Kepala BKSDA NTB Joko Iswanto. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Di sisi lain, BKSDA NTB pun tetap peduli dalam perlindungan satwa-satwa lokal terancam praktik perburuan. Joko menyebutkan, populasi rusa timor yang terus menurun.
Yaitu rusa timor atau cervus timorebsis. Maskot Provinsi NTB ini terdampak pemanfaatan lahan kawasan hutan, perburuan, perambahan hutan, serta ilegal logging.
"Kalau di wilayah BKSDA NTB belum ada penjualan rusa yang digagalkan. Dulu, ada malah dari wilayah timur, ada yang mengambil rusa dari Flores NTT. Itu digagalkan di wilayah Sape Bima. Ternyata ada masyarakat Bima yang berburu rusa ke Flores," kata Joko saat berbincang dengan IDN Times di Mataram.
BKSDA NTB belum memiliki angka pasti jumlah populasi rusa timor yang ada di alam bebas, baik di Pulau Lombok dan Sumbawa. Namun, BKSDA NTB punya data jumlah rusa timor mencapai ratusan ekor yang berada di penangkaran.
Joko menyebutkan BKSDA NTB telah mengeluarkan sekitar 40 izin penangkaran rusa yang dilakukan oleh masyarakat. Dalam satu penangkaran, paling sedikit ada 2 rusa betina dan satu ekor jantan.
"Populasinya menurun tapi tidak signifikan. Karena pemanfaatan lahan hutan. Masyarakat masih banyak juga yang memburu. Makanya begitu ada yang ditangkap masyarakat kita datangi mereka. Lalu kita arahkan mereka membuat izin penangkaran. Boleh memelihara rusa tapi harus ada izin penangkaran dari BKSDA," terangnya.
BKSDA NTB juga melakukan pengembangbiakan rusa timor semi alami di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak. Lokasi berdekatan dengan Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Mandalika, Lombok Tengah. Di sana, ada pengembangbiakan 39 ekor rusa timor, di mana sebagian rusa nantinya dilepasliarkan.
"Pada tahun ini ada 9 ekor rusa timor yang dilepasliarkan di sana," ungkanya.