap Sumarjaya dikonfirmasi IDN Times, Sabtu (22/8/2026).

1. Ada yang melarikan diri dari ambulans

Kerusakan bangunan yang terdampak gempa bumi M7,7 di Kabupaten Manggarai Timur. (dok. BPBD Kabupaten Manggarai Timur)

Sumarjaya menceritakan ada korban gempa yang sudah dibawa oleh petugas kesehatan menggunakan ambulans dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani operasi namun melarikan diri. Sehingga, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi petugas kesehatan di lapangan. Selain memberikan pertolongan, petugas kesehatan juga memberikan edukasi kepada masyarakat korban gempa agar mau mendapatkan pengobatan dan perawatan di rumah sakit.

"Kayak kemarin ada anak umur 16 tahun di Ruteng, itu gak mau dioperasi. Sehari kita melakukan pendekatan, akhirnya mau dioperasi. Jadi memang begitu tantangannya, ada kendala non-teknis," tuturnya.

2. Edukasi korban yang tidak mau dirujuk ke rumah sakit

Satu truk logistik medis dari NTB yang dikirim ke daerah terdampak gempa NTT, Minggu petang (16/8/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)

Untuk menjangkau korban gempa di daerah perbukitan dan terisolir, Sumarjaya menjelaskan pihaknya bekerja sama dengan Basarnas untuk memobilisasi petugas Emergency Medical Team (EMT) Mobile. Petugas EMT Mobile bersama Basarnas melakukan penelusuran dan penyisiran korban gempa di daerah yang memiliki medan cukup sulit dan terisolir.

Namun, kendala yang dihadapi di lapangan setelah dapat menjangkau korban, ada yang tidak mau dibawa untuk penanganan pengobatan lebih lanjut ke rumah sakit.

"Jadi memang banyak masyarakat itu nggak mau berobat. Dia lebih senang ke paranormal atau dukun. Jadi, kita memang memberikan edukasi dan memberikan pertolongan," kata dia.

3. Lakukan triase korban gempa

Tim Kesehatan NTB membantu warga korban gempa NTT. (dok. Istimewa)

Untuk menentukan korban gempa yang dirujuk ke rumah sakit, kata Sumarjaya, petugas EMC Mobile melakukan triase. Ada tiga hasil triase yaitu merah, kuning dan hijau. Untuk korban gempa yang hasil triasenya kuning dan hijau maka dibawa ke Puskesmas untuk penanganan lebih lanjut. Sementara, jika hasil triasenya merah, maka korban harus dirujuk ke rumah sakit.

"Untuk warna merah kita lakukan evaluasi ke rumah sakit," jelasnya.

Dia menyebut ada dua rumah sakit yang menjadi rujukan yaitu RSUD Borong Manggarai Timur dan RSUD Komodo Labuan Bajo. Korban gempa yang dirujuk ke RSUD Borong dievakuasi menggunakan jalur darat, sedangkan korban gempa yang dirujuk ke RSUD Komodo, dievakuasi menggunakan helikopter.

Curated For You

Editorial Team

Related Article