99 Ton Sampah Plastik Disulap Jadi Ruang Belajar di Lombok Timur

- Gedung sekolah ramah anak. Sudah bangun 73 ruang
- Sebanyak 99 ton sampah plastik diproses menjadi material bangunan untuk SDN 2 Gunung Malang
- Inisiatif lahir dari keprihatinan pascabencana yang meluluhlantakkan fasilitas pendidikan di Lombok Timur, menginspirasi gerakan serupa di daerah lain.
Lombok Timur, IDN Times – Organisasi kemanusiaan Happy Hearts Indonesia bersama mitranya, Classroom of Hope (CoH) asal Australia, membangun gedung sekolah SDN 2 Gunung Malang, Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur menggunakan limbah plastik. Untuk membangun sekolah tersebut, sebanyak 99 ton sampah plastik diproses menjadi material bangunan.
Melalui project tersebut, sampah yang selama ini menjadi ancaman lingkungan, kini disulap menjadi ruang belajar yang layak dan ramah anak. Happy Hearts berharap bahwa pendidikan dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.
1. Gedung sekolah ramah anak

Perwakilan Happy Hearts Indonesia, Tamrin mengatakan, yang membedakan program ini dari pembangunan sekolah pada umumnya adalah bahan baku yang digunakan. Seluruh bangunan SDN 2 Gunung Malang memanfaatkan material dari sampah plastik daur ulang. Sejak program ini berjalan, sekitar 99 ton sampah plastik telah berhasil dikonversi menjadi material bangunan. Upaya ini setara dengan pengurangan emisi karbon hingga 14 ton.
“Bangunan ini ramah anak, ramah lingkungan, tetapi tetap berkualitas tinggi. Kami harap para guru dapat memanfaatkannya untuk menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan menyenangkan,” ujar Tamrin, Rabu (11/2/2026)
2. Sudah bangun 73 ruang

Pembangunan gedung sekolah SDN 2 Gunung Malang ini merupakan proyek ke-12 yang dibangun Happy Hearts Indonesia di Lombok Timur setelah gempa bumi. Tamrin menjelaskan melalui project ini, pihaknya telah membangun total 73 ruang kelas dan 48 toilet dari limbah plastik.
“Kami berharap jumlah ini terus bertambah. Kami ingin lebih banyak anak Indonesia menikmati ruang belajar yang layak,” ujar Tamrin.
3. Prihatin atas kondisi gedung sekolah setelah gempa

Sementara itu, Manager Classroom of Hope (CoH), Rachel, mengungkapkan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan pascabencana yang meluluhlantakkan sebagian besar fasilitas pendidikan di Lombok Timur.
Rachel berharap, kehadiran ruang kelas baru ini tidak hanya memperkuat infrastruktur pendidikan di Lombok Timur, tetapi juga menginspirasi gerakan serupa di daerah lain.
“Kami hadir untuk membangun kembali mimpi-mimpi yang sempat runtuh. Dengan bahan daur ulang, kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan dan kelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan,” tutup Rachel.


















