Ekspor Tambang AMNT Disetop, Ekonomi NTB Triwulan II Diprediksi Anjlok

Mataram, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Triwulan II 2026 berpotensi anjlok dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan I 2026, ekonomi NTB tumbuh 13,64 persen year on year (y-on-y). Kebijakan penghentian ekspor konsentrat tambang PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) serta menurunnya produktivitas sektor pertanian pada triwulan II 2026 akan menjadi faktor utama yang membayangi kinerja ekonomi NTB.
Kepala BPS NTB Wahyudin, mengungkapkan bahwa aktivitas ekspor konsentrat tembaga PT AMNT sudah tidak ada lagi memasuki bulan Mei 2026. Hal ini dikarenakan masa izin ekspor yang diberikan pemerintah kepada PT AMNT telah berakhir pada April 2026.
"Karena memang ekspor dari tambang itu kan sekarang sudah berakhir pada bulan April. Nah kalau di Mei ini sudah tidak ada ekspor lagi. Karena memang batas mereka ekspor itu kan hanya 6 bulan mereka dikasih, jadi mulai dari November sampai dengan April," kata Wahyudin dikonfirmasi di Mataram, Jumat (22/5/2026)
1. Smelter AMNT belum beroperasi penuh

Meskipun PT AMNT mengajukan permohonan baru agar keran ekspor konsentrat kembali dibuka, tetapi belum tentu izin tersebut akan dikabulkan begitu saja oleh pemerintah pusat. Kondisi ini diperparah dengan belum optimalnya hilirisasi hasil tambang di dalam daerah. Saat ini, fasilitas pemurnian atau smelter AMNT yang menjadi tumpuan hilirisasi masih belum beroperasi penuh.
"Sembari mengajukan, pengajuan itu kan belum tentu disetujui. Sekarang di smelter itu kapasitas produksinya baru berjalan sekitar 30 sampai 35 persen, belum full capacity," jelasnya.
Sebagai penyumbang produk domestik regional bruto (PDRB) terbesar kedua di NTB setelah sektor pertanian, penurunan performa di sektor tambang dipastikan akan berdampak pada perekonomian NTB di triwulan II 2026. Wahyudin tak memungkiri kemungkinan ekonomi NTB akan mengalami kontraksi hingga menyentuh angka negatif pada triwulan II jika laju produksi terus ditekan.
"Pasti berdampak. Karena tambang itu kan share nomor dua tertinggi setelah pertanian. Kalau itu tidak berproduksi atau dikurangi produksinya, bisa jadi pertumbuhan kita turun, atau bahkan minus," kata dia.
2. Sektor pertanian lewati masa puncak

Prediksi pertumbuhan ekonomi NTB yang akan menurun pada triwulan II karena sektor pertanian yang menjadi penopang utama ekonomi NTB sudah melewati masa puncak. Jika pada Triwulan I 2026 ekonomi NTB mampu melesat tinggi hingga mencapai 13,64 Persen, hal itu berkat lonjakan sektor pertanian yang tumbuh di atas 10 persen.
Kondisi serupa dipastikan tidak akan terjadi di Triwulan II 2026. Pergeseran musim panen akibat siklus cuaca menjadi penyebab utamanya. Berbeda dengan tahun lalu yang puncaknya jatuh pada bulan April, puncak panen tahun ini justru maju di bulan Maret 2026.
"Pertanian puncaknya kan kemarin di triwulan I. Triwulan II sudah mulai menurun karena musim penghujan sudah lewat. Kemungkinan besar di triwulan II ini kalaupun ada kenaikan dibandingkan tahun lalu, nilainya kecil sekali. Pertanian sudah tidak mungkin lagi tumbuh di atas 10 persen. Bulan April masih ada produksi, tapi sudah mulai menurun," bebernya.
Dengan dua motor penggerak utama yaitu sektor pertanian dan tambang yang sama-sama melemah, harapan kini bertumpu pada sektor perdagangan sebagai penyumbang terbesar ketiga dalam ekonomi NTB. Namun, kata dia, daya dorong sektor perdagangan diprediksi tidak akan mampu menutup defisit yang ditinggalkan sektor pertanian dan tambang.
"Kemungkinan besar bisa jadi ekonomi kita tetap positif tapi kecil sekali, atau bahkan bisa jadi minus. Karena pertanian sudah tidak terlalu besar produksinya, ditambah ekspor tambang yang disetop sejak Mei," tambahnya.
3. Dorong hilirisasi sektor pertanian dan peternakan

Dia menyarankan agar Pemprov NTB melirik sektor lain yang bisa digenjot untuk memacu pertumbuhan ekonomi NTB. Salah satunya adalah memaksimalkan rantai pasok lokal di sektor peternakan, khususnya ayam potong, yang belakangan menunjukkan sinyal pertumbuhan positif.
Selama ini, komoditas peternakan NTB dinilai kurang memberikan nilai tambah optimal bagi ekonomi daerah karena kondisinya yang stagnan dan lebih banyak dikirim langsung keluar daerah dalam bentuk bahan mentah atau hewan hidup. Untuk menyiasati hal tersebut, Wahyudin mendorong pemanfaatan ketersediaan bahan baku lokal yang melimpah di NTB untuk membangun industri hilir sektor peternakan
"Sektor peternakan kita saat ini stagnan, kenaikan tidak terlalu tinggi dan banyak dibawa ke luar. Sebenarnya dari sisi produksi, itu bisa digenjot dengan kita membuat pakan sendiri melalui industri pakan ayam. Itu yang perlu, karena kita punya banyak sekali bahan baku untuk itu dan sangat tersedia di daerah," kata dia.
Sebelumnya, BPS merilis ekonomi NTB tumbuh tinggi pada triwulan I 2026. Ekonomi NTB pada triwulan I 2026 tumbuh 13,64 persen year on year (y-on-y). Pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan I 2026 merupakan tertinggi kedua di Indonesia setelah Maluku Utara.
Ekonomi NTB yang cukup tinggi itu didorong oleh meningkatnya aktivitas produksi pada seluruh lapangan usaha. Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama didorong oleh kinerja lapangan usaha industri pengolahan yang tumbuh signifikan sebesar 60,25 persen (y-on-y), seiring meningkatnya aktivitas smelter milik PT Amman Mineral di Kabupaten Sumbawa Barat. Peningkatan produksi hasil smelter mendorong kenaikan nilai tambah industri, sehingga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB pada Triwulan I-2026.
Lapangan usaha pertambangan dan penggalian mencatat pertumbuhan yang tinggi, yaitu sebesar 31,80 persen (y-on-y) disebabkan adanya peningkatan produksi hasil pertambangan konsentrat. Selain itu, lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi turut mendorong pertumbuhan ekonomi NTB yaitu tumbuh sebesar 13,48 persen disebabkan karena peningkatan output Bank Umum.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tinggi pada Triwulan I 2026 terutama didorong oleh kinerja ekspor barang dan jasa yang mencatat pertumbuhan sangat tinggi sebesar 91,87 persen (y-on-y). Hal ini sebabkan oleh peningkatan nilai ekspor komoditas pertambangan dan hasil industri pengolahan, khususnya dari aktivitas smelter, yang sebelumnya pada periode yang sama tahun 2025 aktivitas smelter masih belum menghasilkan komoditas ekspor.
Penerimaan negara diprediksi bakal kena imbas akibat berakhirnya izin ekspor konsentrat tembaga PT AMNT pada 30 April 2026. Karena penerimaan negara dari bea keluar, tidak ada lagi mulai 1 Mei 2026. Pada triwulan I 2026, penerimaan negara dari bea keluar ekspor konsentrat tembaga AMNT mencapai Rp774,64 miliar atau 87,39 persen dari target.
Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Sumbawa Sugeng Hariyanto mengatakan lonjakan signifikan ini dipicu oleh kebijakan relaksasi ekspor konsentrat tembaga kepada PT AMNT yang berlaku hingga 30 April 2026. "Izin ekspor konsentrat tembaga kemarin berakhir pada 30 April, sehingga mulai 1 Mei sudah tidak ada kegiatan ekspor konsentrat lagi," kata Sugeng.
Dia mengatakan ada dua dampak akibat tidak adanya lagi ekspor konsentrat tembaga PT AMNT. Pertama, dari sisi penerimaan negara, mulai bulan Mei 2026, tidak ada lagi penerimaan dari bea keluar. Kedua, dengan tidak adanya penerimaan negara, maka akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan II 2026.
"Karena selama ini ekspor inilah yang menjadi salah satu penopang utama dari pertumbuhan ekonomi NTB. Sehingga dengan berakhirnya relaksasi ekspor konsentrat tersebut, kemudian tidak ada penerimaan dari bea keluar, tentunya akan terjadi kondisi yang stuck dari sisi penerimaan," kata dia.
Sebenarnya ada potensi penerimaan dari bea keluar ekspor emas yang diproduksi PT AMNT di Sumbawa Barat. Hal itu sudah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 80 Tahun 2025. Dimana, telah ditargetkan penerimaan dari bea keluar ekspor emas sebesar Rp300 miliar. Namun, sejak Januari hingga Mei ini, PT AMNT belum melakukan kegiatan ekspor emas. Karena emas yang diproduksi dari smelter AMNT di Sumbawa Barat dijual ke pasar domestik.
"Jadi mulai Januari 2026 ini, emas produksi smelter PT AMNT itu dijual ke domestik, dalam hal ini adalah ke PT Antam, belum dilakukan kegiatan ekspor," terangnya.
Selain itu, ada juga produk smelter AMNT berupa copper cathode atau katoda tembaga, tetapi itu tidak kena bea keluar. Dia mengungkapkan bahwa pada triwulan I 2026, tetap ada kegiatan ekspor dari PT AMNT namun bukan produk emas.


















