Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Viral Polisi Berlutut Memohon Warga di Manggarai NTT Tak Bentrok
Bhabinkamtibmas Desa Bula, Arkadius Modestus Arno, berlutut di antara dua kelompok warga di Manggarai yang akan berperang. (Dok Istimewa)
  • Sebuah video viral menunjukkan polisi Bhabinkamtibmas di Desa Bula, Manggarai, berlutut di tengah dua kelompok warga yang hampir bentrok di Jalan Trans Flores.
  • Aksi berlutut dan pendekatan persuasif polisi berhasil meredakan ketegangan antara kelompok Gendang Kaca dan Gendang Bung Leko tanpa terjadi pertumpahan darah.
  • Polda NTT menegaskan pentingnya pendekatan dialogis serta mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dan terus menjaga perdamaian di wilayah Manggarai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Seorang anggota polisi berlutut di tengah dua kelompok warga yang hampir bentrok di Desa Bula, Manggarai, NTT, untuk mencegah terjadinya perang tanding dan pertumpahan darah.
  • Who?
    Anggota Bhabinkamtibmas Desa Bula bernama Arkadius Modestus Arno bersama rekan-rekan polisi lainnya serta dua kelompok warga dari Gendang Kaca dan Gendang Bung Leko.
  • Where?
    Peristiwa terjadi di ruas Jalan Trans Flores, Desa Bula, Kecamatan Uteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
  • When?
    Kejadian berlangsung pada Senin pagi, 16 Maret 2026.
  • Why?
    Aksi dilakukan untuk mencegah bentrokan antara dua kelompok warga yang sudah saling berhadapan dan menegangkan situasi di lokasi kejadian.
  • How?
    Polisi berlutut sambil memohon agar massa menahan diri, sementara petugas lain memberikan imbauan persuasif hingga kedua kelompok akhirnya mundur tanpa terjadi kekerasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada dua kelompok orang di Manggarai yang hampir berkelahi di jalan. Mereka bawa parang dan tongkat, sudah marah sekali. Lalu ada Pak Polisi namanya Arkadius, dia berlutut dan minta semua orang jangan berkelahi. Polisi lain juga bantu menenangkan. Akhirnya orang-orang berhenti marah dan sekarang keadaan sudah tenang lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Tindakan spontan Arkadius Modestus Arno yang berlutut di tengah dua kelompok warga menunjukkan keberanian dan empati luar biasa dalam menjaga perdamaian. Pendekatan persuasif dan dialogis yang diterapkan aparat berhasil meredakan ketegangan tanpa kekerasan, menegaskan bahwa nilai kemanusiaan masih menjadi dasar kuat dalam penegakan hukum di Manggarai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Sebuah video viral di media sosial tentang aksi seorang anggota polisi berlutut di tengah dua kelompok warga yang nyaris melakukan perang tanding atau bentrok. Kejadian tersebut diketahui berlangsung di di Desa Bula, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin pagi (16/3/2026). Sementara polisi tersebut diketahui adalah seorang polisi Bhabinkamtibmas Desa Bula, Kecamatan Uteng, bernama Arkadius Modestus Arno.

Aksi spontan tersebut dilakukannya untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah antara dua kelompok masyarakat dari Gendang Kaca dan Gendang Bung Leko yang sudah saling berhadapan. Saat itu, ratusan warga dari dua kelompok berbeda berkumpul di Jalan Trans Flores yang menghubungkan Ruteng dengan Labuan Bajo.

1. Berlokasi di ruas jalan utama

Bhabinkamtibmas Desa Bula, Arkadius Modestus Arno, berlutut di antara dua kelompok warga di Manggarai yang akan berperang. (Dok Istimewa)

Peristiwa ini tersebar di sejumlah media sosial baik di Facebook, Instagram hingga di grup-grup WhatsApp. Video itu menampilkan massa dari kedua kelompok yang membawa berbagai senjata tradisional seperti parang, tongkat panjang yang diduga tombak, hingga batu.

Kedua massa yang nyaris bentrok ini membuat ruas Jalan Trans Flores yang biasanya menjadi jalur utama kendaraan antarwilayah berubah menjadi titik rawan konflik.

Dalam potongan video itu kedua massa sudah saling berhadapan dan sangat dekat dengan sambil menunjukkan senjata masing-masing. Para pria yang hendak bentrok ini tampak mengenakan atribut adat Manggarai seperti ikat kepala kain dan peci khas daerah setempat.

2. Kedua kelompok warga tak jadi berperang

Bhabinkamtibmas Desa Bula, Arkadius Modestus Arno, di antara dua kelompok warga di Manggarai yang akan berperang. (Dok Polres Manggarai)

Pada saat itu Arkadius langsung berlutut di antara kedua kelompok yang bersitegang sementara rekan polisinya yang lain menenangkan agar bentrokan itu tak terjadi. Aksinya di atas aspal menyita perhatian. Ia mengatupkan kedua tangan dan memohon kepada massa agar menahan diri dan tidak melakukan kekerasan.

Sementara anggota polisi lainnya terus memberikan imbauan kepada warga agar mundur dan tidak terpancing emosi. Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol. Henry Novika Chandra, membenarkan peristiwa ini. Ia mengatakan pendekatan persuasif dan dialogis dilakukan petugas di lapangan supaya dapat meredakan ketegangan yang sudah berada di titik kritis.

Aksi dari para personil ini pun membuahkan hasil. Massa dari kedua kelompok warga ini pun mulai menahan diri dan situasi yang sebelumnya sangat tegang berhasil dikendalikan tanpa terjadi bentrokan.

3. Warga diimbau agar tak mudah terprovokasi

Bhabinkamtibmas Desa Bula, Arkadius Modestus Arno, di antara dua kelompok warga di Manggarai yang akan berperang. (Dok Polres Manggarai)

Menurut dia, kehadiran aparat kepolisian di lokasi kejadian bertujuan menjaga keamanan serta melindungi seluruh masyarakat tanpa memihak kelompok tertentu.

“Dalam situasi yang berpotensi konflik, anggota kami di lapangan selalu mengedepankan pendekatan dialog dan kemanusiaan. Tujuannya mencegah terjadinya kekerasan dan memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memicu konflik. Pihaknya mengajak seluruh warga untuk menjaga persaudaraan serta kedamaian di wilayah Manggarai.

Peristiwa di Desa Bula ini menjadi pengingat bahwa di balik tugas penegakan hukum, aparat kepolisian juga berperan sebagai penjaga stabilitas sosial yang berupaya meredam konflik di tengah masyarakat. Pendekatan humanis yang ditunjukkan di lokasi kejadian dinilai mampu mencegah situasi berubah menjadi kekerasan terbuka.

Editorial Team