APBD NTB 2025 Dialokasikan Rp2 Miliar untuk Mahasiswa di Luar Negeri

Mataram, IDN Times - Sebanyak 120 mahasiswa penerima Beasiswa NTB era Gubernur dan Wakil Gubernur NTB 2018-2023, Zulkieflimansyah-Sitti Rohmi Djalilah, atau Zul-Rohmi, belum menyelesaikan studi mereka di luar negeri. Biaya pendidikan mereka masih akan dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025.
Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB mengungkapkan bahwa anggaran sebesar Rp2 miliar diperlukan dalam APBD murni 2025 untuk menuntaskan pembiayaan studi mahasiswa ini.
"Kami masih membutuhkan sekitar Rp2 miliar yang sudah dimasukkan dalam APBD murni 2025. Setelah itu, kita akan melihat berapa orang yang berhasil menyelesaikan studi. Saat ini, pemerintah daerah hanya membiayai mahasiswa yang masih aktif studi,” ujar Plt Kepala Brida NTB, Lalu Suryadi, di Mataram, Jumat (25/10/2024).
1. Ada mahasiswa yang telat menyelesaikan studi

Suryadi belum dapat memastikan berapa banyak dari 120 mahasiswa tersebut yang akan menyelesaikan studi pada akhir 2024 atau 2025, karena sebagian mahasiswa ada yang menyelesaikan studi lebih cepat, sementara sebagian lainnya mengalami keterlambatan.
“Kami belum bisa memastikan berapa yang selesai dari total 120 orang. Setelah wisuda, baru akan terlihat. Ada proses yudisium, ada yang lulus, ada yang belum. Mereka sudah berada di semester akhir, hanya saja ada beberapa yang terlambat, sementara lainnya mungkin lebih cepat,” jelasnya.
2. Total 700 mahasiswa NTB dikirim ke luar negeri

Suryadi mengungkapkan bahwa sekitar 700 anak muda NTB dikirim kuliah ke luar negeri melalui program Beasiswa NTB di masa kepemimpinan Zul-Rohmi. Mereka melanjutkan pendidikan di jenjang S1, S2, dan S3 di berbagai negara, termasuk Polandia, Cina, Rusia, dan Malaysia. Secara keseluruhan, program Beasiswa NTB telah memberikan dukungan pendidikan kepada sekitar 7.000 mahasiswa, termasuk penerima beasiswa di dalam negeri.
Suryadi menjelaskan bahwa mahasiswa yang terlambat menyelesaikan studinya di luar negeri harus menanggung biaya tambahan secara mandiri. Pemprov NTB hanya membiayai studi sesuai dengan durasi normal pada masing-masing jenjang pendidikan.
“Mahasiswa harus menyelesaikan studi sesuai durasi normal jenjang pendidikannya. Jika lebih dari itu, biaya tambahan harus ditanggung sendiri. Namun, jika selesai tepat waktu, pemerintah juga akan menanggung biaya kepulangannya,” tambah Suryadi.
3. Beasiswa NTB diklaim tingkatkan IPM

Menurut Suryadi, program Beasiswa NTB berkontribusi dalam peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di NTB. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IPM Provinsi NTB naik dari 71,65 pada 2022 menjadi 72,37 pada 2023.
Lebih lanjut, Suryadi menyatakan bahwa lulusan luar negeri dari program ini tidak diwajibkan kembali ke kampung halaman.
“Mereka tidak harus pulang dan bekerja di sini. Jika bekerja di luar negeri, penghasilannya lebih tinggi, dan mereka bisa membantu keluarga di kampung halaman,” tutupnya.



















