Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dari Sampah Jadi Rupiah, Limbah Organik Disulap Jadi Pakan Ikan

Dari Sampah Jadi Rupiah, Limbah Organik Disulap Jadi Pakan Ikan
Tempat pengolahan limbah menjadi nilai ekonomi di Sumbawa Barat. (Dok. AMMAN)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • PT Amman Mineral Nusa Tenggara mengolah limbah dapur menjadi pelet pakan ikan, melibatkan masyarakat lokal dalam proses produksi untuk menciptakan nilai ekonomi baru.
  • Program ini membentuk siklus sirkular di mana limbah makanan diubah jadi pakan ikan, hasil panennya kembali dikonsumsi karyawan melalui mitra boga AMMAN.
  • Inovasi ini mendapat dukungan pemerintah daerah karena dinilai efektif mengurangi sampah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendukung pembangunan berkelanjutan di Sumbawa Barat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sumbawa Barat, IDN Times - Sisa makanan dan limbah sering kali dipandang sebagai akhir dari proses konsumsi. Namun di Sumbawa Barat, limbah justru menjadi awal dari peluang ekonomi baru. Inovasi ini menunjukkan bahwa sampah bisa memiliki nilai jika dikelola dengan tepat.

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) mencoba memberikan solusi berkelanjutan. Limbah organik dari dapur dan fasilitas makan karyawan diolah menjadi pelet pakan ikan. Program ini berlangsung di area operasional Batu Hijau dengan melibatkan masyarakat lokal.

Tak hanya berdampak pada lingkungan, inisiatif ini juga membuka peluang ekonomi. Masyarakat lingkar tambang dilibatkan secara aktif dalam proses produksi. Hasilnya, tercipta ekosistem yang saling menguntungkan antara perusahaan dan warga.

1. Limbah dapur diolah jadi pakan ikan bernilai ekonomi

Dapur tempat mengolah makanan karyawan PT AMMAN. (Dok. AMMAN)
Dapur tempat mengolah makanan karyawan PT AMMAN. (Dok. AMMAN)

Di Batu Hijau, limbah makanan tidak lagi berakhir di tempat pembuangan. Sisa makanan dari dapur karyawan diolah menjadi bahan baku pakan ikan. Proses ini dilakukan dengan teknologi pengolahan yang terstruktur.

Masyarakat lokal berperan sebagai pengelola utama dalam produksi tersebut. Mereka mengoperasikan mesin mulai dari penggilingan hingga pencampuran nutrisi. Hasil akhirnya adalah pelet pakan ikan berkualitas tinggi.

Keterlibatan masyarakat membuat program ini tidak hanya berorientasi lingkungan. Ada peningkatan kapasitas dan keterampilan yang dirasakan langsung oleh warga. Hal ini sekaligus membuka peluang usaha baru di sektor perikanan.

“Di AMMAN, kami memandang pengelolaan sampah sebagai bagian integral dari tanggung jawab lingkungan. Inovasi teknologi waste-to-value yang dipadukan dengan pemberdayaan ekonomi sirkular berbasis masyarakat adalah langkah nyata menuju operasional tambang yang berkelanjutan,” ujar Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana dalam keterangan yang diterima pada Jumat (27/3/2026).

2. Ciptakan ekosistem sirkular dari limbah ke pangan

ilustrasi sampah organik (pexels.com/Sarah Chai)
ilustrasi sampah organik (pexels.com/Sarah Chai)

Program ini tidak berhenti pada produksi pakan ikan saja. Pelet yang dihasilkan kemudian digunakan oleh pembudidaya ikan lokal. Mereka memanfaatkan pakan tersebut untuk membesarkan ikan hingga masa panen.

Menariknya, hasil panen ikan tersebut kembali masuk ke rantai konsumsi. Mitra penyedia jasa boga AMMAN membeli ikan dari masyarakat. Ikan tersebut kemudian diolah menjadi hidangan untuk karyawan.

Siklus ini menciptakan ekosistem tertutup yang efisien. Limbah makanan kembali menjadi sumber pangan melalui proses yang berkelanjutan. Model ini menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular di sektor industri.

“Inovasi ini menunjukkan bahwa limbah bukan akhir, melainkan awal dari siklus baru yang memberi manfaat ekonomi dan lingkungan,” ungkap salah satu perwakilan program.

3. Dukung lingkungan berkelanjutan

ilustrasi sampah organik (freepik.com/Freepik)
ilustrasi sampah organik (freepik.com/Freepik)

Langkah yang dilakukan AMMAN mendapat respons positif dari pemerintah daerah. Program ini dinilai sejalan dengan upaya pengurangan sampah di Sumbawa Barat. Selain itu, inovasi ini juga mendukung kebijakan lingkungan daerah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbawa Barat, Nur Rahmadin menilai pendekatan ini sangat relevan. Pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular dinilai mampu menjawab tantangan lingkungan saat ini. Kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan.

Program ini juga memperkuat visi pembangunan berkelanjutan di daerah. Tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dampaknya terasa pada sektor lingkungan dan ekonomi secara bersamaan.

“Inovasi yang mencakup pengurangan limbah industri ini turut memperkuat upaya pemerintah dalam mewujudkan Sumbawa Barat yang bersih dan berkelanjutan, selaras dengan misi ke-7 Bupati dan Wakil Bupati dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup,” ujar Nur Rahmadin.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More