Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bantuan Minim Harus Dibagi ke 11 Desa, Camat di NTT Frustrasi dan Protes BNPB
Camat Lamba Leda Utara Agustinus Supratman meluapkan kekesalan soal pembagian bantuan bagi korban gempa. (facebook.com/Iyand Purnama)
  • Camat Lamba Leda Utara, Agustinus Supratman, memprotes BNPB karena bantuan gempa Flores dinilai minim dan harus dibagikan merata kepada 11 desa terdampak.
  • Ia menyebut sekitar 21 ribu warga membutuhkan bantuan, sementara protes warga meningkat karena banyak desa merasa belum menerima distribusi bantuan.
  • BNPB menilai insiden itu sebagai kesalahpahaman di situasi darurat bertekanan tinggi dan memastikan koordinasi penanganan bencana dengan berbagai pihak tetap berjalan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Camat Lamba Leda Utara (LAUT), Agustinus Supratman, meluapkan kekesalannya terhadap salah satu pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kemarahannya yang meledak-ledak itu terekam oleh warga sekitar yang sedang menanti bantuan di posko. Lamba Leda Utara sendiri merupakan salah satu kecamatan di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, yang terdampak gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 lalu.

Camat tersebut merasa tersinggung karena pejabat BNPB menyebutkan bahwa bantuan yang datang ke tempatnya sudah banyak. Namun, ia merasa jumlah bantuan tersebut tidak cukup, sementara ia harus membagikannya secara adil ke 11 desa. Ia pun merasa seolah-olah pihak BNPB menekannya.

"Bapak bilang bantuan sudah banyak sekali turun di sini. Saya tersinggung sekali, Pak. Rasanya saya ditekan untuk (membagikan ini) ke sebelas desa. Bukan begitu caranya. Saya sangat tidak setuju. Semua desa sekarang protes kepada saya dan berteriak. Semua bilang belum dapat, padahal saya harus bagi ke 11 desa," ujarnya.

1. Ingin pembagian yang merata

Camat Lamba Leda Utara Agustinus Supratman meluapkan kekesalan soal pembagian bantuan bagi korban gempa. (facebook.com/Iyand Purnama)

Ia beberapa kali meninggikan suaranya karena merasa tidak terima. Masyarakat terus meminta bantuan darinya karena jumlah bantuan dari BNPB belum merata. Ia menyebutkan, ada sekitar 21 ribu warga terdampak di Kecamatan Lamba Leda Utara yang harus mendapatkan bantuan tersebut secara adil.

"Saya mau bagi rata 11 desa!," ujarnya lagi.

Pernyataannya itu disambut sorak-sorai masyarakat yang berusaha mengamankan tumpukan bantuan di sana. Pria berompi BNPB tersebut sempat mencoba menenangkan sang camat. Namun, karena amarah Camat Lamba Leda Utara itu tak kunjung surut, pejabat BNPB tersebut perlahan mundur dan menjauhi kerumunan warga.

2. Sampai banting bantuan karena kesal

Camat Lamba Leda Utara Agustinus Supratman meluapkan kekesalan soal pembagian bantuan bagi korban gempa. (facebook.com/Iyand Purnama)

Tak puas sampai di situ, ia berusaha membawa pejabat tersebut kembali ke lokasi dan menunjukkan tumpukan paket bantuan yang dikirimkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Ia menginginkan pembagian dilakukan sesuai kondisi riil di lapangan.

"Bapak 'jual' saya," kata dia dengan kesal sambil membanting salah satu paket bantuan.

"Saya stres, saya stres! Bagi rata! Semua bantuan itu bagi rata. Saya hargai Bapak dari kemarin itu seperti Tuhan. Saya tidak tahan, Pak," ungkapnya yang kemudian dirangkul oleh pejabat BNPB tersebut.

"Saya stres, Pak! Bantuan sedikit untuk banyak orang, seolah-olah Bapak punya bantuan sudah banyak. Supaya Bapak tahu, saya juga pengungsi. Istri saya juga masih tidur di hutan!," ujarnya.

3. Tanggapan BNPB

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan sekaligus Direktur Peringatan Dini BNPB, Berton Panjaitan. (YouTube/BNPB)

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan sekaligus Direktur Mitigasi Bencana BNPB, Berton SP Pandjaitan, telah menanggapi kasus tersebut pada Jumat (21/8/2026). Dalam konferensi pers saat itu, Berton menyebutkan bahwa kesalahpahaman bisa terjadi di lapangan, apalagi di dalam situasi darurat seperti saat ini.

"Dalam melaksanakan koordinasi ataupun tugas, ada saja apa yang kita sebut dengan berbeda pendapat atau hal-hal yang intens. Kita tahu, dalam penanganan bencana ini dibutuhkan energi dan perhatian karena tingginya tekanan psikologis maupun tekanan lainnya, sehingga kesalahpahaman bisa saja terjadi," jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa BNPB memaklumi hal tersebut dan kejadian ini tidak akan memengaruhi kerja mereka. Pihaknya akan terus berkoordinasi dengan semua pihak dalam berbagai kondisi.

"Kami tetap menjaga hubungan yang baik dengan kementerian/lembaga, dunia usaha, pemda, maupun NGO yang bekerja sama dengan kita," tambahnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article