Bendungan Pandanduri mengalami penyusutan yang cukup parah (IDN Times/Ruhaili)
Musti mengatakan luas lahan pertanian garapan miliknya sekitar dua hektare lebih. Dijelaskannya, pola musim tanam tahun ini berbeda seperti tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, meski memasuki puncak musim kemarau, namun debit air bendungan masih bisa dipakai untuk bertani.
Bahkan ketika musim tembakau berakhir, para petani yang lahan pertaniannya mengandalkan sumber mata air dari dari Bendungan Pandanduri tetap bisa kembali bercocok tanam. Tetapi kondisi saat ini jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, air bendungan lebih banyak yang menyusut.
"Sebagian besar petani yang mengandalkan air dari bendungan Pandanduri saat ini terpaksa membiarkan lahannya terbengkalai sampai menuggu pasokan air dari bendungan bisa normal kembali," singkatnya.
Hal sama juga dialami Suparlan, petani Sakra Barat. Ia menjelaskan lahan pertanian miliknya seluas satu hektare lebih sudah tidak bisa ditanami sejak dua bulan lalu setelah panen tembakau. Air Bandungan Pandanduri yang menjadi andalan pasokan air untuk lahan pertanian mereka sudah tidak mengalir selama puncak musim kemarau.
" Kondisi air bendungan kan sudah sangat sangat menyusut sekali. Sekarang air bendungan hanya bisa mengaliri lahan pertanian terdekat saja. Di tengah keterbatasan air bendungan ini, kita tentunya di lokasi jauh seperti ini memang tidak memungkinkan untuk dijangkau," ujarnya.