Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Viral Keributan Alex Rins dan Marshal, Begini Penjelasan ITDC!

Kab. Lombok Tengah
6 min read
Viral Keributan Alex Rins dan Marshal, Begini Penjelasan ITDC!
Pembalap MotoGP, Alex Rins. (IDN Times/Linggauni)
  • Alex Rins terlibat keributan dengan marshal usai jatuh di Tikungan 7 Mandalika. ITDC menyatakan marshal semula mengikuti SOP evakuasi menggunakan mobil.
  • Menurut Priandhi Satria, motor dalam insiden itu adalah flying marshal, bukan moto taxi; petugas hanya boleh mengantar pembalap ke titik transit sebelum kendaraan lanjutan.
  • Dorna disebut tidak mempermasalahkan kinerja marshal. Steward FIM dikabarkan memanggil Rins terkait gestur jari tengah dan dugaan kontak fisik dengan petugas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lombok Tengah, IDN Times - Insiden Alex Rins yang mengalami kecelakaan pada sesi Practice MotoGP Mandalika, Jumat (9/10/2026), viral di media sosial. Pembalap Monster Energy Yamaha itu terlibat keri utan dengan marshal setelah jatuh di tikungan 7 Sirkuit Mandalika.

Direktur Operasi ITDC, Troy Reza Warokka mengatakan bahwa marshal telah menjalankan tugasnya sesuai dengan SOP. Sesuai SOP, pembalap yang jatuh diangkut menggunakan mobil, bukan sepeda motor.

"SOP-nya dibawa dengan mobil. Namun pembalap bersangkutan meminta secara buru-buru. Dari tim Marshal, diintimidasi begitu terus terang goyang juga bahwa ini tidak boleh karena harus pakai mobil. Akhirnya diangkut dengan motor. Tidak ada yang salah dengan marshal kami. Karena mereka tahu harus diangkut dengan mobil bukan motor," kata Troy di Media Center Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026, Sabtu (10/10/2026).

  1. 1. Marshal menjalankan tugas dengan baik

    IMG-20261009-WA0050.jpg
    Direktur Operasi ITDC Troy Warokka. (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Dia menegaskan bahwa marshal telah menjalankan tugas dengan baik. Namun karena Alex Rins panik dan buru-buru, sehingga meminta dibawa menggunakan sepeda motor. Menurutnya intimidasi yang dialami marshal itu bagian dari tugas lapangan.

    "Karena pembalapnya memilih naik motor iya sudah. Marshal menjalankan tugasnya tidak bisa mengangkut pembalap dengan motor harus dengan pakai mobil. Karena pembalap itu tidak boleh terlihat secara kacamata telanjang. Buatk saya mekanismenya seperti itu. Kemudian marshal diintimidasi itu bagian dari lapangan. Tapi saya pastikan marshal menjalankan tugas dengan baik," jelas Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 itu.

  2. 2. Marshal menjalankan tugas sesuai fungsi

    Deretan petugas marshal berseragam oranye bersiaga di tepi lintasan Sirkuit Mandalika saat pembalap motor melintas
    Sejumlah petugas marshal bersiaga mengamankan lintasan pada ajang MotoGP di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat. (dok. ANTARA/Humas ITDC)

    Pengamat otomotif, Priandhi Satria mengatakan bahwa insiden itu tidak bisa dilihat hanya dari video saja. namun perlu dipahami berdasarkan prosedur operasional dan pembagian tugas berbagai petugas di lintasan. Pemegang lisensi FIM tertinggi di Indonesia itu menjelaskan marshal yang terlibat keributan tersebut telah menjalankan tugas sesuai dengan fungsi masing-masing petugas dalam mekanisme penanganan pembalap yang mengalami kecelakaan di area lintasan sirkuit.

    Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) periode 2022–2026 itu menjelaskan, motor yang digunakan petugas dalam insiden tersebut merupakan motor flying marshal, dan bukan kendaraan moto taxi. Keduanya memiliki fungsi yang sangat berbeda dalam mendukung operasional balapan, termasuk penanganan pembalap yang terjatuh dan pengaturan pergerakan petugas di area sirkuit.

    “Motor yang dipakai itu merupakan motor flying marshal dan bukan kendaraan moto taxi. Di bagian belakangnya terlihat ada APAR atau alat pemadam api ringan,” jelas Priandhi.

    Dalam operasional balapan, flying marshal bertugas khusus dan hanya untuk mendukung pengawasan dan penanganan situasi di lintasan. Sementara itu, moto taxi digunakan untuk membantu mengantarkan pembalap yang membutuhkan transportasi dari area tertentu menuju lokasi yang telah ditentukan, sesuai prosedur dan kondisi operasional.

    Menurutnya, petugas flying marshal memang hanya dapat mengantarkan pembalap sampai ke titik transit kendaraan penjemputan yang telah disiapkan penyelenggara. Mekanisme tersebut bukan hal baru, melainkan bagian dari prosedur yang sudah diterapkan sebelumnya dan selalu disepakati dan disetujui oleh Race-Director terhadap safety plan penanganan berbagai kejadian, sebelum ajang balap dimulai.

    Titik transit ini menjadi lokasi peralihan dari kendaraan flying marshal, sebelum pembalap melanjutkan sisa perjalanan menggunakan kendaraan yang telah ditentukan, sesuai dengan kebutuhan evakuasi. Kendaraan flying marshal, tidak boleh meninggalkan area kerja yang telah ditentukan, makanya ada kendaraan transit. Dengan demikian, tidak semua kendaraan yang berada di lintasan dapat digunakan untuk mengantarkan pembalap hingga ke garasi atau paddock.

    “Jadi, mereka telah melakukan sesuai SOP tugasnya masing-masing. Flying Marshal yang terlihat di video, memang hanya bisa mengantarkan sampai titik transit car yang sudah disetujui dan sudah disiapkan dari sebelumnya,” jelasnya.

    Keinginan pembalap dengan adrenalin dan emosi yang sangat tinggi untuk segera kembali ke garasi secepatnya setelah mengalami kecelakaan dapat dipahami. Namun, keinginan tersebut tidak selalu dapat dipenuhi oleh setiap petugas karena adanya batasan tugas dan kebutuhan menjaga kesiapan personel di lintasan.

    Apabila menggunakan moto taxi, pembalap memungkinkan untuk diantarkan lebih jauh sesuai prosedur yang sudah ditentukan. Sebaliknya, jika kendaraan yang digunakan adalah flying marshal, petugas tidak dapat meninggalkan posnya terlalu jauh atau terlalu lama, karena harus kembali menjalankan tanggung jawab operasional yang telah ditentukan sebelumnya.

    “Rider pasti maunya diantar secepat mungkin untum sampai kembali garasinya. Itu memungkinkan jika memakai moto taxi, tetapi tidak memungkinkan jika kebetulan dia diantar menggunakan kendaraan flying marsha. Karena itu akan berarti petugas marshal tersebut meninggalkan area pos kerja mereka terlalu lama, dan tidak sesuai orosedur yang telah ditentukan dan disetujui sebelum balap” tambahnya.

  3. 3. Dorna tidak mempermasalahkan pelaksanaan tugas marshal

    Ketua IMI Moreno Soeprapto bersalaman dan berdialog dengan petugas marshal berseragam oranye di tepi sirkuit
    ilustrasi arahan kesiapan petugas marshal di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah (dok. ANTARA/Akhyar Rosidi)

    Dari informasi yang diterima, Dorna tidak mempermasalahkan pelaksanaan tugas Marshal dalam insiden tersebut. Menurutnya, setiap pihak telah menjalankan tanggung jawab sesuai dengan fungsi masing-masing.

    “Dari Dorna tidak ada masalah sebenarnya, karena semua melakukan tugasnya,” kata Priandhi.

    Dalam ajang balap sekelas MotoGP, prosedur operasional tidak hanya dibuat untuk memenuhi kebutuhan pembalap, tetapi juga untuk memastikan seluruh personel tetap berada pada posisi yang diperlukan. Keselamatan di lintasan bergantung pada koordinasi dan kepatuhan setiap pihak terhadap mekanisme yang telah ditetapkan.

    Di sisi lain, Priandhi mengungkapkan bahwa persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan mekanisme evakuasi, tetapi juga dengan sikap pembalap dalam menghormati dan mematuhi instruksi dari petugas lintasan. Menurut informasi, Steward Federation Internationale de Motocyclisme (FIM) turut memanggil Alex Rins untuk memberikan teguran terkait perilakunya yang kurang pantas dalam insiden tersebut.

    Priandhi menyebut pemanggilan itu berkaitan dengan gestur yang dinilai tidak sopan, yakni menunjukkan jari tengah kepada marshal, serta dugaan adanya sedikit kontak fisik dengan petugas tersebut. Langkah itu memperlihatkan bahwa interaksi antara pembalap dan petugas lintasan juga menjadi perhatian dalam penegakan disiplin di kejuaraan dunia balap motor.

    Marshal merupakan bagian sangat penting dari sistem keselamatan yang bekerja di lintasan, terutama ketika terjadi kecelakaan dan pembalap membutuhkan bantuan. Priandhi mengaitkan perhatian yang lebih ketat terhadap gestur pembalap dengan insiden sebelumnya yang melibatkan Marco Bezzecchi dan marshal pada Grand Prix Ceko beberapa bulan lalu.

    Pengalaman tersebut membuat perilaku pembalap terhadap petugas menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian lebih serius. Meski demikian, rincian mengenai bentuk sanksi atau keputusan resmi Steward FIM terhadap Alex Rins perlu merujuk pada keterangan resmi otoritas balap apabila telah dipublikasikan.

    Insiden Alex Rins menjadi pengingat bahwa penanganan kecelakaan dalam MotoGP melibatkan sistem operasional yang terstruktur. Perbedaan fungsi antara flying marshal dan moto taxi, keberadaan titik transit, serta kewajiban petugas untuk kembali ke pos merupakan bagian dari mekanisme yang perlu dipahami sebelum menarik kesimpulan.

    Keselamatan balapan merupakan tanggung jawab bersama. Pembalap membutuhkan bantuan ketika mengalami kecelakaan, sementara marshal harus menjalankan prosedur yang memastikan lintasan tetap aman bagi semua pihak. Keduanya membutuhkan koordinasi, komunikasi, dan sikap saling menghormati agar penyelenggaraan MotoGP dapat berlangsung dengan aman dan profesional.

    "Saya pribadi memberikan respek yang tinggi terhadap manajemen MGPA yang telah berhasil mendidik berbagai marsal melalui tim motorsport, sehingga mereka tahu mana yang benar, mana yang salah dan berani berkata tidak untuk sesuatu hal yang mereka rasa memang salah. Tim Motorsport MGPA aktif mengadakan pelatihan ulang sebelum ajang balap, dan ini adalah hasil karya didikan Management MGPA,"tandasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More