Kepala UPP Kelas II Pemenang Heru Supriyadi (Dok. Istimewa)
Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Pemenang Lombok Utara Heru Supriyadi mengatakan, peristiwa kapal pengangkut wisatawan yang macet di Selat Lombok pada 4 Juni lalu, bukan kecelakaan laut. Tetapi kapal itu hanya mengalami gangguan mesin.
"Kapal berangkat dari Pelabuhan Benoa Bali menuju Labuan Bajo. Cuma ada alat seperti injeksinya gangguan sehingga mati mesin. Ada sparepart kecil busi kalau di sepeda motor. Itu diganti terus kapal berangkat lagi," tuturnya.
Sementara ini, Heru mengaku membatasi operasional kapal cepat yang mengangkut wisatawan ke perairan laut NTB, seperti kawasan tiga Gili. Termasuk pengawasan ketat terhadap kelayakan operasional kapal.
"Untuk public boat yang beroperasi di tiga gili, untuk berangkat kami terbitkan olah gerak. Di mana olah gerak kapal kami juga periksa kelengkapan keselamatannya. Kalau tidak lengkap kami tidak akan terbitkan olah gerak dan kami batasi operasional sampai pukul 17.00 Wita, tidak ada penyeberangan lagi," terangnya.
Kaitan dengan safety atau keamanan pelayaran, Heru menyebut semua operator kapal cepat telah menyiapkan. Karena operator kapal cepat telah terorganisir dengan membentuk koperasi. Namun ada penyedia jasa kapal cepat pribadi yang di luar pengawasan Syahbandar Pemenang yang tidak menyiapkan jaket pelampung untuk penumpang.
Heru menyebutkan jumlah trip kapal cepat dari Bali ke tiga gili sebelum pandemik COVID-19 sampai 35 trip setiap hari. Namun setelah pandemik, turun drastis. Saat ini baru ada 8 sampai 9 trip sehari.
Sedangkan layanan kapal cepat atau public boat dari Pelabuhan Bangsal Pemenang menuju kawasan tiga gili dilayani setiap hari.