Kenapa Jumlah Like di Media Sosial Bisa Pengaruhi Mood?

- Like sebagai bentuk validasi sosial
- Ketika validasi yang diharapkan tidak datang, otak meresponsnya sebagai penolakan sosial kecil.
- Perbandingan sosial yang terjadi tanpa disadari
- Saat melihat unggahan orang lain mendapat lebih banyak respons, pikiran mulai membandingkan nilai diri secara tidak sadar.
Di era digital, sebuah tombol kecil bernama like memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari yang kita sadari. Banyak orang merasa senang saat unggahannya mendapat banyak like, dan sebaliknya merasa kecewa atau tidak berharga ketika respons yang datang tidak sesuai harapan. Mood bisa berubah hanya karena angka di layar ponsel, seolah emosi kita ikut bergantung pada reaksi orang lain.
Fenomena ini bukan tanda kelemahan pribadi, melainkan respons psikologis yang sangat manusiawi. Otak kita dirancang untuk merespons penerimaan sosial, dan media sosial memanfaatkan mekanisme tersebut dengan sangat efektif. Like menjadi simbol pengakuan, keterhubungan, dan validasi yang secara halus memengaruhi perasaan kita sehari-hari.
Berikut alasan kenapa like di media sosial bisa mempengaruhi mood.
1. Like sebagai bentuk validasi sosial

Secara psikologis, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk diterima dan diakui. Like di media sosial berfungsi sebagai bentuk validasi sosial modern yang cepat dan mudah diakses. Ketika seseorang mendapat like, otak menafsirkannya sebagai tanda bahwa dirinya dilihat dan diterima.
Respons ini memicu pelepasan dopamin, zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Dopamin inilah yang membuat kita merasa bahagia, puas, dan ingin mengulangi perilaku yang sama, seperti kembali mengunggah konten.
Sebaliknya, ketika validasi yang diharapkan tidak datang, otak meresponsnya sebagai penolakan sosial kecil. Walau tampak sepele, perasaan ini cukup kuat untuk memengaruhi mood, terutama pada individu yang sedang rentan secara emosional.
2. Perbandingan sosial yang terjadi tanpa disadari

Media sosial menciptakan ruang perbandingan yang hampir tak terhindarkan. Kita tidak hanya melihat like milik sendiri, tetapi juga milik orang lain. Saat melihat unggahan orang lain mendapat lebih banyak respons, pikiran mulai membandingkan nilai diri secara tidak sadar.
Perbandingan ini sering kali tidak adil, karena kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan versi terbaik orang lain. Namun otak emosional tidak selalu mampu membedakan realitas dan representasi digital.
Akibatnya, mood bisa menurun bukan karena hidup kita buruk, tetapi karena kita merasa kurang dihargai dibandingkan orang lain. Like menjadi alat ukur semu tentang nilai diri.
3. Ketergantungan emosional pada respons orang lain

Ketika seseorang mulai mengaitkan kebahagiaan dengan jumlah like, terbentuklah ketergantungan emosional. Mood naik turun mengikuti respons audiens, bukan lagi berdasarkan kondisi internal atau pengalaman nyata.
Secara psikologis, hal ini membuat kontrol emosi berpindah ke luar diri. Kita menjadi lebih reaktif dan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang sebenarnya tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan.
Ketergantungan ini berisiko menurunkan kepercayaan diri, karena nilai diri ditentukan oleh angka dan reaksi orang lain, bukan oleh pemahaman dan penerimaan diri sendiri.
4. Ketakutan akan tidak dianggap dan diabaikan

Like juga berkaitan erat dengan rasa takut tidak dianggap. Saat unggahan sepi respons, muncul perasaan diabaikan, tidak menarik, atau tidak cukup penting. Rasa ini bisa memicu kecemasan sosial, terutama pada remaja dan dewasa muda.
Secara emosional, otak memperlakukan pengabaian digital mirip dengan pengabaian nyata. Meskipun tidak ada penolakan langsung, ketiadaan respons tetap ditafsirkan sebagai sinyal sosial negatif.
Ketakutan ini membuat banyak orang menjadi terlalu berhati-hati dalam mengekspresikan diri, hanya membagikan hal-hal yang dianggap “aman” demi mendapatkan penerimaan.
5. Algoritma media sosial memperkuat pola emosional

Tanpa disadari, algoritma media sosial dirancang untuk memperkuat keterikatan emosional pengguna. Konten yang mendapat banyak like akan lebih sering ditampilkan, sementara yang sepi respons cenderung tenggelam.
Pola ini membuat pengguna semakin fokus pada performa unggahan, bukan pada makna berbagi itu sendiri. Mood pun semakin bergantung pada sistem yang tidak selalu adil atau konsisten. Dalam jangka panjang, algoritma dapat memperkuat kecemasan, kebutuhan akan validasi, dan perasaan tidak cukup, jika tidak disadari dan dikelola dengan sehat.
Like di media sosial memengaruhi mood karena ia menyentuh kebutuhan manusia yang paling dasar: diterima dan dihargai. Masalah muncul ketika nilai diri sepenuhnya digantungkan pada respons digital. Dengan menyadari mekanisme psikologis di baliknya, kita bisa mulai menggunakan media sosial dengan lebih sadar, tanpa membiarkan angka kecil di layar menentukan besar kecilnya harga diri kita.
Itulah alasan kenapa like di media sosial bisa mempengaruhi mood.


















