Comscore Tracker

Kurikulum Merdeka Belajar Siap Diterapkan di Kota Mataram

Lebih fokus pada minat dan bakat siswa

Mataram, IDN Times - Dinas Pendidikan Kota Mataram, Provinsi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan siap melaksanakan Kurikulum Merdeka Belajar. Tujuannya untuk memitigasi ketertinggalan pembelajaran pada masa pandemi COVID-19 secara efektif.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram Lalu Fatwir Uzali di Mataram, Jumat, mengatakan untuk melaksanakan kurikulum itu, Disdik berkolaborasi dengan semua pihak, antara lain Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP), Balai Guru Penggerak, dan perguruan tinggi.

"Semua kepala sekolah harus memahami bagaimana Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) kepada guru dan siswa," katanya seperti dilansir dari Antara, Sabtu (2/7/2022).

1. Menitikberatkan minat dan bakat

Kurikulum Merdeka Belajar Siap Diterapkan di Kota MataramIlustrasi (IDN Times/Gregorius Aryodamar P)

Oleh karena itu, kepala sekolah harus mampu mengurai masalah-masalah di sekolah agar para guru dapat melaksanakan konsep IKM sesuai dengan target, yakni terobosan pendidikan yang menitikberatkan pada minat dan bakat siswa dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam.

"Alhamdulillah, untuk kesiapan infrastruktur, guru, siswa, dan lainnya sudah oke. Tinggal bagaimana mekanisme IKM," katanya.

Untuk mengoptimalkan IKM, Disdik mendorong para guru agar menjadi guru penggerak dengan mendaftarkan diri melalui aplikasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Baca Juga: Pengusaha NTB Ekspor Mete Senilai Rp200 Miliar ke Luar Negeri

2. Lebih leluasa berinovasi

Kurikulum Merdeka Belajar Siap Diterapkan di Kota MataramIlustrasi Pelajar. (IDN Times/Mardya Shakti)

Dengan menjadi guru penggerak, kata dia, mereka diberikan keleluasaan berkreativitas dan berinovasi agar mampu menciptakan konsep pembelajaran yang tepat dan efektif.
Hingga saat ini, jumlah guru penggerak di Kota Mataram masih relatif minim, yakni 30 orang dari sekitar 3.000 guru yang ada.

"Tapi sekarang sudah lebih dari 100 guru yang mendaftar menjadi guru penggerak," katanya.

3. Kepala sekolah muda

Kurikulum Merdeka Belajar Siap Diterapkan di Kota MataramIlustrasi kegiatan belajar mengajar siswa SMA (IDN Times/Ervan Masbanjar)

Dia mengatakan bahwa nilai plus seorang guru penggerak bisa dikatakan sebagai calon kepala karena tahapan, seleksi, dan asesmen yang dilakukan ketat.

Dengan demikian, ke depan dihasilkan para kepala sekolah yang memiliki kapabilitas tinggi, masih energik, dan masih muda dengan masa pensiun lebih dari 10 tahun.

"Ke depan, seorang kepala sekolah tidak hanya dilihat dari senior atau pangkat tinggi," katanya.

Baca Juga: Wapres Serahkan Bansos Rp458 Miliar untuk Warga Miskin di NTB 

Topic:

  • Linggauni

Berita Terkini Lainnya