Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pengakuan Mengejutkan Deni, Pria yang Dijuluki "Sister Hong Lombok"

IMG_20251115_164717_295.jpg
Deni Apriadi Rahman alias Dea Lipa. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Mataram, IDN Times - Sosok Dea Lipa, seorang makeup artist atau penata rias berhijab asal Desa Mujur, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) bikin heboh dalam beberapa hari terakhir. Dea Lipa bernama asli Deni Apriadi Rahman (23), akhirnya muncul ke publik, Sabtu (15/11/2025).

Sosok Dea Lipa membuat heboh netizen di media sosial. Dia berpenampilan seperti seorang perempuan, tetapi ternyata dia adalah seorang laki-laki. Warganet bahkan menjulukinya sebagai Sister Hong Lombok.

Didampingi keluarga dan Solidaritas Kemanusiaan, Deni membuat pengakuan yang mengejutkan. Sambil menangis, Deni menceritakan masa kecilnya hingga sekarang berprofesi sebagai penata rias pengantin.

1. Sejak kecil menjadi penyintas disabilitas

IMG_20251115_164710_785.jpg
Deni Apriadi Rahman alias Dea Lipa memberikan keterangan sambil menangis.(IDN Times/Muhammad Nasir)

Deni mengungkapkan bahwa sejak kecil dia hidup sebagai penyintas disabilitas dengan keterbatasan pendengaran. Kondisinya makin memburuk ketika mengalami kecelakaan saat berusia 10 tahun.

"Saya beragama Islam. Sejak kecil saya tinggal bersama nenek dari pihak ibu. Karena kedua orang tua saya bekerja sebagai tenaga migran," tutur Deni saat memberikan keterangan pers di Mataram, Sabtu (15/11/2025).

Deni hanya tamat Sekolah Dasar (SD) dan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya karena tidak ada biaya, apalagi neneknya meninggal dunia saat Dia kelas VI SD. Dia juga mengatakan sejak kecil sudah mengalami perundungan.

"Saya banyak belajar bertahan hidup secara mandiri. Saat ini saya bekerja sebagai MUA (make up artist) atau tata rias pengantin," kata dia.

Keterampilan sebagai penata rias pengantin dipelajari secara otodidak melalui YouTube dan media sosial lainnya. Melalui pekerjaan sebagai penata rias pengantin, Deni merasa bisa berdiri di atas kaki sendiri memenuhi kebutuhan hidup dan perlahan memperoleh kepercayaan diri.

2. Bantah gunakan hijab untuk menipu dan melecehkan

IMG_20251115_164704_568.jpg
Deni Apriadi Rahman alias Dea Lipa. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Namun beberapa hari terakhir, Deni mengaku mengalami ujian yang sangat berat. Sebuah akun media sosial mengunggah foto-fotonya beserta narasi yang dianggap tidak benar, penuh fitnah dan sangat melukai perasaannya, keluarga serta sahabat yang selama ini mendukungnya.

Unggahan tersebut tersebar luas di Facebook, Instagram dan TikTok. Deni mengatakan tidak mengenal pemilik akun tersebut, tidak pernah bertemu dan tidak pernah berkomunikasi. Dia juga tidak pernah memberikan izin untuk menggunakan foto-foto yang ada di media sosial untuk digunakan siapapun.

"Banyak narasi yang disebarkan tidak sesuai dengan kenyataan. Bahkan menuduh saya sebagai penista agama, kaum sodom, Sister Hong dari Lombok dan menuduh saya melakukan hal-hal yang tidak saya lakukan," kata dia.

Dia juga membantah tuduhan bahwa memakai mukenah masuk ke masjid dan beribadah di saf jemaah perempuan. Deni mengatakan bahwa dia menghormati rumah ibadah, menghormati tata cara ibadah dan memahami adab-adab dalam agama.

Tentang pilihan pakaian, Deni mengaku memang pernah menggunakan jilbab. Baginya, jilbab adalah simbol kecantikan, kelembutan dan kehormatan seorang muslimah yang selalu dikagumi bertahun-tahun lalu.

"Saya sama sekali tidak berniat menjadikan busana itu sebagai alat menipu atau melecehkan siapa pun," tambahnya.

Menurutnya, menggunakan hijab adalah bentuk ekspresi diri yang lahir dari kekaguman dan keinginan melindungi diri dari pelecehan. Dia juga membantah tuduhan bahwa pernah bertunangan atau memiliki hubungan dengan laki-laki atau melakukan hal-hal di luar batas.

"Semuanya tidak benar. Bahkan tuduhan bahwa saya mengidap penyakit HIV merupakan fitnah. Saya baru menjalani tes HIV dan hasilnya negatif," ungkapnya.

3. Mengalami tekanan yang berat

IMG_20251115_164658_389.jpg
Deni Apriadi Rahman alias Dea Lipa didampingi keluarga dan Solidaritas Kemanusiaan. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Sejak unggahan tentang dirinya viral di media sosial, Deni mengaku mengalami tekanan yang sangat berat. Dia menerima ribuan komentar berisi cacian, hinaan, ancaman serta teror melalui pesan langsung di media sosial.

"Saya sangat terpukul secara mental dan fisik. Bahkan beberapa kali saya sempat kehilangan kendali dan mengalami pikiran-pikiran berbahaya terhadap diri saya," ungkapnya.

Karena kondisi itu, Dia harus menghentikan sejumlah pekerjaan yang sudah dijadwalkan. Pembatalan ini menimbulkan kerugian bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi asisten dan rekan kerjanya.

"Kami semua kehilangan pemasukan," ungkapnya.

Deni menambahkan bahwa dia memahami masyarakat NTB menjunjung tinggi nilai agama, budaya dan kesopanan. Dia mengatakan tidak ingin menjadi penyebab kegaduhan atau menyakiti perasaan siapapun. Karena itu, dia ingin memperjelas sekaligus berharap tidak ada lagi kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat.

"Saya percaya setiap manusia punya kekurangan, kesalahan dan perjalanan hidup masing-masing termasuk saya sendiri. Saya adalah orang yang sedang berproses sebagai penyintas disabilitas, sebagai anak muda yang tumbuh tanpa banyak bimbingan dan sebagai orang yang sedang berusaha memperbaiki diri," jelas Deni.

Deni mengatakan bersyukur dalam masa sulit ini, keluarga, sahabat dan orang yang mengenalnya tetap mendampingi dan memberi kekuatan. Mereka membantunya agar tetap tenang agar bisa melanjutkan hidup dengan lebih baik.

Ke depan, Deni ingin terus bekerja sebagai make up artist dan menabung untuk membangun galeri sederhana dan berbagi keterampilan dengan orang lain. Dia juga ingin melanjutkan pendidikan formal yang sempat tertunda karena percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

"Saya berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Ada cara yang lebih baik dan bijak untuk mengingatkan, membimbing atau menegur seseorang bukan dengan fitnah, cacian dan penghakiman di ruang publik," harapnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More

Pemprov NTB Siapkan Rp200 Miliar untuk Gaji 9.411 PPPK Paruh Waktu

01 Jan 2026, 19:24 WIBNews