Dropping air bersih ke Gili Trawangan oleh Pemda Lombok Utara. (dok. Istimewa)
Pembukaan keran air bersih oleh PT TCN merupakan solusi jangka pendek. Tujuannya untuk memulihkan sektor pariwisata dan kehidupan masyarakat yang terganggu akibat terhentinya pasokan air bersih sejak Kamis pekan lalu.
Persoalan air bersih di Gili Trawangan menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Di saat bersamaan, Gili Trawangan merupakan salah satu destinasi utama NTB yang aktivitas ekonominya sangat bergantung pada kesiapan pelayanan dasar.
“Solusi jangka pendek sudah kita lakukan. Targetnya jelas, pariwisata pulih. Kehidupan masyarakat tidak terganggu karena ini menyangkut air yang jadi kebutuhan dasar. Pada saat yang sama solusi permanen harus kita siapkan,” ujar Iqbal.
Sebelumnya, Ketua Gili Hotel Association (GHA) Lombok Utara, Lalu Kusnawan, mengatakan krisis air bersih sudah terjadi selama seminggu. Hal ini menyebabkan sejumlah hotel berhenti beroperasi sementara karena tidak sanggup menanggung beban biaya operasional.
Sementara, masyarakat Gili Trawangan terpaksa menggunakan air payau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kepala Dusun Gili Trawangan, Muhammad Husni mengungkapkan pengeluaran warga naik tiga kali lipat akibat krisis air bersih di Gili Trawangan.
Jika sebelumnya pembelian air hanya difokuskan untuk kebutuhan minum, kini warga juga harus mengeluarkan biaya membeli air bersih untuk keperluan mandi.
Mereka mendesak adanya kepastian hukum dan regulasi yang jelas dari pemerintah terkait pemenuhan kebutuhan dasar air bersih. Apalagi Gili Trawangan sebagai salah satu destinasi wisata dunia, masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil solusi konkret dengan mengaktifkan dan mengoptimalkan kembali sistem suplai air bersih.
"Kalau warga minta kepastian hukum terkait pelayanan air bersih. Intinya masyarakat minta air bersih, perkara bagaimana pemerintah mengatur regulasi urusan pemerintah," kata dia.