Perfeksionisme pada anak sering kali dipersepsikan sebagai hal positif karena berkaitan dengan disiplin, pencapaian, dan standar tinggi. Namun dalam psikologi, perfeksionisme yang terbentuk sejak dini justru kerap berkaitan dengan kecemasan, rasa takut gagal, dan harga diri yang rapuh. Anak berusaha menjadi “sempurna” bukan karena dorongan sehat, melainkan karena takut mengecewakan orang tua.
Pola asuh memiliki peran besar dalam membentuk kecenderungan perfeksionis ini. Tanpa disadari, sikap, tuntutan, dan cara orang tua merespons kesalahan anak dapat menanamkan keyakinan bahwa cinta dan penerimaan harus diperjuangkan melalui hasil yang sempurna.
Berikut 5 ciri pola asuh yang berpotensi membentuk anak menjadi perfeksionis.