Viral Perundungan di Lotim, Orangtua Korban Dikeluarkan dari Grup Walmur

- Orangtua korban dikeluarkan dari grup wali murid setelah mengunggah kondisi anaknya di media sosial
- Kepala sekolah membantah adanya intimidasi dan menyebut kemungkinan kejadian di luar sekolah
- Korban jatuh dari bangku, masih dalam proses penyelidikan oleh psikolog untuk mengetahui kejadian sebenarnya
Lombok Timur, IDN Times ā Media sosial di Lombok Timur dihebohkan oleh unggahan pilu orangtua murid asal Kecamatan Peringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam unggahannya, ia menceritakan dugaan kasus perundungan yang dialami anaknya di lingkungan sekolah, yang memicu simpati sekaligus keprihatinan warganet. Orangtua korban juga mengaku dikeluarkan dari grup WhatsApp wali murid (walmur).
Tak hanya menanggung beban emosional akibat peristiwa tersebut, orangtua korban juga mengaku mendapat tekanan dari pihak sekolah setelah mengungkapkan kesedihan dan kekecewaannya di media sosial. Tekanan itu disebut muncul usai unggahan tersebut viral dan mendapat perhatian luas dari masyarakat.
1. Dikeluarkan dari grup wali murid

Supriadi, ayah dari MHA (7) yang tengah menjalani perawatan di RSUD Selong, mengaku dirinya dan sang istri justru mendapat perlakuan tidak menyenangkan setelah mengunggah kondisi anaknya di media sosial. Ia menyebut, istri dikeluarkan dari grup WhatsApp wali murid usai dirinya mengunggah kondisi MHA di Facebook.
"Wajar kan kita marah melihat anak terbaring sakit. Saya posting di Facebook, tapi setelah itu istri saya malah dikeluarkan dari grup WA. Rasanya seperti diintimidasi," kata Supriadi, Selasa (3/2/26).
Supriadi menjelaskan, unggahan tersebut dilakukan lantaran tidak adanya respons dari pihak sekolah meski beberapa hari telah berlalu sejak kejadian. Ia menegaskan, dalam unggahan itu tidak menyebut nama sekolah maupun oknum tertentu.
"Pihak sekolah malah datang dan menyatakan kecewa kepada saya. Padahal sebelumnya, saya yang menunggu respon dari mereka, tapi tidak ada. Saya sebagai ayah tentu kecewa berat," tuturnya.
2. Sekolah bantah ada intimidasi

Menanggapi klaim tersebut, Kepala Sekolah SDN setempat, Zainul, membantah adanya tindakan intimidasi dari pihak sekolah. Ia menegaskan bahwa sekolah telah mengambil langkah sejak pertama kali menerima kabar bahwa MHA mengalami sakit dan mengaku ditendang oleh temannya yang berinisial M.
"Begitu tahu, saya langsung menjenguk, membawa anak dan orangtua M ke klinik. M menyangkal telah memukul. Kami juga sudah melibatkan psikolog dari Puskesmas untuk melakukan screening terhadap kedua anak," jelas Zainul.
3. Korban jatuh dari bangku

Zainul menyampaikan bahwa berdasarkan informasi sementara, ada kemungkinan kejadiannya di luar sekolah. Ia juga menyebut ada keterangan dari teman sekelas yang melihat MHA jatuh dari bangku.
"Ketika saya tanyakan langsung ke MHA di rumah sakit, jawabannya juga jatuh dari bangku. Malik sendiri adalah teman baik dan sebangkunya. Kasus ini masih dalam proses penyelidikan mendalam oleh psikolog. Kami menunggu hasil screening yang komprehensif untuk mengetahui kejadian sebenarnya," pungkas Zainul.
Sementara itu, kondisi MHA masih mendapatkan perawatan intensif di RSUD dr. Raden Soedjono Selong akibat luka serius yang diduga akibat kekerasan.

















