Petani sedang membersihkan rumput di tanaman padi. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Meski pada tahun ini ada fenomena El Nino, kata dia, produksi padi NTB tetap meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Mirza menjelaskan El Nino tetap berpengaruh terhadap produksi padi di NTB namun dampaknya sangat kecil.
Pihaknya mencatat lahan pertanian yang mengalami puso atau gagal panen sekitar 2,5 hektare. Sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi padi tahun 2026.
"El Nino ini tetap berpengaruh cuma ada upaya-upaya yang kita lakukan. Kita tahu El Nino itu musim kering tapi lahan-lahan pertanian didorong pertanaman sesuai dengan kondisi air. Kemudian lahan yang kurang air didorong untuk komoditi hortikultura, cabai, tembakau, jagung. Jadi, ada adaptasi komoditi terhadap perubahan iklim," terangnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi padi NTB pada 2026 mencapai 1,73 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Produksi padi NTB 2026 mengalami peningkatan sebanyak 18,52 ribu ton atau 1,08 persen dibandingkan produksi padi pada 2025 sebanyak 1,71 juta ton GKG.
Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan peningkatan produksi padi NTB pada 2026 dipengaruhi peningkatan luas panen. Luas panen padi pada 2026 diperkirakan mencapai 326,67 ribu hektare, mengalami peningkatan sebesar 3,77 ribu hektare atau 1,17 persen dibandingkan luas panen padi di 2025 yaitu sebesar 322,90 ribu hektare.
"Produksi padi di NTB tahun 2026 diperkirakan mengalami peningkatan 1,08 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh meningkatnya luas panen padi sebesar 3,77 ribu hektar dimana peningkatan luas panen terjadi pada subround 1 2026," kata Wahyudin di Mataram, Senin (2/11/2026).
Dia menyebut, produksi beras NTB pada 2026 untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan mencapai 983,69 ribu ton. Produksi beras mengalami peningkatan sebanyak 10,55 ribu ton atau 1,08 persen dibandingkan produksi beras pada 2025 yaitu sebanyak 973,14 ribu ton.
Wahyudin menjelaskan El Nino berdampak pada luas panen padi NTB di subround 2 dan 3 yang terjadi sejak pertengahan tahun hingga akhir Oktober 2026. Meski demikian, secara kumulatif, peningkatan luas panen pada subround 1 mampu mengimbangi penurunan luas panen pada subround 2 dan 3. Sehingga produksi padi NTB tahun 2026 secara keseluruhan diperkirakan tetap meningkat.