Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kepala Disperindag NTB Lalu Wiranata. (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • Pemerintah Pusat mengizinkan NTB mengekspor beras ke Timor Leste, dengan cadangan dinilai aman untuk kebutuhan masyarakat hingga dua tahun.
  • Timor Leste membutuhkan belasan hingga puluhan ribu ton beras NTB, tetapi pengiriman belum terealisasi karena kendala angkutan dan biaya logistik tinggi.
  • Produksi padi NTB 2026 diperkirakan mencapai 1,73 juta ton GKG, naik 1,08 persen, didorong perluasan area panen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mataram, IDN Times - Pemerintah Pusat memberikan lampu hijau kepada provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk melakukan ekspor beras ke Timor Leste. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, Lalu Wiranata mengatakan ketersediaan cadangan beras dipastikan aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga dua tahun ke depan.

Wiranata menyebutkan Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis angka sementara produksi padi di NTB pada 2026 sebanyak 1,73 juta ton gabah kering giling (GKG). Dengan produksi padi sebanyak itu, NTB mengalami surplus beras pada 2026.

"Ini yang minta beras Timor Leste tapi belum bisa kita penuhi, alasannya karena angkutan. Saya sudah lapor ke sana (pemerintah pusat), angkutan yang jadi kendala," kata Wiranata di Mataram, Kamis (5/11/2026).

1. Timor Leste butuh hingga puluhan ribu ton beras NTB

TPID NTB mengecek ketersediaan beras jelang Ramadan 1447 Hijriah di Gudang Bulog Dasan Cermen Kota Mataram, Rabu (21/1/2026). (dok. Istimewa)

Dia menyebut, Timor Leste membutuhkan belasan ribu hingga puluhan ribu ton beras dari NTB. Namun, karena masih terkendala masalah angkutan, ekspor beras NTB ke Timor Leste belum bisa dilakukan.

Pasokan beras tersebut rencananya akan dilakukan para pengusaha lokal dan masyarakat NTB yang saat ini mengalami surplus hasil panen. "Pasokan beras dari pengusaha dan masyarakat. Karena produksinya banyak. Saat ini, baru beras saja yang dia diminta," terangnya.

2. Biaya logistik tinggi masih jadi kendala

Pedagang beras menunggu pembeli di Pasar Sindu, Cakranegara, Kota Mataram, Kamis (8/11/2022). Harga beras mulai naik sejak awal Desember 2022. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Meskipun telah mendapatkan lampu hijau untuk mengekspor beras ke Timor Leste, kata Wiranata, namun realisasinya masih menemui kendala terkait angkutan logistik. Kendala utama saat ini terletak pada mahalnya biaya transportasi serta efisiensi rute pengiriman.

Selama ini, skema logistik yang ada mengharuskan komoditas dari NTB dikirim terlebih dahulu ke Surabaya sebelum akhirnya diberangkatkan ke luar negeri. Hal ini menyebabkan biaya logistik menjadi lebih mahal.

"Terlalu mahal biayanya karena harus dibawa ke Surabaya dulu. Mereka (Timor Leste) maunya terima di sana," kata dia.

3. Gambaran produksi padi NTB tahun 2026

Ilustrasi beras di tempat penggilingan gabah. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi padi NTB pada 2026 mencapai 1,73 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Produksi padi NTB 2026 mengalami peningkatan sebanyak 18,52 ribu ton atau 1,08 persen dibandingkan produksi padi pada 2025 sebanyak 1,71 juta ton GKG.

Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan peningkatan produksi padi NTB pada 2026 dipengaruhi peningkatan luas panen. Luas panen padi pada 2026 diperkirakan mencapai 326,67 ribu hektare, mengalami peningkatan sebesar 3,77 ribu hektare atau 1,17 persen dibandingkan luas panen padi di 2025 yaitu sebesar 322,90 ribu hektare.

"Produksi padi di NTB tahun 2026 diperkirakan mengalami peningkatan 1,08 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh meningkatnya luas panen padi sebesar 3,77 ribu hektar dimana peningkatan luas panen terjadi pada subround 1 2026," kata Wahyudin.

Produksi beras NTB pada 2026 untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan mencapai 983,69 ribu ton. Wahyudin menjelaskan produksi beras mengalami peningkatan sebanyak 10,55 ribu ton atau 1,08 persen dibandingkan produksi beras pada 2025 yaitu sebanyak 973,14 ribu ton.

Curated For You

Editorial Team

Related Article