Aksi Dua Anak Ini Picu Tawuran Antarkampung di Flores Timur NTT

- Situasi mereda pada dini hari, konflik antarkampung berakhir tanpa korban jiwa setelah polisi turun tangan.
- Aksi saling serang beredar di media sosial, Polres Flores Timur memantau situasi dan mencegah kejadian serupa.
- Konflik antarkampung ini bukan kali pertamanya terjadi, kejadian serupa terulang beberapa kali sebelumnya.
Kupang, IDN Times - Aksi pelemparan batu ke Kantor Lurah Amagarapati oleh dua anak asal Kelurahan Postoh memicu keributan massal antarwarga di wilayah perbatasan Lewerang–Postoh, Kecamatan Larantuka. Insiden yang terjadi pada Jumat (2/1/2026) ini menyebabkan ketegangan meningkat dan berujung pada aksi tawuran antarkampung yang melibatkan banyak warga setempat.
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, membenarkan terjadinya konflik tersebut dalam keterangan resminya pada Senin (5/1/2026). Pihak kepolisian saat ini telah melakukan penelusuran awal serta menyiagakan personel untuk melakukan pengamanan ketat di wilayah konflik guna mencegah terjadinya bentrokan susulan.
1. Situasi mereda pada dini hari

Ia menyebut insiden yang bermula dari hal sepele ini lantas langsung memanas dan berubah menjadi aksi saling lempar batu antara warga Kelurahan Amagarapati dan Kelurahan Postoh.
"Meski situasi sempat tegang, beruntung tidak ada korban jiwa," tukasnya.
Ia mengungkapkan pihaknya bersama personel dari polres terkait langsung bergerak ke tempat kejadian perkara (TKP). Konflik ini reda pada Sabtu dini hari.
"Kami segera melakukan penguraian massa dan memberikan imbauan kamtibmas. Pada Sabtu, 3 Januari 2026 sekitar pukul 01.00 WITA, situasi berhasil kami kendalikan dan kembali aman kondusif," sebutnya.
2. Beredar di media sosial

Saat ini, kata dia, Polres Flores Timur terus memantau situasi serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat untuk mencegah kejadian serupa.
"Jangan mudah terprovokasi oleh aksi-aksi kecil yang bisa memecah belah. Serahkan sepenuhnya penanganan kepada aparat keamanan," pungkasnya.
Aksi saling serang ini sempat beredar di media sosial dalam rekaman video berdurasi 54 detik. Gerombolan pemuda berlarian dan saling menyerang. Para pemuda itu tampak menggunakan helm di kepala. Ada pula yang menutup wajah dengan baju.
Dalam video yang sama menunjukkan sejumlah personel termasuk TNI turun ke lokasi yang berceceran batu usai meredam konflik tersebut.
3. Konflik berulang

Aksi saling serang antara kedua wilayah ini bukan kali pertamanya terjadi. Kejadian ini berulang kali terjadi seperti pada 2 - 3 Desember 2025 lalu. Kejadian yang sama juga terjadi pada April dan Agustus 2025 lagi dengan pemicu yang berbeda-beda.
Polisi sampai berpatroli dan penjagaan dilakukan secara intensif di 3 titik hingga pagi hari. Setiap titik rawan mendapat pengawasan, sementara komunikasi dengan tokoh masyarakat serta pihak kelurahan dilakukan untuk meredakan situasi dan menjaga stabilitas keamanan.

















