Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pemda Bima Target Produksi 521 Ribu Ton Jagung pada Tahun 2024

Pemda Bima Target Produksi 521 Ribu Ton Jagung pada Tahun 2024
Foto seorang petani sedang panen jagung di wilayah Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), (IDN Times/Juliadin)

Bima, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menargetkan produksi jagung di tahun 2024 nanti sebanyak 521.820 ton. Target ini dari luas lahan tanam sebanyak 125.890 hektare, terdiri dari lahan sawah 41.101 hektare dan tegalan 84.879 hektare.

"Dari total luas lahan itu, gak dipakai semua untuk tanam jagung, tapi juga untuk padi. Cuma sebagian besar untuk tanam jagung," kata Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertanbun) Kabupaten Bima, Chairul Munir dikonfirmasi Kamis (14/12/2023).

1. Optimistis capai target

Foto Kabid Tanaman Pangan Dispertanbun Kabupaten Bima, Chairul Munir (IDN Times/Juliadin)
Foto Kabid Tanaman Pangan Dispertanbun Kabupaten Bima, Chairul Munir (IDN Times/Juliadin)

Chairul, sapaan karib Kabid Ketahanan Pangan Dispertanbun Bima ini mengaku optimistis bakal mencapai target tersebut. berbeda dengan jenis tanaman lain seperti padi dan kedelai.

"Masih normal kalau target pada angka itu, pokoknya optimistis bakal tercapai," terangnya.

Ia tidak berani pasang target lebih dari angka tersebut, karena dikhawatirkan para petani akan merambah hutan rakyat. Tindakan itu selain pelanggaran, juga dampaknya dapat meningkatkan potensi banjir menerjang pemukiman warga.

"Yang kita khawatirkan banyak target, kemudian petani rambah hutan rakyat," terangnya.

2. Hasil jagung menjajikan

ilustrasi uang bikin bahagia (pexels.com/Karolina Grabowska)
ilustrasi uang bikin bahagia (pexels.com/Karolina Grabowska)

Chairul mengatakan, tanaman jagung masih jadi primadona bagi petani di Kabupaten Bima saat ini. Animo mereka dari tahun ke tahun terus meningkat, karena proses pemasaran jagung dinilai cepat dan tidak menyulitkan petani.

"Pemasaranya gampang. Para pedagang langsung ke gunung-gunung membeli jagung. Baru hasilnya juga dianggap menjajikan," katanya.

Kondisi berbeda jika petani menanam padi dan kedelai. Proses produksinya dinilai lambat, begitu juga saat mereka pasarkan hasil panen.

"Pemasaran padi dan kedelai agak sulit dibanding jagung," jelasnya.

3. Gak optimistis capai target produksi gabah

Petani memanen padi di area persawahan saat musim kemarau. (IDN Times/Dhana Kencana)
Petani memanen padi di area persawahan saat musim kemarau. (IDN Times/Dhana Kencana)

Tidak heran, jika keberadaan petani padi dan kedelai makin berkurang semenjak jagung booming di Kabupaten Bima. Kondisi itu membuat Dispertanbun merasa pesimis untuk mencapai target produksi dua tanaman tersebut.

"Khusus untuk padi (gabah), produksi di tahun 2024 nanti sebanyak 346.954 ton. Kita gak optimistis akan capai target itu, karena sekarang petani kita banyak yang beralih ke jagung," katanya.

Terlebih yang terjadi pada beberapa tahun sebelumnya, capaian produksi gabah tidak sesuai dengan yang ditargetkan. Padahal, hal tersebut menyangkut kebutuhan pokok dan ketahanan pangan di daerah.

Sebagai informasi, sejak tanaman jagung booming di wilayah Bima dalam beberapa tahun terkahir ini, banjir bandang kerap menerjang pemukiman warga. Ribuan Kepala Keluarga (KK) terdampak, terutama mereka yang menempati wilayah di sekitar bantaran sungai.

Korban banjir juga mendapatkan bantuan dari pusat. Melalui Kementerian PUPR, korban banjir dibangunkan 185 hunian rumah relokasi banjir di Desa Tambe Kecamatan Bolo.

"Bukan lagi rahasia umum, kalau banjir di Bima dipicu perambahan hutan untuk perluasan area tanaman jagung," kata Kepala BPBD Kabupaten Bima, Isyra pada IDN Times belum lama ini.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Juliadin JD
Linggauni -
Juliadin JD
EditorJuliadin JD
Follow Us

Latest News NTB

See More

23 Penumpang KM Hinaya Terombang Ambing di Perairan Labuan Bajo

13 Mei 2026, 19:21 WIBNews