Setiap Ramadan, kita menahan lapar dan haus dari fajar hingga magrib. Namun sering kali, lapar hanya kita pahami sebagai sensasi fisik yang harus ditunggu hingga waktu berbuka tiba. Padahal di balik rasa perih di perut dan tenggorokan yang kering, ada pesan-pesan sunyi yang sebenarnya sedang diajarkan kepada kita.
Lapar bukan sekadar ujian ketahanan tubuh, melainkan ruang refleksi yang dalam. Ia memperlambat langkah, melembutkan hati, dan menguji kedewasaan. Jika direnungkan dengan jujur, rasa lapar selama puasa menyimpan makna yang jauh lebih luas daripada sekadar menahan diri dari makan dan minum.
Berikut 6 makna lapar yang jarang kita sadari saat puasa.
