Tradisi Tiu di Desa Jantuk, Pawai Berkuda Warisan Kesultanan Sumbawa

Lombok Timur, IDN Times – Di tengah hiruk pikuk perayaan Idul Fitri yang identik dengan mudik dan kunjungan keluarga, Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, memiliki tradisi unik yang selalu dinantikan. Ribuan warga memadati jalanan desa untuk menyaksikan Tradisi Tiu, yaitu pawai atau arak-arakan ratusan kuda yang berjalan beriringan dengan penunggangnya, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, laki-laki maupun perempuan.
Tradisi yang digelar setiap tahun pada tanggal 1 dan 2 Syawal ini menjadi simbol kebersamaan, sekaligus bentuk perayaan kemenangan setelah sebulan menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Pelaksanaan Tradisi Tiu terbagi dalam dua sesi. Pada tanggal 1 Syawal, pawai dilaksanakan pada sore hari sekitar pukul 16.00 Wita setelah salat Asar hingga pukul 17.30 Wita atau menjelang Magrib. Sesi kedua yang menjadi puncak acara digelar pada dini hari tanggal 2 Syawal, tepatnya pukul 03.00 hingga 06.30 pagi. Waktu pelaksanaan dini hari ini telah menjadi ketentuan turun-temurun yang dijaga oleh masyarakat setempat. Rute pawai sepanjang sekitar 500 meter melintasi jalan utama desa, disaksikan oleh ribuan warga yang memadati pinggir jalan.
1. Berawal dari perang kerajaan

Menurut penuturan Kepala Desa Jantuk, Yudi Hermawan, asal-usul Tradisi Tiu berkaitan erat dengan peristiwa sejarah perang antara Kerajaan Selaparang (Lombok Timur) dan Kerajaan Karangasem (Bali). Pada masa itu, Kerajaan Selaparang meminta bantuan pasukan dari Kesultanan Sumbawa yang datang dengan menunggangi kuda sebagai alat transportasi.
"Setelah berhasil memukul mundur pasukan Kerajaan Karangasem, sebagian prajurit tersebut tidak kembali ke daerah asalnya. Mereka justru menetap di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Jantuk," ujar Yudi Hermawan, Senin (23/3/26).
Seiring berakhirnya konflik, kuda-kuda yang sebelumnya digunakan dalam peperangan kemudian dimanfaatkan untuk merayakan kemenangan. Dari sinilah tradisi ini diyakini bermula dan terus dilestarikan hingga kini.
Secara etimologis, kata "Tiu" atau "Tiyu" berasal dari bahasa setempat yang berarti pawai menggunakan kuda. Versi lain menyebutkan bahwa Tiu merupakan nama sebuah bendungan di Sumbawa yang biasa digunakan untuk memandikan kuda sebelum salat Idulfitri.
2. Harga sewa tembus Rp15 juta

Tahun ini, sebanyak 210 ekor kuda ikut meramaikan Tradisi Tiu. Kuda-kuda tersebut didatangkan dari berbagai wilayah di Pulau Lombok, seperti Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, dan Lombok Timur. Yang menarik, sebagian besar warga Desa Jantuk tidak memelihara kuda sendiri. Mereka rela merogoh kocek dalam-dalam untuk menyewa kuda dengan harga bervariasi antara Rp3,5 juta hingga Rp5 juta per ekor, tergantung ukuran, kecepatan, dan kelincahan kuda.
"Mau tidak mau masyarakat keluar mencari, karena di sini tidak ada kuda dan kami ingin mendapatkan yang bagus," kata Yudi.
Jumlah partisipasi kuda tahun ini sebut Yudi mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun lalu, hal itu disebabkan karena kondisi ekonomi masyarakat yang menuurun, serta banyaknya masyarakat yang pergi merantau ke luar negeri.
Meskipun dalam keterbatasan ekonomi, tradisi Tiu menjadi prioritas utama warga. Banyak masyarakat yang lebih mengutamakan biaya untuk menyewa kuda dibandingkan membeli pakaian Lebaran. Tingginya antusiasme juga terlihat dari warga perantauan yang memilih pulang kampung demi ikut serta dalam pawai Tiu.
"Tahun ini menurun, jika dibandingkan tahun lalu yang mencapai 230 ekor kuda," sebutnya.
3. Potensi kecelakaan dalam event ini

Bagi masyarakat Desa Jantuk, Tradisi Tiu bukan sekadar hiburan semata tetapi menjadi kebangggan masyarakat dan desa. Tradisi ini adalah warisan leluhur yang sarat makna bukan hanya tentang kuda dan pawai, tetapi tentang semangat perjuangan, kebersamaan, dan rasa syukur atas kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Sebelum menunggang kuda, warga terlebih dahulu berkumpul, bersalam-salaman, dan saling bermaaf-maafan dalam suasana Idulfitri.
Karenanya, menurut Yudi, kecelakaan berkuda saat merayakan Tiu merupakan hal lumrah, dan itu merupakan semangat perjuangan mengenang semangat leluhur yang menjadi pasukan. Pada tradisi tahun ini terjadi tiga kecelakaan, namun kondisi korban tidak terlalu parah, hanya mengalami luka lecet. Selain itu ada satu kuda meninggal karena kelelahan.
Meskipun tradisi ini berlangsung dengan semangat tinggi, pihak desa terus mengingatkan peserta untuk berhati-hati mengingat risiko yang mungkin terjadi. Selain itu pelaksanaan tradisi yang melibatkan ratusan kuda dan ribuan penonton ini mendapat pengamanan ketat dari aparat kepolisian.
"Kita ketat dengan pengamanan, kita awasi, kita sediakan ambulan, semua sudah kita lakukan antisipasi. Memang kecelakaan berkuda ini hal lumrah dan itu resiko. Kecelakaan pasti terjadi rata-rata itu disebabkan karena kuda menjadi liar karena terlalu ramai sehingga tidak bisa dikontrol," pungkasnya.


.png)















