Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gemuruh Gunung Ili Lewotolok Tembus Adonara, Atap Rumah Ikut Bergetar

Kota Kupang
3 min read
Gemuruh Gunung Ili Lewotolok Tembus Adonara, Atap Rumah Ikut Bergetar
Erupsi Gunung Api Lewotolok 22:40 WITA, 31 Oktober 2026. (Dok PVMBG)
  • Dentuman dan gemuruh Gunung Ili Lewotolok terjadi berulang dari Sabtu tengah malam hingga Minggu subuh, terdengar sampai Adonara dan Flores Timur serta menggetarkan atap rumah warga.

  • PPGA mencatat 85 letusan, 70 gempa guguran, 110 gempa hembusan, dan aktivitas seismik lain dalam 24 jam; erupsi pukul 23.52 WITA menghasilkan kolom abu setinggi 500 meter.

  • Status gunung berada pada Level II Waspada; warga dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 2 kilometer, serta 3 kilometer di sektor selatan-tenggara, dan diimbau memakai pelindung dari abu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times —Suara dentuman yang disusul gemuruh dari Gunung Api Ili Lewotolok beberapa kali terdengar hingga wilayah di luar Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Suara yang muncul sejak Sabtu tengah malam (31/10/2026) hingga Minggu subuh (1/11/2026) itu membuat warga di sejumlah wilayah sekitar diliputi kekhawatiran.

Tak hanya warga Lembata, suara gemuruh tersebut juga terdengar hingga Pulau Adonara dan Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur. Bahkan, beberapa warga mengaku merasakan getaran pada atap rumah mereka setiap kali dentuman terdengar.

Fenomena tersebut bukan sekadar suara gemuruh biasa. Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ili Lewotolok selama periode pengamatan 31 Oktober 2026 pukul 00.00–24.00 WITA, petugas mencatat suara dentuman yang semakin sering terdengar.

Dentuman itu disertai suara gemuruh dengan intensitas bervariasi, mulai dari lemah hingga kuat.

  1. 1. Dentuman besar sampai atap bergetar

    Ilustrasi atap rumah dari Pixabay di Pexels untuk melengkapi pembahasan tentang hunian dan bagian bangunan.
    ilustrasi atap rumah (pexels.com/Pixabay)

    Rusbin, salah seorang warga Kota Lewoleba, mengaku merasakan atap rumahnya bergetar setelah terdengar dentuman keras sekitar pukul 02.12 WITA, Minggu dini hari. Suara tersebut begitu kuat hingga getarannya terasa di bagian atap rumah.

    "Dentuman sangat keras sampai atap rumah getar. Dalam Kota Lewoleba (Kabupaten Lembata)," keluhnya.

    Pengalaman serupa juga dirasakan warga di luar Kabupaten Lembata. Laurens Lamabelawa, warga asal Adonara, turut mendengar gemuruh dari tempat tinggalnya. Sementara itu, Stefanus Muda menyebut atap rumahnya sempat berderak setelah suara gemuruh terdengar.

    "Bergetar semua," tulis Stefanus dalam keterangannya Minggu pagi.

    Suara dentuman tersebut juga menjangkau Desa Riangkotek, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur. Ama Buro Huko, salah seorang warga setempat, mengaku mendengar suara dentuman dengan sangat jelas.

    Menurutnya, suara tersebut terdengar sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WITA, kemudian kembali muncul menjelang subuh.

    "Tadi terdengar sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WITA, kemudian kembali terdengar menjelang subuh," ungkapnya.

  2. 2. Penjelasan Petugas PPGA

    Erupsi Gunung Lewotolok pada malam hari memuntahkan kolom abu ke langit, 8 September 2026 pukul 22.31 WITA.
    Erupsi Lewotolok pada 8 September 2026 pukul 22.31 WITA. (Dok Magma Indonesia)

    Stanislaus Ara Kian selaku Petugas PPGA Ili Lewotolok menjelaskan dentuman dan gemuruh yang menyertai erupsi merupakan salah satu fenomena dalam proses pelepasan energi gunung api.

    "Meski demikian, masyarakat diminta tidak mengabaikan potensi bahaya dan tetap tenang mengikuti perkembangan aktivitas gunung," tegasnya.

    Dalam catatannya, gunung api mengalami 85 kali letusan selama 24 jam pengamatan pada 31 Oktober 2026. Periode yang sama terjadi 70 kali gempa guguran dan 110 kali gempa hembusan. Selain itu, terjadi satu kali tremor non-harmonik, tiga kali tremor harmonik, serta 32 kali gempa vulkanik dalam.

    Aktivitas erupsi berlanjut hingga malam hari. Pada pukul 23.52 WITA, Gunung Ili Lewotolok kembali mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak atau 1.923 meter di atas permukaan laut.

    "Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi sekitar 34 detik," jelasnya.

  3. 3. Larangan aktivitas di sekitar gunung

    potret gunung Ili Lewotolok
    ‎potret gunung Ili Lewotolok (instagram.com/ismailrajasulbar)

    Selain itu teramati guguran material yang meluncur sejauh 300-700 meter ke arah tenggara dan selatan. Lava pijar ini juga masih terlihat mengarah ke dua sektor tersebut dengan jarak luncur sekitar 500-700 meter.

    Untuk itu pihaknya mengimbau masyarakat maupun wisatawan menjauh dalam radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Larangan beraktivitas ini juga berlaku pada radius 3 kilometer di sektor selatan dan tenggara.

    "Karena aktivitas letusan yang berulang ini ditetapkan dengan status Level II atau Waspada sehingga aktivitas di gunung tersebut wajib dihindari," tegasnya.

    Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker untuk melindungi saluran pernapasan, serta perlengkapan pelindung mata dan kulit guna mengantisipasi paparan abu vulkanik.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More