Mantan Direktur RSUD Provinsi NTB ini mengungkapkan kasus kematian akibat DBD sebagian besar terjadi disebabkan terlambatnya penderita dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Sehingga, menurutnya peran masyarakat juga sangat dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD.
Apabila masyarakat merasakan gejala DBD, diimbau untuk dapat segera membawa penderita ke Rumah Sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Secara umum, kata Fikri, kasus DBD di NTB mengalami kenaikan pada awal tahun.
Kemudian menurun menjelang pertengahan tahun dan sedikit meningkat menjelang akhir tahun. Hal ini salah satunya dipengaruhi musim pancaroba atau peralihan musim dari kemarau ke musim hujan.
Ia berharap masyarakat mewaspadai DBD dengan mengenali fase awalnya yang mirip dengan flu. Ditandai dengan rasa nyeri sendi, demam, sakit kepala hebat, hingga mual. Selain itu, timbulnya demam berat yang berlangsung 2 sampai 7 hari juga menjadi gejala DBD.
"Apabila merasakan gejala-gejala tersebut, segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan," sarannya.
Menurut Fikri, pencegahan DBD yang paling utama adalah dengan menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan konsep 3M Plus.
Yakni menguras dan menyikat bak penampungan air, menutup tempat penampungan air, memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas serta menggunakan obat nyamuk, penaburan larvasida, pemasangan kawat, dan gotong-royong menjaga dan membersihkan lingkungan.