Berdiri Sejak 1865, Kelenteng Siang Lay Saksi Jejak Tionghoa di Kupang

- Kelenteng Siang Lay, warisan leluhur Tionghoa
- Perjalanan panjang kelenteng dari Perang Dunia II hingga kini
- Kelenteng sebagai titik kumpul warga Tionghoa dan kebijakan pemulangan
Kupang, IDN Times - Kelenteng Siang Lay atau yang juga dikenal sebagai Rumah Abu Keluarga Lay menjadi saksi sejarah panjang kehadiran masyarakat Tionghoa di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Berdiri sejak 1865, bangunan ini didirikan oleh Lay Lan Fi dan Lay Foet Lin, sekaligus menandai jejak migrasi Tionghoa ke wilayah timur Indonesia pada abad ke-19.
Terletak di kawasan Kota Lama, tepatnya di ujung gang sempit di depan Terminal Lahi-lai Bissi Koepan (LLBK), kelenteng ini masih mempertahankan arsitektur klasik dengan sentuhan seni rupa khas Tiongkok.
1. Warisan leluhur Tionghoa

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, suasana kelenteng tampak semarak. Hiasan merah mendominasi bangunan yang pintunya terbuka lebar. Aksara Mandarin terpampang di bagian atas gedung, dilengkapi ornamen patung tiga hewan sebagai ciri khasnya.
Lampion-lampion merah terpasang mulai dari gerbang berbentuk naga hingga ke dalam ruang sembahyang. Di dalamnya, lilin dan dupa telah menyala. Ruangan bernuansa merah dan emas itu juga dilengkapi meja persembahan untuk sesajen, tempat umat memanjatkan doa kepada Tuhan dan arwah leluhur.
Meski saat dipantau pada Senin (16/2/2026) tidak banyak warga yang datang berdoa, tradisi di kelenteng ini tetap terjaga dan terus dilestarikan.
2. Sempat rusak saat Perang Dunia II

Penjaga kelenteng, Ferry Ngahu—yang menikah dengan keturunan marga Lay—menjelaskan bahwa bangunan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu leluhur keluarga Lay.
Menurutnya, kelenteng ini beberapa kali mengalami renovasi. Bangunan bersejarah tersebut sempat rusak parah pada 1945 akibat dampak Perang Dunia II. Pemugaran kemudian dilakukan pada 1951, dilanjutkan perbaikan pada 1970, 1973, dan 1975. Pada 1976, dilakukan penambahan teras serta perubahan ventilasi.
Kini, di usianya yang ke-161 tahun, Kelenteng Siang Lay tetap berdiri kokoh sebagai simbol sejarah migrasi Tionghoa di NTT sekaligus penanda keberagaman di Kota Kupang.
3. Titik kumpul warga Tionghoa dulu

Dalam catatan sejarah, kelenteng ini juga pernah menjadi titik kumpul warga Tionghoa yang akan dipulangkan ke Republik Rakyat Tiongkok. Kebijakan tersebut merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 1959 yang diterbitkan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, terkait penertiban usaha perdagangan bagi warga asing.
Proses penjemputan dilakukan melalui Pelabuhan Kupang, yang dikenal sebagai Pantai Teddy’s, di kawasan Kelurahan LLBK. Namun, kebijakan tersebut kemudian berubah. Pemerintah Indonesia membuka kesempatan bagi warga Tionghoa untuk menjadi warga negara Indonesia, dan proses pemulangan pun tidak lagi dilakukan.
Hingga kini, Kelenteng Siang Lay tetap menjadi ikon sejarah dan keberagaman di Kota Kupang—sebuah bangunan tua yang tak sekadar menyimpan abu leluhur, tetapi juga memelihara ingatan kolektif tentang perjalanan panjang masyarakat Tionghoa di NTT.


















