Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Seorang anak sedang digendong oleh orang tuanya di taman. (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Perfeksionisme anak dapat berkaitan dengan kecemasan, takut gagal, dan harga diri rapuh ketika penerimaan terasa bergantung pada hasil sempurna.

  • Standar tidak realistis, kritik berlebihan terhadap kesalahan, serta pujian yang hanya berfokus pada prestasi membuat anak menilai dirinya dari pencapaian.

  • Kasih sayang bersyarat dan teladan orang tua yang sulit menerima ketidaksempurnaan dapat mendorong anak menyembunyikan kesalahan serta berusaha terus menyenangkan orang lain.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perfeksionisme pada anak sering kali dipersepsikan sebagai hal positif karena berkaitan dengan disiplin, pencapaian, dan standar tinggi. Namun dalam psikologi, perfeksionisme yang terbentuk sejak dini justru kerap berkaitan dengan kecemasan, rasa takut gagal, dan harga diri yang rapuh. Anak berusaha menjadi “sempurna” bukan karena dorongan sehat, melainkan karena takut mengecewakan orang tua.

Pola asuh memiliki peran besar dalam membentuk kecenderungan perfeksionis ini. Tanpa disadari, sikap, tuntutan, dan cara orang tua merespons kesalahan anak dapat menanamkan keyakinan bahwa cinta dan penerimaan harus diperjuangkan melalui hasil yang sempurna.

Berikut 5 ciri pola asuh yang berpotensi membentuk anak menjadi perfeksionis.

1. Standar yang terlalu tinggi dan sulit dicapai

Seorang ibu sedang dicium oleh anaknya. (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Orang tua yang menetapkan standar sangat tinggi sering kali menganggapnya sebagai bentuk motivasi. Namun, ketika standar tersebut tidak realistis dan jarang disesuaikan dengan kemampuan anak, anak mulai merasa bahwa apa pun yang ia lakukan tidak pernah cukup.

Psikolog Paul Hewitt dan Gordon Flett, peneliti perfeksionisme, menjelaskan bahwa tuntutan eksternal yang berlebihan dapat memicu socially prescribed perfectionism, yaitu keyakinan bahwa diri hanya berharga jika memenuhi ekspektasi orang lain.

2. Kesalahan selalu dikritik, jarang dimaklumi

Seorang ibu sedang menghibur putrinya. (pexels.com/Alina Matveycheva)

Dalam pola asuh tertentu, kesalahan anak selalu menjadi sorotan utama. Kritik diberikan lebih sering daripada dukungan, sementara kegagalan dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari, bukan dipelajari.

Menurut psikolog Alfred Adler, fokus berlebihan pada kesalahan dapat melemahkan keberanian anak untuk mencoba. Anak belajar bahwa kesalahan adalah ancaman terhadap penerimaan, sehingga berusaha tampil sempurna demi menghindari rasa malu.

3. Apresiasi lebih menekankan hasil daripada proses

Seorang ibu sedang menemani anak perempuannya bermain. (pexels.com/Gustavo Fring)

Orang tua yang hanya memuji nilai tinggi, prestasi, atau pencapaian besar tanpa menghargai usaha membuat anak menyamakan nilai diri dengan hasil akhir. Proses belajar, kerja keras, dan perkembangan emosional menjadi kurang diperhatikan.

Psikolog Carol Dweck menjelaskan bahwa pujian berbasis hasil dapat menumbuhkan fixed mindset. Anak menjadi takut gagal karena kegagalan dianggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik.

4. Kasih sayang bersyarat

Seorang anak bersama orang tua sedang di taman. (pexels.com/RDNE Stock project)

Kasih sayang yang terasa muncul hanya ketika anak berhasil atau memenuhi harapan orang tua membuat anak belajar bahwa cinta harus diperjuangkan. Anak merasa aman secara emosional hanya saat ia “sempurna”.

Psikolog perkembangan Erik Erikson menekankan pentingnya penerimaan tanpa syarat dalam membangun rasa percaya diri anak. Tanpa hal ini, anak berisiko tumbuh dengan kecemasan dan kebutuhan berlebihan untuk menyenangkan orang lain.

5. Orang tua sulit menerima ketidaksempurnaan

Seorang ibu sedang mencium pipi anak perempuannya. (pexels.com/olia danilevich)

Anak yang tumbuh dengan orang tua perfeksionis sering kali menyerap nilai yang sama. Ketika orang tua tidak memberi ruang untuk kesalahan, baik pada diri sendiri maupun orang lain, anak belajar bahwa ketidaksempurnaan adalah sesuatu yang harus disembunyikan.

Menurut teori social learning dari Albert Bandura, anak meniru pola pikir dan perilaku orang tua. Sikap perfeksionis yang dicontohkan secara tidak langsung dapat tertanam kuat dalam diri anak.

Pola asuh yang membentuk perfeksionisme sering kali lahir dari niat baik: ingin anak berhasil dan memiliki masa depan cerah. Namun, tanpa keseimbangan empati dan penerimaan, tuntutan tersebut dapat membebani kesehatan mental anak. Dengan memberi ruang pada proses, kesalahan, dan ketidaksempurnaan, orang tua membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, dan berani menjadi dirinya sendiri.

Itulah 5 ciri pola asuh yang membentuk anak menjadi perfeksionis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article