Pemerintah Akan Buat Alat Pengolah Sampah Senilai Rp37 Miliar di NTB

Mataram, IDN Times – Persoalan sampah di Provinsi Nusa Tenggara Barat masih belum terelesaikan. Bahkan di Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok, volume sampah sudah mencapai satu juta meter kubik. Sehingga Pemerintah akan membuatkan tempat dan alat pengolahan sampah senilai Rp37 Miliar untuk Provinsi NTB.
Mesin refused derived fuel (RDF) merupakan salah satu teknik pengolahan sampah dengan mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat yaitu bahan bakar. Selain bahan bakar, sampah di NTB juga akan diolah menjadi batu bata.
Diketahui bahwa saat ini proyek RDF sedang dalam masa lelang. Sehingga pembangunannya akan dilakukan dalam waktu dekat.
1.RDF jadi solusi jangka panjang pengolahan sampah

Penggunaan RDF ini merupakan salah satu solusi jangka panjang untuk menangani sampah di NTB. Sebab RDF merupakan teknologi pengolahan sampah dengan cara biodrying
Teknologi RDF ini dapat mengolah sampah menjadi kompos hingga pellet co firing batubara. Ini nantinya akan menyuplai bahan bakar di PLTU Jeranjang.
“Pengembangan TPAR Kebon Kongok akan dibantu oleh Kementerian PUPR. Selain dari proyek pembangunan landfill, ada dua proyek lain yang akan diintervensi kementerian. Salah satunya adalah RDF,” ujar Kasi Operasional UPTD Kebun Kongok Ida Bagus Gede.
2.Dibangun dia atas lahan seluas 60 are

RDF untuk pengolahan sampah itu akan dibangun di atas lahan seluas 60 are. Mesin ini diharapakan mampu mengurangi volume sampah yang sudah menggunung di TPAR Kebon Kongok.
Sejauh ini belum ada rencana Pemprov NTB untuk membuat TPA baru. Harapannya melalui proyek RDF ini, Pemprov tidak perlu lagi membuka TPA baru karena Sebagian sampah dapat diolah. Sampah-sampah itu nantinya akan menjadi bahan bakar dan batu bata untuk pembangunan.
3.Sudah tak ideal buang sampah di TPAR Kebon Kongok

Sejak tanggal 1 November 2021 lalu, TPAR ini sudah dalam kondisi penuh. Kondisinya sudah tidak dapat lagi menampung sampah yang yang dating dari Kota Mataram maupun Lombok Barat.
Ketinggian sampah sudah mencapai 40 meter dengan volume sebanyak satu juta meter kubik. Ini merupakan volume terbanyak yang dapat ditambung oleh TPAR yang sudah beroperasi sejak tahun 1994 itu.
Sementara ini, sampah yang dating dari dua daerah itu dibuang di jalur akses. Namun jalur akses itu juga diperkirakan hanya mampu menampung sampah hingga 31 November mendatang.
”Sudah penuh sejak 1 November. Semoga di sana bisa bertahan sampai 31 Desember. Saat ini kita sedang mencari jalan keluar,” ujarnya.



















