Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pendaki Tinggalkan 43,25 Ton Sampah di Gunung Rinjani selama 2024
Kegiatan clean up di Gunung Rinjani pada Desember 2024. (dok. TNGR)

Mataram, IDN Times - Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) mencatat sebanyak 43,25 ton sampah yang dihasilkan dari aktivitas pendakian dan non pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani pada 2024. Kepala Balai TNGR Yarman, Jumat (3/1/2025) menyebutkan aktivitas pendakian di Gunung Rinjani selama 2024 menghasilkan sampah sebanyak 40,8 ton lebih.

Sedangkan aktivitas non pendakian menghasilkan sampah sebanyak 2,44 ton lebih. Sampah yang dihasilkan dari aktivitas pendakian dan non pendakian di Gunung Rinjani didominasi sampah anorganik berupa plastik, kaleng, botol kaca, botol plastik dan kertas atau tisu.

1. Mayoritas pendaki cerdas

Gunung Rinjani Lombok, NTB. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Dia menjelaskan 40,8 ton sampah yang dihasilkan dari aktivitas pendakian terdiri dari sampah organik 2,59 ton lebih dan anorganik sebanyak 38,21 ton lebih. Dirincikan untuk sampah anorganik sebanyak 38,21 ton terdiri dari plastik 20,48 ton, kaleng 3,7 ton, botol kaca 724,54 kg, botol plastik 5,32 ton, kertas atau tisu 7,97 ton.

Dari total sampah yang dihasilkan dari aktivitas pendakian, mayoritas merupakan pendaki cerdas. Yarman menyebutkan sekitar 97,64 persen atau 39,84 ton sampah dari aktivitas pendakian dibawa turun oleh pendaki atau pack in pack out. Sedangkan sebanyak 2,36 persen atau 964,3 kg dibuang sembarangan berdasarkan hasil clean up yang dilakukan Balai TNGR.

2. Aktivitas non-pendakian di Gunung Rinjani hasilkan 2,44 ton sampah

ilustrasi gunung Rinjani (pexels.com/ Roman Odintsov)

Sementara, aktivitas non pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani menghasilkan sampah sebanyak 2,44 ton pada 2024. Terdiri dari sampah organik 494,2 kg dan anorganik sebanyak 1,95 ton.

Dia merincikan untuk sampah anorganik sebanyak 1,95 ton terdiri dari plastik 938,3 kg, kaleng 80,3 kg, botol kaca 90,1 kg, botol plastik 745,8 kg, kertas atau tisu 98 kg. Sampah yang dihasilkan dari aktivitas non-pendakian Gunung Rinjani paling banyak di bulan September dan Oktober 2024. Masing-masing sebanyak 392 kg dan 402 kg.

3. Pendaki dilarang bawa plastik mulai 2025

Ilustrasi minum air pakai gelas plastik (freepik.com/jcomp)

Kepala Dinas Pariwisata NTB Jamaluddin Maladi mengatakan sampah masih menjadi persoalan di Gunung Rinjani. Untuk itu, mulai 2025, pendaki dilarang membawa plastik ke Gunung Rinjani. Untuk air minum, pendaki harus menggunakan tumbler, sedangkan untuk makanan harus menggunakan tupperware.

"Mulai 2025, semua orang yang naik ke Gunung Rinjani tak boleh lagi membawa botol plastik air mineral, tidak boleh lagi membawa plastik mi instan. Jadi nanti pendaki wajib membawa air menggunakan tumbler. Semua makanan plastik dibuka dimasukkan ke tupperware," kata Jamaluddin di Mataram, Jumat (3/1/2025).

Jamaluddin menjelaskan pihaknya sudah mengumpulkan pelaku industri pariwisata di Sembalun, Lombok Timur terkait dengan penetapan kebijakan ini. Para pelaku industri pariwisata seperti hotel, restoran dan kafe-kafe di Sembalun akan menyiapkan tumbler dan tupperware dan boleh menaruh QR Code untuk promosi usahanya.

"Nanti setiap pendaki wajib membeli itu baru bisa naik Gunung Rinjani. Harganya didiskon 50 persen. Misalnya harga tumbler Rp50 ribu, mereka cuma beli Rp25 ribu," terangnya.

Editorial Team