Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kadis Pertanian Minta Warga NTB Kurangi Konsumsi Beras

Kota Mataram
4 min read
Kadis Pertanian Minta Warga NTB Kurangi Konsumsi Beras
Ilustrasi beras di gudang Bulog NTB. (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • Produksi padi NTB 2026 diperkirakan mencapai 1,73 juta ton GKG, naik 1,08 persen dari 2025, didorong kenaikan luas panen menjadi 326,67 ribu hektare.
  • DPKP NTB meminta warga mengurangi konsumsi beras yang mencapai 103 kilogram per kapita per tahun, melampaui rata-rata nasional, melalui edukasi diversifikasi pangan.
  • El Nino berdampak kecil dengan puso sekitar 2,5 hektare; adaptasi komoditas menjaga produksi, sementara perlindungan lahan pertanian dinilai penting untuk ketahanan hingga 25 tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mataram, IDN Times - Produksi padi di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2026 diperkirakan mencapai 1,73 juta ton gabah kering giling (GKG). Produksi padi NTB 2026 mengalami peningkatan sebanyak 18,52 ribu ton atau 1,08 persen dibandingkan tahun 2025 yakni sebanyak 1,71 juta ton GKG.

Meski panen padi di NTB melimpah, namun masyarakat justru diminta mengurangi konsumsi beras. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, konsumsi beras masyarakat NTB per kapita per tahun cukup tinggi.

Pada 2025, konsumsi beras masyarakat NTB mencapai 103 kilogram per kapita per tahun. Konsumsi beras masyarakat NTB berada di atas rata-rata nasional yang berada di bawah 100 kilogram per kapita per tahun.

"Masyarakat perlu mengurangi konsumsi beras, jumlah volumenya yang perlu dikurangi. Terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat kita ini. Masyarakat perlu diverifikasi pangan," kata Mirza dikonfirmasi di Mataram, Selasa (3/11/2026).

  1. 1. Perlu edukasi kepada masyarakat

    motion_photo_1449926267635644810.jpg
    Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Lalu Mirza Amir Hamzah. (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Mirza mengatakan terlalu banyak mengonsumsi beras tidak bagus untuk kesehatan. Untuk itu, dia berharap rata-rata konsumsi beras masyarakat NTB dapat diturunkan menjadi di bawah 100 kilogram per kapita per tahun.

    Menurutnya, perlu ada edukasi kepada masyarakat agar bisa mengurangi konsumsi beras. Karena ada pandangan di masyarakat bahwa jika belum mengonsumsi nasi dianggap belum makan.

    "Kalau bisa di bawah 100 kilogram per kapita per tahun konsumsi beras itu bagus. Sekarang kita masih di atas 100 kilogram per kapita per tahun. Tambah kecil konsumsi beras, tambah bagus. Itu yang perlu edukasi ke masyarakat," kata dia.

  2. 2. Produksi padi NTB bisa aman sampai 25 tahun jika alih fungsi lahan dapat dicegah

    IMG_20250721_115748_629.jpg
    Ilustrasi beras kemasan dan minyak goreng. (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Mirza menambahkan, produksi padi di NTB aman sampai 25 tahun ke depan apabila alih fungsi lahan pertanian dapat dicegah. Saat ini, luas lahan baku sawah (LBS) di NTB sebanyak 237 ribu hektare.

    Dalam revisi RTRW NTB, luas Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) ditetapkan minimal 80 persen dari luas LBS.

    "Sekarang mau direvisi minimal 80 persen dari LBS tadi ditetapkan menjadi LP2B. Minimal 80 persen sedang berproses di Kementerian ATR. Apalagi bisa mempertahankan tidak terjadi alih fungsi lahan, produksi padi aman sampai 25 tahun," sebutnya.

  3. 3. Produksi padi NTB meningkat meski ada El Nino

    IMG-20260427-WA0070.jpg
    Petani sedang membersihkan rumput di tanaman padi. (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Meski pada tahun ini ada fenomena El Nino, kata dia, produksi padi NTB tetap meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Mirza menjelaskan El Nino tetap berpengaruh terhadap produksi padi di NTB namun dampaknya sangat kecil.

    Pihaknya mencatat lahan pertanian yang mengalami puso atau gagal panen sekitar 2,5 hektare. Sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi padi tahun 2026.

    "El Nino ini tetap berpengaruh cuma ada upaya-upaya yang kita lakukan. Kita tahu El Nino itu musim kering tapi lahan-lahan pertanian didorong pertanaman sesuai dengan kondisi air. Kemudian lahan yang kurang air didorong untuk komoditi hortikultura, cabai, tembakau, jagung. Jadi, ada adaptasi komoditi terhadap perubahan iklim," terangnya.

    Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi padi NTB pada 2026 mencapai 1,73 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Produksi padi NTB 2026 mengalami peningkatan sebanyak 18,52 ribu ton atau 1,08 persen dibandingkan produksi padi pada 2025 sebanyak 1,71 juta ton GKG.

    Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan peningkatan produksi padi NTB pada 2026 dipengaruhi peningkatan luas panen. Luas panen padi pada 2026 diperkirakan mencapai 326,67 ribu hektare, mengalami peningkatan sebesar 3,77 ribu hektare atau 1,17 persen dibandingkan luas panen padi di 2025 yaitu sebesar 322,90 ribu hektare.

    "Produksi padi di NTB tahun 2026 diperkirakan mengalami peningkatan 1,08 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh meningkatnya luas panen padi sebesar 3,77 ribu hektar dimana peningkatan luas panen terjadi pada subround 1 2026," kata Wahyudin di Mataram, Senin (2/11/2026).

    Dia menyebut, produksi beras NTB pada 2026 untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan mencapai 983,69 ribu ton. Produksi beras mengalami peningkatan sebanyak 10,55 ribu ton atau 1,08 persen dibandingkan produksi beras pada 2025 yaitu sebanyak 973,14 ribu ton.

    Wahyudin menjelaskan El Nino berdampak pada luas panen padi NTB di subround 2 dan 3 yang terjadi sejak pertengahan tahun hingga akhir Oktober 2026. Meski demikian, secara kumulatif, peningkatan luas panen pada subround 1 mampu mengimbangi penurunan luas panen pada subround 2 dan 3. Sehingga produksi padi NTB tahun 2026 secara keseluruhan diperkirakan tetap meningkat.

Related Articles

See More