Sejumlah petugas marshal bersiaga mengamankan lintasan pada ajang MotoGP di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat. (dok. ANTARA/Humas ITDC)
Pengamat otomotif, Priandhi Satria mengatakan bahwa insiden itu tidak bisa dilihat hanya dari video saja. namun perlu dipahami berdasarkan prosedur operasional dan pembagian tugas berbagai petugas di lintasan. Pemegang lisensi FIM tertinggi di Indonesia itu menjelaskan marshal yang terlibat keributan tersebut telah menjalankan tugas sesuai dengan fungsi masing-masing petugas dalam mekanisme penanganan pembalap yang mengalami kecelakaan di area lintasan sirkuit.
Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) periode 2022–2026 itu menjelaskan, motor yang digunakan petugas dalam insiden tersebut merupakan motor flying marshal, dan bukan kendaraan moto taxi. Keduanya memiliki fungsi yang sangat berbeda dalam mendukung operasional balapan, termasuk penanganan pembalap yang terjatuh dan pengaturan pergerakan petugas di area sirkuit.
“Motor yang dipakai itu merupakan motor flying marshal dan bukan kendaraan moto taxi. Di bagian belakangnya terlihat ada APAR atau alat pemadam api ringan,” jelas Priandhi.
Dalam operasional balapan, flying marshal bertugas khusus dan hanya untuk mendukung pengawasan dan penanganan situasi di lintasan. Sementara itu, moto taxi digunakan untuk membantu mengantarkan pembalap yang membutuhkan transportasi dari area tertentu menuju lokasi yang telah ditentukan, sesuai prosedur dan kondisi operasional.
Menurutnya, petugas flying marshal memang hanya dapat mengantarkan pembalap sampai ke titik transit kendaraan penjemputan yang telah disiapkan penyelenggara. Mekanisme tersebut bukan hal baru, melainkan bagian dari prosedur yang sudah diterapkan sebelumnya dan selalu disepakati dan disetujui oleh Race-Director terhadap safety plan penanganan berbagai kejadian, sebelum ajang balap dimulai.
Titik transit ini menjadi lokasi peralihan dari kendaraan flying marshal, sebelum pembalap melanjutkan sisa perjalanan menggunakan kendaraan yang telah ditentukan, sesuai dengan kebutuhan evakuasi. Kendaraan flying marshal, tidak boleh meninggalkan area kerja yang telah ditentukan, makanya ada kendaraan transit. Dengan demikian, tidak semua kendaraan yang berada di lintasan dapat digunakan untuk mengantarkan pembalap hingga ke garasi atau paddock.
“Jadi, mereka telah melakukan sesuai SOP tugasnya masing-masing. Flying Marshal yang terlihat di video, memang hanya bisa mengantarkan sampai titik transit car yang sudah disetujui dan sudah disiapkan dari sebelumnya,” jelasnya.
Keinginan pembalap dengan adrenalin dan emosi yang sangat tinggi untuk segera kembali ke garasi secepatnya setelah mengalami kecelakaan dapat dipahami. Namun, keinginan tersebut tidak selalu dapat dipenuhi oleh setiap petugas karena adanya batasan tugas dan kebutuhan menjaga kesiapan personel di lintasan.
Apabila menggunakan moto taxi, pembalap memungkinkan untuk diantarkan lebih jauh sesuai prosedur yang sudah ditentukan. Sebaliknya, jika kendaraan yang digunakan adalah flying marshal, petugas tidak dapat meninggalkan posnya terlalu jauh atau terlalu lama, karena harus kembali menjalankan tanggung jawab operasional yang telah ditentukan sebelumnya.
“Rider pasti maunya diantar secepat mungkin untum sampai kembali garasinya. Itu memungkinkan jika memakai moto taxi, tetapi tidak memungkinkan jika kebetulan dia diantar menggunakan kendaraan flying marsha. Karena itu akan berarti petugas marshal tersebut meninggalkan area pos kerja mereka terlalu lama, dan tidak sesuai orosedur yang telah ditentukan dan disetujui sebelum balap” tambahnya.