Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kasus Kematian Kepala BPBD Belu NTT Masih Misterius
ilustrasi mayat (freepik.com/kichigin)
  • Kematian Kepala BPBD Belu, Frans Asten, masih misterius setelah ditemukan di jurang Sabanese sekitar 17 km dari rumahnya dua hari usai pamit membeli rokok.
  • Keluarga menilai ada banyak kejanggalan seperti barang korban yang hilang, hasil autopsi menunjukkan benturan benda tumpul, serta belum puas dengan perkembangan penyelidikan polisi.
  • Polisi telah memeriksa 16 saksi dan memperkuat bukti digital dengan pendekatan Scientific Crime Investigation, sementara Polda NTT menjamin transparansi dan keterbukaan proses kepada keluarga korban.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kematian Kepala BPBD Belu, Fransiskus Xaverius Asten, ditemukan di jurang Sabanese dan hingga kini masih menjadi misteri karena sejumlah kejanggalan dalam hasil penyelidikan serta barang pribadi korban yang belum ditemukan.
  • Who?
    Korban adalah Fransiskus Xaverius Asten, Kepala BPBD Belu. Penyelidikan dilakukan oleh Polres Belu dibantu Polda NTT, sementara keluarga korban diwakili kuasa hukum Silvester Nahak.
  • Where?
    Jenazah ditemukan di jurang Sabanese, Jalan Trans Timor Km 8, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, sekitar 17 kilometer dari rumah korban di Kelurahan Tulamalae, Atambua Barat.
  • When?
    Korban terakhir terlihat pada 7 November 2025 sore dan ditemukan meninggal pada 9 November 2025 pagi. Pernyataan resmi terbaru disampaikan pada Sabtu, 21 Maret 2026.
  • Why?
    Penyebab kematian masih belum diketahui. Polisi menyebut belum ada unsur pidana yang terbukti sementara keluarga menilai terdapat kejanggalan seperti luka benturan benda tumpul dan hilangnya barang pribadi korban.
  • How?
    Penyidik melakukan olah TKP, autopsi, pemeriksaan terhadap 16 saksi dan ahli, analisis CCTV serta
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada bapak namanya Pak Frans, dia kerja di kantor yang bantu orang kalau ada bencana di Belu. Suatu hari dia bilang mau beli rokok, tapi nggak pulang lagi. Dua hari kemudian dia ditemukan sudah meninggal di jurang jauh dari rumahnya. Polisi dan keluarga masih cari tahu kenapa bisa begitu, tapi belum tahu jawabannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Kasus kematian Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Fransiskus Xaverius Asten alias Frans Asten, masih misterius.

Frans sebelumnya pamit membeli rokok pada 7 November 2025 sekitar pukul 16.00-18.55 WITA hingga jenazahnya ditemukan pada 9 November 2025 pagi sekitar pukul 10.00 WITA di jurang Sabanese, Jalan Trans Timor Km 8, Kecamatan Kakuluk Mesak, Belu. Jarak rumah dan lokasi temuan ini terpaut sekitar 17 kilometer (km).

1. Sejumlah kejanggalan menurut keluarga

Ilustrasi TKP (pexels/Kat Wilcox)

Sebelumnya pihak kepolisian telah bertemu dengan pihak keluarga yang ingin melakukan audiensi. Pertemuan tersebut dipimpin Kapolres Belu AKBP I Gede Eka Putra Astawa bersama jajaran Satreskrim dan penasihat hukum keluarga.

Penasihat Hukum keluarga korban, Silvester Nahak, dalam keterangannya menyebutkan ada beberapa hal janggal yang perlu diselidiki. Ia merinci, adanya kunci kontak motor korban yang sudah mati, barang korban seperti sweater, topi dan ponsel korban yang belum ditemukan, alasan korban meninggalkan rumah dan jarak temuan jenazah korban, hingga dengan bukti rekaman CCTV.

Silvester sebelumnya menyebut hasil autopsi menunjukkan adanya benturan benda tumpul pada tubuh korban.

"Rumah korban di Kelurahan Tulamalae, Atambua Barat, sementara ditemukan di jurang Sabanese yang mencapai sekitar 17 kilometer," tukasnya.

Pihak keluarga mengaku telah menerima tiga kali SP2HP, namun masih belum puas dengan perkembangan kasus ini.

2. Periksa 16 saksi dan cari bukti digital

Ilustrasi TKP (IDN Times/Mardya Shakti)

Kapolres Belu sendiri menegaskan bahwa pihaknya telah menjalankan proses penyelidikan sesuai prosedur. Ia menyebut penyelidikan dimulai sejak 9 November 2025 melalui Sprin Lidik Nomor 342/XI/2025.

Pihaknya telah melakukan olah TKP, autopsi, hingga pemeriksaan 16 saksi dan ahli, termasuk analisis CCTV dan Call Detail Record (CDR). Pihaknya juga telah melakukan dua kali gelar perkara dan sementara menyimpulkan belum adanya unsur pidana dalam kasus ini, namun penyelidikan masih terus berjalan hingga bukti kuat yang mengarah pada tindak pidana.

Kabidhumas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra dalam keterangannya, Sabtu (21/3/2026), menyatakan kasus ini masih terbuka. Penyelidikan tidak hanya melihat fakta di permukaan, tetapi berupaya mengungkap kebenaran secara menyeluruh

3. Polda NTT lakukan pendekatan ilmiah

Kabid Humas Polda NTT Henry Novika Chandra. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Ia menyebut Polda NTT telah melakukan asistensi dan supervisi dalam penanganan kasus ini yang dilakukan secara Scientific Crime Investigation.

“Agar kesimpulan yang diambil dari kasus ini benar-benar berdasarkan data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Sementara penyidik memperkuat bukti digital, mulai dari cell dump dan penelusuran perangkat komunikasi namun terkendala ponsel korban yang belum ditemukan.

Ia memastikan transparansi dalam kasus ini kepada keluarga korban karena informasi terkait kasus ini menjadi hak keluarga korban. Ia juga mengajak masyarakat untuk ikut mengawal proses ini secara bijak dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Editorial Team