Oknum Dosen di Lombok Setubuhi 15 Korban, Modus Ritual Zikir Zakar!

Mataram, IDN Times - Seorang dosen yang mengajar di dua perguruan tinggi di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) inisial LR diduga melakukan sodomi terhadap 15 korban. Dalam melancarkan aksinya, terduga pelaku menggunakan modus ritual zikir zakar.
"Kalau di kita ada 10 korban tapi ada tambahan lagi. Di atas 15 orang korban, laki-laki semua. Korbannya ada di kampus dan juga di luar kampus," kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram Joko Jumadi dikonfirmasi IDN Times, Jumat (27/12/2024).
1. Tim LPA juga sempat mengalami percobaan kekerasan seksual

Joko menuturkan kronologi tindakan kekerasan seksual yang diduga dilakukan oknum dosen tersebut. Pihaknya menerima laporan dari salah satu Tim LPA Kota Mataram yang menjadi mahasiswa oknum dosen tersebut bahwa dia mengalami percobaan kekerasan seksual.
Berdasarkan informasi itu, kemudian LPA mendorong kasus ini diselesaikan di kampus. Tetapi ternyata beberapa hari kemudian, ada laporan yang masuk ke LPA Kota Mataram dari korban lainnya. Pada waktu itu, ada 10 orang yang diduga menjadi korban. Akhirnya, salah satu korban mau melaporkan kasus sodomi itu ke Polda NTB.
"Pada Rabu malam, ada warga yang melapor ke saya. Kemudian kita dampingi para Kamis untuk lapor ke Polda NTB. Itu di luar tim LPA yang mendapat percobaan kekerasan seksual," jelas Joko.
2. Modus pelaku melancarkan aksinya

Joko mengungkapkan modus yang digunakan pelaku dalam melancarkan aksinya kepada korban. Pelaku memakai modus manipulasi psikologis seperti yang dilakukan pria difabel tanpa tangan inisial IWAS alias Agus yang menjadi tersangka pelecehan seksual terhadap mahasiswi.
Namun, dalam kasus sodomi ini, oknum dosen tersebut menggunakan dalil-dalil bisa memberikan ilmu kepada korban dengan syarat membersihkan kemaluan.
"Ada juga yang menggunakan dalil bahwa setiap bagian tubuh berzikir. Maka kemudian ada ritual zikir zakar. Itulah beberapa caranya dia," ungkap Joko.
Joko menjelaskan kasus sodomi ini terjadi sekitar bulan Agustus - September lalu. Melihat banyaknya korban, warga sangat resah dengan perbuatan pelaku, sehingga dilaporkan ke Polda NTB. Joko mengatakan kemungkinan jumlah korban akan terus bertambah di atas 15 orang.
"Salah satu kampus sudah memberhentikan yang bersangkutan. Kemungkinan kampus yang lain juga memberhentikan. Sekarang statusnya gak lagi mengajar. Dia adalah dosen tidak tetap," terang Joko.
3. Polda NTB usut kasus sodomi oknum dosen

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda NTB Kombes Pol Syarif Hidayat mengatakan pihaknya sudah menerima laporan dari korban sodomi oknum dosen pada Kamis (26/12/2024). Pihaknya menerima laporan dari salah satu korban.
"Ini akan kita lakukan penyelidikan lebih lanjut. Karena kejadiannya sekitar dua bulan yang lalu, sekitar bulan September. Perlu diketahui bahwa korban dan pelaku sama-sama satu jenis. Jadi kita melakukan penyelidikan. Karena kejadian bulan September. Nah ini yang perlu proses penyelidikan lebih lanjut," kata Syarif di Mapolda NTB, Jumat (27/12/2024).
Syarif menjelaskan korban yang melapor sudah menjadi alumni salah satu perguruan tinggi tempat pelaku menjadi dosen. Dia mengatakan bahwa oknum dosen tersebut mengajar di dua perguruan tinggi di Kota Mataram.
"Hari ini kita juga walaupun ini sudah lama kasusnya, hari ini tim kita melakukan olah TKP. Karena kejadiannya itu di Midang Gunungsari. Kita turun ke TKP melihat posisi korban dimana, melihat posisi tersangka dimana pada saat itu. Karena keterangan dari korban bahwa dia tidak sendiri di sana. Ada beberapa temannya juga," ungkapnya.
Berdasarkan keterangan dari korban yang melapor bahwa ada korban-korban lainnya. Penyidik Ditreskrimum Polda NTB sedang mendalami siapa saja korban-korban lainnya dalam kasus ini. Penyidik akan menggali informasi dari korban-korban lainnya.
"Kalau memang bisa kita ambil keteranganya dalam pemeriksaan itu lebih baik karena itu akan menguatkan ini ada kejadian perbuatan yang dilakukan pelaku," kata mantan Wakapolresta Mataram ini.
Penyidik juga akan mendalami modus pelaku melancarkan aksinya. Dia mengatakan korban baru kenal dengan pelaku sekitar dua minggu.
"Tapi informasi didapat bahwa korban ini menganggap pelaku punya kekuatan spiritual. Kedua, menganggap pelaku ini orang yang dihormati, orang disegani," terangnya.
Syarif mengimbau bagi yang merasa menjadi korban dari pelaku segera memberikan keterangan ke Ditreskrimum Polda NTB. Dia menjamin aparat kepolisian akan menjamin kerahasiaan dari korban.
















![[QUIZ] Sudah Tersakiti tapi Masih Bertahan? Cari Tahu Alasannya dari Kuis Ini!](https://image.idntimes.com/post/20251113/pexels-gustavo-fring-4173140_8317ea12-c705-4b40-9e7b-c03fd3b3b51d.jpg)
![[QUIZ] Bagaimana Kepribadianmu saat Sendirian? Cari Tahu di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20260404/1000013396_7125005e-5677-451a-8d3d-0ba37705bec5.jpg)

