Semana Santa Larantuka, Prosesi Laut hingga Darat yang Bertahan 5 Abad

- Semana Santa Larantuka telah berlangsung selama lima abad, memadukan budaya Lamaholot dan ajaran Katolik Portugis dengan prosesi darat dan laut yang diikuti ribuan peziarah setiap Pekan Suci Paskah.
- Basarnas Maumere menurunkan 13 personel lengkap dengan armada laut serta berkoordinasi dengan berbagai instansi untuk menjaga keamanan dan keselamatan selama prosesi laut berlangsung.
- Salah satu kapal peziarah sempat mati mesin akibat baling-baling terlilit sampah, namun berhasil diamankan Polairud Polda NTT tanpa korban, memastikan kegiatan tetap berjalan aman.
Kupang, IDN Times - Prosesi Semana Santa di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah bertahan selama 5 abad lamanya. Tradisi ini digelar dengan khidmat sejak dimulainya Pekan Suci Paskah dengan ribuan peziarah dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Umat Katolik bersama para peziarah akan mengiringi patung Tuan Ma (Bunda Maria) dan Tuan Ana (Yesus) menyusuri armida atau titik perhentian, dari Katedral Reinha Rosari hingga kembali ke gereja induk. Prosesi ini berlangsung pada Jumat Agung, (3/4/2026).
Prosesi Laut juga menjadi momen sakral yang ditunggu dalam rangkaian Semana Santa. Prosesi yang membelah Selat Gonzalu ini dengan perahu tradisional ini bertujuan mengantar patung Tuhan Yesus Tersalib.
1. Jejak misionaris Portugis

Ritual laut ini diikuti dengan khusyuk oleh seluruh umat dan peziarah diiringi doa, nyanyian rohani, dan penghormatan salib mengiringi jalannya perarakan. Suasana tetap khusyuk meskipun hujan sempat mengguyur Kota Larantuka.
Dalam data Kementerian Agama, Semana Santa merupakan warisan sejak abad ke-16 dengan mempertemukan budaya lokal Lamaholot dan ajaran Katolik yang dibawa misionaris Portugis.
Patung Bunda Maria atau Tuan Ma sendiri memiliki kisah yaitu temuan di pesisir Larantuka sekitar tahun 1510. Kemudian pengaruh Katolik semakin kuat saat Raja Larantuka, Olla Adobala, dibaptis pada 1645 dan menyerahkan kerajaan kepada Bunda Maria Reinha Rosari. Sejak saat itu, raja hanya bertindak sebagai wakil spiritual, sementara Maria diyakini sebagai ratu sejati.
Prosesi Semana Santa pun dimulai dan berlangsung secara rutin sejak 1736 dan tradisi ini bertahan terus sampai dengan saat ini.
Puncak Semana Santa adalah Jumat Agung (Sesta Vera), ketika ribuan lilin menyala di sepanjang kota, diiringi kidung dalam bahasa Latin dan Lamaholot.
2. Tim SAR siaga di titik-titik strategis

Untuk prosesi laut tahun ini pun Basarnas Maumere menurunkan Tim SAR pada titik-titik strategis seperti jalur prosesi, gereja, hingga kawasan pesisir. Basarnas Maumere sendiri menurunkan 13 personel lengkap dengan armada laut seperti rigid inflatable boat (RIB) dan rubber boat yang berkoordinasi dengan TNI AL, Polairud, BPBD, PMI, dan KSOP, serta mendirikan posko darurat untuk respons cepat jika terjadi insiden.
Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, mengatakan tim disiagakan untuk mengantisipasi potensi risiko, terutama di jalur laut. Ia menyiagakan personel terlatih dalam pertolongan darurat di air, evakuasi medis, dan penanganan kecelakaan agar seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman.
"Besarnya jumlah peziarah membuat pengamanan dilakukan secara maksimal. Selain itu, edukasi keselamatan juga diberikan kepada peziarah, mulai dari menjaga jarak di kerumunan hingga mematuhi rambu peringatan," tukasnya, Jumat (3/4/2026).
3. Baling-baling satu kapal sempat rusak

Pada prosesi laut ini sempat terjadi peristiwa tak diinginkan yang mana salah satu kapal mengalami mati mesin di tengah arus laut yang cukup kuat. Direktorat Polairud Polda NTT langsung melakukan langkah cepat dengan mengamankan kapal bernama KM Putra Lelaona tersebut di tengah padatnya aktivitas laut.
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra menyampaikan kapal ini mengangkut 96 peziarah dan mengalami kendala teknis akibat baling-baling terlilit sampah.
"Jika dibiarkan, kondisi itu berisiko dan segera ditangani, ini bisa membahayakan seluruh penumpang,” kata dia.
Petugas kemudian melakukan pengawalan ketat hingga kapal tiba di Pelabuhan Larantuka. Setelahnya penyebab kerusakan itu dibersihkan dan seluruh penumpang berhasil turun dengan selamat.
Kabidhumas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, menegaskan pengamanan Semana Santa menjadi prioritas dengan target zero accident.
“Polri hadir untuk memastikan umat dapat beribadah dengan aman dan nyaman,” ujarnya.


















