Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang Anak di Kupang Meninggal setelah Minum Air dari Kulkas
ilustrasi air mineral dingin (freepik.com/topntp26)
  • Seorang siswi SD di Kupang meninggal dunia dan kakaknya dirawat setelah diduga keracunan usai meminum air dari kulkas yang terasa pahit di rumah mereka.
  • Keluarga sempat mencoba pengobatan tradisional menggunakan campuran bahan alami sebelum akhirnya membawa kedua anak ke rumah sakit, namun sang adik tidak tertolong.
  • Polisi telah mengamankan barang bukti dan memeriksa saksi, sementara BPOM meneliti sampel makanan serta minuman untuk memastikan penyebab pasti keracunan tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
8 April 2026

Anggrani I. O. Nggili (9) dan kakaknya Arnold Grevan Nggili (16) mengalami keracunan setelah meminum air dari kulkas di rumah mereka di Desa Noelbaki, Kupang Tengah. Sekitar 30 menit kemudian keduanya muntah dan kejang.

Malam hari 8 April 2026

Kedua anak dibawa ke Rumah Sakit Leona Noelbaki Kupang setelah pengobatan tradisional tidak berhasil. Anggrani meninggal dunia satu jam setelah dirawat, sementara Arnold masih hidup.

Setelah 8 April 2026

Polisi dari Polsek Kupang Tengah dan Polres Kupang menyelidiki lokasi kejadian serta mengamankan barang bukti berupa sisa makanan dan muntahan korban. Sampel dikirim ke BPOM untuk uji laboratorium, dan sejumlah saksi telah dimintai keterangan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Seorang anak perempuan berusia 9 tahun di Kupang meninggal dunia diduga akibat keracunan setelah meminum air dari kulkas yang terasa pahit, sementara kakaknya masih dirawat di rumah sakit.
  • Who?
    Korban bernama Anggrani I. O. Nggili (9) dan kakaknya Arnold Grevan Nggili (16). Penyelidikan dilakukan oleh Polres Kupang melalui Kasat Reskrim AKP Helmi Wildan bersama BPOM.
  • Where?
    Kejadian berlangsung di rumah keluarga korban di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.
  • When?
    Peristiwa terjadi pada Rabu, 8 April 2026. Korban dibawa ke Rumah Sakit Leona Noelbaki pada malam hari dan dinyatakan meninggal sekitar satu jam setelah dirawat.
  • Why?
    Penyebab pasti kematian masih diselidiki. Dugaan awal mengarah pada keracunan setelah meminum air dari kulkas yang terasa pahit. Sampel makanan dan minuman sedang diuji oleh BPOM.
  • How?
    Kedua anak mengalami muntah, diare, dan kejang usai makan serta minum air kulkas. Keluarga sempat memberikan pengobatan tradisional sebelum akhirnya membawa mereka ke rumah sakit untuk perawatan medis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada dua anak di Kupang, namanya Arnold dan Anggrani. Mereka minum air dari kulkas yang rasanya pahit. Setelah itu mereka sakit, muntah, dan perutnya sakit sekali. Adiknya lalu meninggal di rumah sakit, kakaknya masih dirawat. Polisi datang ke rumah mereka dan ambil barang untuk diperiksa supaya tahu kenapa bisa begitu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kupang, IDN Times - Seorang pelajar sekolah dasar berinisial A (9), mengalami keracunan hingga meregang nyawa pada Rabu (8/4/2026). Sementara sang kakak, AG (16) masih dirawat usai dirujuk ke RSUD S.K. Lerik, Kota Kupang.

Peristiwa itu terjadi setelah keduanya meminum air dari kulkas di rumah mereka sendiri. Kapolres Kupang, AKBP Rudi JJ Ledo melalui Kasat Reskrim AKP Helmi Wildan membenarkan peristiwa ini dan tengah menyelidiki penyebab pasti kejadian tersebut.

“Iya, benar, korban meninggal dunia dan sedang diselidiki," ujarnya pada Minggu (12/4/2026).

1. Air dalam kulkas yang terasa pahit

ilustrasi air dingin (freepik.com/freepik)

Peristiwa ini bermula ketika keduanya berada di kediaman mereka Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Awalnya sang kakak lebih dulu makan kemudian meminum air dalam kulkas yang terasa pahit. Adik perempuannya juga ikut makan setelah membeli jajanan gorengan dan minuman kemasan jenis jelly drink di kios dekat rumah. Ia juga meminum air putih dari dalam kulkas di rumah mereka.

"Kakaknya pulang sekolah langsung makan dan minum dari air di kulkas itu. Sementara adiknya masih pamit untuk jajanan baru setelahnya makan dan minum juga di rumah," jelas dia.

Sekitar 30 menit kemudian AG mengalami sakit. Ia juga muntah-muntah hingga buang air besar. Adiknya juga mengalami hal yang sama hingga mengalami kejang beberapa saat kemudian.

2. Disembur pakai obat tradisional

ilustrasi keringat karena kesakitan (unsplash.com/Hans Reniers)

Kondisi ini membuat keluarga panik. Ibu korban menyuruh keluarganya menuju kulkas tersebut lalu membuang air dingin yang sempat diminum oleh kedua anak tersebut. Mereka lalu langsung mencuci ulang wadah rice cooker yang digunakan untuk mengisi air tersebut dan menyediakannya ulang air itu di dalam kulkas.

Sementara sang ayah memanggil seseorang lainnya yang dipercaya bisa memberikan pengobatan tradisional. Kedua anak itu disembur dengan air genoak, kulit pohon srikaya, isian kelapa kering dan jahe. Hingga malam harinya, kedua anak mereka tak kunjung sembuh sehingga baru dibawa ke Rumah Sakit Leona Noelbaki Kupang. Sayangnya sejam kemudian saat mulai dirawat anak perempuan mereka meregang nyawa.

"Sementara kakaknya masih mendapat perawatan intensif usai kejadian tersebut," lanjut Helmi.

3. Sejumlah saksi diperiksa dan uji lab BPOM

ilustrasi laboratorium (pexels.com/pixabay)

Aparat kepolisian dari Polsek Kupang Tengah dan Polres Kupang juga terjun ke lokasi kejadian. Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk sisa makanan dan muntahan korban. Sementara ini, jelas dia, sampel tersebut tengah diteliti oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan penyebab sebenarnya keracunan yang dialami kedua korban anak ini.

"Penyebab pasti menunggu hasil uji laboratorium BPOM," tegasnya.

Kasat Reskrim Polres Kupang, AKP Helmi Wildan juga menambahkan bahwa pihaknya sudah meminta keterangan dari sejumlah saksi dan masih mendalami kasus ini. Sementara keluarga korban menolak autopsi terhadap jenazah korban.

Editorial Team