Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak 5 Tahun Meninggal di RSUD Aeramo, Kemenkes Sebut Bukan Akibat Gempa
Kondisi saat anak perempuan usia 5 tahun meninggal dunia di RSUD Aeramo, Nagekeo, NTT. (dok. Istimewa)
  • Kemenkes menyatakan anak 5 tahun yang meninggal di RSUD Aeramo tidak mengalami trauma akibat gempa maupun keterlambatan penanganan medis.
  • Pasien tiba dalam kondisi kritis setelah dua hari demam tinggi, kejang berulang, muntah, diare, serta penurunan makan dan minum.
  • Diagnosis mencatat status epileptikus, sepsis, demam kompleks, dehidrasi berat, dan hipoglikemia; tindakan darurat dilakukan, tetapi nyawa pasien tidak tertolong.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Seorang anak perempuan berusia 5 tahun meninggal dunia di RSUD Aeramo setelah tiba dalam kondisi kritis dengan kejang berulang, demam tinggi, dehidrasi berat, dan hipoglikemia.
  • Who?
    Pasien anak berusia 5 tahun, orang tuanya, tim medis RSUD Aeramo, serta Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes Dr. Sumarjaya terlibat dalam penanganan dan penjelasan kasus ini.
  • Where?
    Kejadian penanganan medis berlangsung di RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
  • When?
    Kemenkes menyampaikan keterangan pada Selasa, 25 Agustus 2026. Sebelum dibawa ke rumah sakit, pasien mengalami demam tinggi selama dua hari dan kejang berulang sejak pukul 18.00.
  • Why?
    Menurut Kemenkes, pasien meninggal akibat komplikasi status epileptikus, sepsis, demam kompleks, dehidrasi berat akibat diare, dan hipoglikemia; bukan akibat trauma gempa atau keterlambatan pelayanan medis.
  • How?
    Tim RSUD Aeramo melakukan penanganan darurat, pemeriksaan fisik menyeluruh, dan pemeriksaan darah. Namun pasien tiba dalam keadaan kritis sehingga nyawanya tidak dapat diselamatkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Seorang anak 5 tahun meninggal di RSUD Aeramo. Ibunya menangis sangat sedih. Kemenkes bilang anak itu bukan meninggal karena gempa dan bukan karena tidak ditolong. Anak itu sudah demam tinggi, kejang, muntah, dan diare selama dua hari. Saat sampai rumah sakit, ia sudah sangat sakit. Dokter sudah mencoba menolong, tapi anak itu tidak bisa diselamatkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Viral di media sosial seorang ibu yang menangis histeris melihat putrinya yang berusia 5 tahun meninggal dunia di RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa hari lalu. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan penyebab pasien meninggal dunia di RSUD Aeramo tersebut.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan (SKK) Kemenkes, Dr. Sumarjaya, mengatakan pasien tersebut meninggal bukan karena trauma akibat gempa maupun keterlambatan penanganan petugas medis.

"Saya pastikan pasien ini meninggal bukan karena trauma, bukan tidak ditolong. Tapi memang sudah punya riwayat sebelumnya seperti kejang-kejang, demam kompleks dan hipoglikemia. Kami langsung dapat informasi dari dokter yang menanganinya," kata Sumarjaya dikonfirmasi IDN Times, Selasa (25/8/2026).

1. Pasien kejang-kejang dan demam tinggi selama dua hari

Sang ibu menangis histeris dan memeluk anaknya yang meninggal dunia di RSUD Aeramo Nagekeo NTT. (dok. Istimewa)

Berdasarkan laporan medis dari tim dokter RSUD Aeramo yang menangani, pasien sudah dalam kondisi kaku, kejang-kejang dan demam tinggi yang telah berlangsung selama dua hari. Berdasarkan keterangan orangtua pasien, anaknya sudah demam tinggi selama dua hari.

"Jadi makan minumnya juga berkurang ditambah lagi muntah, diare empat kali sejak pukul 18.00 itu. Informasi yang saya dapatkan dari rumah sakit, pasien dengan keluhan kejang berulang sejak pukul 18.00. Datangnya sudah dalam kondisi kaku, kejang-kejang dan langsung ditangani petugas medis," jelasnya.

2. Kondisi pasien sudah kritis saat dibawa ke RSUD Aeramo

Kemenkes RI mendirikan dua Rumah Sakit (RS) Lapangan di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Selasa (18/8/2026). (IDN Times/Uni Lubis)

Sebenarnya, kata Sumarjaya, pasien memiliki riwayat lahir cukup bulan, berat badan lahir normal, serta mendapatkan ASI eksklusif dengan baik. Pasien tidak mengalami batuk maupun pilek. Begitu tiba di rumah sakit, tim medis langsung melakukan penanganan darurat, termasuk pemeriksaan fisik komprehensif dan pengambilan sampel darah di laboratorium.

"Pasien diperiksa secara fisik oleh dokter di sana tapi memang keadaannya sudah sakit berat ketika sampai di rumah sakit. Jadi memang posisinya sudah datang kritis. Tapi tetap dilakukan pengecekan semuanya termasuk pemeriksaan darah di laboratorium," kata dia.

3. Pasien mengalami komplikasi serius

Kemenkes RI mendirikan dua Rumah Sakit (RS) Lapangan di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Selasa (18/8/2026). (IDN Times/Uni Lubis)

​Sumarjaya menjelaskan bahwa pasien mengalami beberapa kondisi komplikasi serius. Hasil diagnosis, pasien dalam status epileptikus, sepsis, demam kompleks, dehidrasi berat akibat diare, serta hipoglikemia.

​Kondisi pasien yang sudah terlanjur kritis dan terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan membuat nyawanya tidak dapat diselamatkan. Meskipun tindakan medis darurat telah dilakukan secara maksimal oleh tim medis RSUD Aeramo.

​Dia mengimbau masyarakat untuk segera membawa anggota keluarga terutama anak-anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat jika mengalami demam tinggi dan kejang berulang agar mendapat penanganan sedini mungkin.

"Jadi penyebabnya bukan karena faktor trauma, bukan karena tidak dilayani, tapi terlambat datang dan orangtuanya baru memberitahu. Setelah ada kejang dibawa ke rumah saki cuma datangnya itu sudah posisi kritis, akhirnya nggak sempat tertolong lagi," tandasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article