Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Suara Duka Ayah Dokter Icha: Tiga Anggota Dewan itu Mengakhiri Hidup Anak Saya!
Ayah dan saudari dr. Icha saling berpelukan dan menangis tersedu-sedu. (IDN Times/Putra Bali Mula)
  • Gabriel Pakaenoni menuduh tiga anggota DPRD TTU sebagai penyebab kematian putrinya, dr. Icha, yang mengalami depresi berat akibat intimidasi di tempat kerjanya.
  • Keluarga korban menuntut pertanggungjawaban hukum terhadap ketiga anggota dewan serta meminta partai dan DPRD TTU mengambil tindakan tegas atas dugaan intimidasi tersebut.
  • Kasus bermula dari insiden medis pasien gigitan ular di RS Leona Kefamenanu, ketika tiga anggota DPRD terlibat adu argumen dengan dr. Icha terkait penanganan pasien.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
13 Juni 2026

dr. Icha menerima pasien anak yang dipatok ular di RSUD Kefamenanu sekitar pukul 12.50 WITA. Karena tidak tersedia anti venom, pasien dirujuk ke RS Leona Kefamenanu dan terjadi ketegangan antara dr. Icha dengan tiga anggota DPRD TTU.

21 Juni 2026

Therensius Lazakar memberikan keterangan pers dan mengakui nada bicaranya sempat meninggi saat kejadian, namun membantah adanya intimidasi terhadap dr. Icha.

26 Juni 2026

Sekitar pukul 18.30 WITA, keluarga Gabriel Pakaenoni mengabarkan kematian dr. Icha kepada kerabat setelah ditemukan tak bernyawa di rumahnya. Jenazah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang untuk pemeriksaan.

27 Juni 2026

Sekitar pukul 00.18 WITA jenazah dr. Icha tiba di rumah duka di Perumahan RSS Baumata Kupang dan disambut tangis keluarga serta pelayat. Pada pukul 01.33 WITA misa requiem dan pemberkatan jenazah dilaksanakan, di mana ayahnya menyampaikan pernyataan menuding tiga anggota DPRD TTU sebagai penyebab kematian putrinya.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Seorang dokter bernama dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha meninggal dunia setelah diduga mengalami tekanan dan intimidasi dari tiga anggota DPRD Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.
  • Who?
    dr. Icha sebagai korban; Gabriel Pakaenoni ayah korban; tiga anggota DPRD TTU yakni Therensius Lazakar, Norbertus Tubani, dan Veronika Lake disebut dalam pernyataan keluarga.
  • Where?
    Kejadian berawal di Rumah Sakit Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan prosesi duka berlangsung di rumah keluarga di Perumahan RSS Baumata, Kota Kupang.
  • When?
    Insiden awal terjadi pada 13 Juni 2026; jenazah ditemukan pada 26 Juni 2026 malam dan disemayamkan dini hari 27 Juni 2026 sekitar pukul 01.33 WITA.
  • Why?
    Keluarga menyebut intimidasi dari tiga anggota dewan menyebabkan depresi berat hingga kematian dr. Icha; sementara pihak dewan menyatakan tidak bermaksud mengintimidasi dan hanya berbicara dengan nada tinggi karena panik.
  • How?
    Kronologi bermula saat dr. Icha menangani pasien gigitan ular yang kekurangan anti venom; situasi memanas saat anggota dewan datang menanyakan penanganan medis hingga akhirnya korban mengalami tekanan psikologis berat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dokter Icha meninggal dan ayahnya, Pak Gabriel, sangat sedih sekali. Ia bilang tiga orang anggota dewan di Nusa Tenggara Timur membuat anaknya takut dan sedih sampai sakit hati. Mereka dulu marah di rumah sakit waktu Icha kerja. Sekarang keluarga minta polisi dan partai mereka tanggung jawab supaya tidak ada dokter lain yang disakiti lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Gabriel Pakaenoni, ayah kandung Eliza Princila Utami Pakaenoni atau Dokter Icha mengungkap isi hatinya usai misa requiem dan pemberkatan jenazah anaknya. Ia menyatakan kepergian anak pertama dari tiga putrinya ini adalah korban dari perbuatan ketiga anggota DPRD, Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gabriel menyatakan ini disaksikan keluarga, kerabat dan kenalan yang mendatangi rumah duka di Blok F Perumahan RSS Baumata Kota Kupang, pada Sabtu dini hari (27/6/2026), pukul 01.33 WITA.

Sebelumnya Dokter Icha mengalami trauma berat dan depresi akibat intimidasi dari anggota DPRD TTU bernama Therensius Lazakar dari Partai Golkar, Norbertus Tubani dari PKB, dan Veronika Lake dari PDI-P. Intimidasi ini terjadi di Rumah Sakit Leona Kefamenanu tempatnya bertugas sebagai dokter jaga.

1. Tak henti menangis

Ayah dr. Icha tak berhenti menangis atas kematian putri pertamanya itu. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Gabriel membuka pernyataannya dengan terima kasih atas dukungan dan kedatangan para pelayat untuk melihat putrinya. Ia menambahkan pernyataan tegas bahwa perbuatan ketiga anggota DPRD TTU itu yang merenggut nyawa anaknya.

"Sekali lagi. Terima kasih buat Bapak, Mama. Saya barusan menelpon Ketua DPRD Kabupaten TTU bahwa tiga anggota dewan itu telah mengakhiri hidup anak saya," ungkapnya.

Usai menyatakan itu Gabriel kembali memeluk jasad putrinya dan menangis. Ia merangkul juga kedua anaknya dengan berlinang air mata. Ia kemudian dipapah beberapa kerabat dan anaknya ke kamar untuk beristirahat.

Gabriel dan istrinya diketahui tak beberapa kali kehilangan kesadaran usai mengabarkan kepergian putri mereka kepada keluarga yang lain sekitar pukul 18.30 WITA, Jumat (26/6/2026).

Jenazah dr. Icha sempat dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Kupang setelah ditemukan tak bernyawa di dalam kamar di rumahnya. Gabriel sendiri tak sanggup mengantar anaknya lagi ke rumah sakit saat itu karena ia terguncang dengan kejadian ini.

Jasadnya kemudian diantar dengan mobil jenazah ke rumah duka sekitar pukul 23.20 WITA usai selesai dimandikan. Gabriel dan istrinya, seluruh keluarga dan para pelayat menyambut dengan isak tangis begitu jenazah tiba sekitar pukul 00.18 WITA di Sabtu (27/6/2026) dini hari.

2. Minta partai dan lembaga DPRD TTU bersikap

Fabi Banase paman dari dr. Icha memberi keterangan kepada media. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Pernyataan yang sama dilontarkan oleh Fabianus B. Banase selaku paman dari almarhumah yang bernama lengkap dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni.

"Tiga anggota DPRD ini, mereka secara kejam membunuh anak kami," ungkap dia.

Usai kejadian, Icha berkomunikasi dengan kedua pamannya tersebut. Ia bercerita bahwa dirinya mengalami stres berat.

"Dia bilang 'Bapak saya pulang Kefa jumpa tiga orang ini lagi saya trauma'," ungkapnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan jiwa di Klinik Dewanta Mental Health Care, dokter berusia 27 tahun ini didiagnosa mengalami depresi berat hingga guncangan hebat yang dapat membahayakan nyawanya.

Fabi lantas meminta pertanggungjawaban ketiganya secara hukum yang akan diproses secara resmi di kepolisian. Selain itu, pihak partai dan DPRD TTU sebagai lembaga negara diminta dengan tegas juga untuk memeriksa dan menindak ketiga anggota dewan ini atas apa yang sudah mereka lakukan.

"Kita minta pimpinan DPRD TTU segera bersikap dan pihak partai kalau tidak kami keluarga akan bersikap dengan cara kami," tegasnya.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga dimintanya dapat bersikap tegas sesuai undang-undang kesehatan. Begitu pun Pemerintah Daerah TTU diminta memberikan melindungi tenaga kesehatan lainnya agar tidak diperlakukan semena-mena seperti apa yang dialami almarhumah.

"Berupa perda atau perbup sehingga penguasa lokal tidak semena-mena dan kasus dokter Icha ini seperti fenomena gunung es," ungkapnya.

3. Kronologis dan tanggap para dewan

Suasana di rumah duka dr. Icha korban intimidasi anggota DPRD TTU. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Kejadian bermula ketika dr. Icha sebagai dokter jaga menerima seorang anak yang merupakan ponakan Therensius yang sebelumnya dipatok ular. Kejadian ini berlangsung pada 13 Juni 2026 sekitar pukul 12.50 WITA yang mana keluarga membawa anak tersebut ke RSUD Kefamenanu untuk penanganan awal. Namun anti venom atau penangkal racun ular tak tersedia di rumah sakit itu sehingga pasien dirujuk ke RS Leona Kefamenanu.

Therensius dan Norbertus pun menjenguk pasien dan meminta penjelasan dari Icha yang bertugas saat itu. Situasi kemudian memanas begitu tau pasien belum mendapat anti venom. Kemudian Veronika Lake yang turut hadir saat itu memberikan opininya dan ikut mengancam akan memviralkan dr. Icha.

Namun begitu putri dari Kepala UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Provinsi NTT ini berulang kali menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya sudah sesuai standar operasional dan di bawah konsultasi langsung dengan dokter spesialis.

Therensius dan Nobertus sendiri berkelit bahwa mereka tidak membentak, mengancam atau menuduh dr. Icha salah memberikan dosis atau jenis obat. Keduanya lewat keterangan pers mereka hanya menyebut sempat mengeluarkan nada tinggi saja. Sedangkan Veronika sendiri belum memberi pernyataan hingga saat ini.

"Kami akui dalam situasi itu nada bicara kami memang sempat meninggi. Tetapi itu terjadi karena kami panik melihat kondisi pasien yang menurut kami belum tertangani secara maksimal. Sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan," ujar Therensius dalam keterangan pers, Minggu (21/6/2026).

Editorial Team

Related Article