Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Profil Dokter Tri Maharani, Pakar Toksinologi Ular Berbisa di Indonesia
Dokter Spesialis Kedaruratan Subspesialis Toksinologi, Dr.dr. Tri Maharani. (Tangkapan Layar/YouTube Raditya Dika)
  • Tri Maharani adalah dokter spesialis kedaruratan yang fokus pada toksinologi klinis, khususnya penanganan gigitan ular berbisa, serta aktif di Kementerian Kesehatan sebagai Ketua Tim Kerja Keracunan.
  • Ia diakui sebagai satu-satunya dokter Indonesia dengan kepakaran toksinologi ular berbisa, berperan dalam penyusunan pedoman WHO dan menjadi rujukan nasional untuk konsultasi kasus gigitan ular.
  • Tri Maharani memperjuangkan ketersediaan antivenom, mendonasikan serum antibisa sejak 2014, meneliti epidemiologi gigitan ular, serta mengedukasi masyarakat tentang pertolongan pertama yang benar bagi korban gigitan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mataram, IDN Times - Nama Dokter Tri Maharani sudah lama dikenal sebagai sosok yang berada di balik berbagai upaya penyelamatan korban gigitan ular berbisa di Indonesia. Dokter spesialis kedaruratan ini mendedikasikan kariernya untuk bidang yang masih sangat langka, yakni toksinologi klinis, khususnya penanganan keracunan akibat bisa ular dan hewan berbisa.

Namanya semakin dikenal setelah menjadi salah satu penyusun pedoman penanganan gigitan ular berbisa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan aktif memperjuangkan ketersediaan serum antibisa di Indonesia. Hingga kini, Tri Maharani masih menjadi figur paling menonjol dalam pengembangan ilmu toksinologi ular berbisa di Tanah Air.

1. Dokter spesialis kedaruratan yang menekuni bidang toksinologi ular berbisa

ilustrasi dokter (pixabay.com/kumarsu6745_)

Tri Maharani merupakan dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yang kemudian melanjutkan pendidikan sebagai dokter spesialis Emergency Medicine (Sp.EM). Selain menyandang gelar Magister Sains (M.Si), ia juga mengikuti pendidikan fellowship bidang Clinical Toxinology di University of Adelaide pada 2017, salah satu pusat pendidikan toksinologi paling terkemuka di dunia.

Gelar akademik yang kini banyak digunakan adalah Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.EM., Subsp.Tox(K), FICEP, FIMMA. Gelar Subsp.Tox(K) menunjukkan konsultan pada bidang toksinologi, sedangkan FICEP dan FIMMA merupakan fellowship internasional di bidang kedokteran emergensi.

Saat ini Tri Maharani bertugas di lingkungan Kementerian Kesehatan sebagai Ketua Tim Kerja Keracunan pada Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK). Ia juga aktif menjadi narasumber nasional, peneliti, penyusun pedoman klinis, serta memberikan konsultasi bagi tenaga kesehatan di berbagai daerah yang menangani kasus gigitan ular berbisa.

2. Satu-satunya dokter spesialis toksinologi ular berbisa di Indonesia, benarkah?

Ilustrasi ular berbisa (unsplash.com/ArvidHeidahi)

Klaim bahwa Tri Maharani merupakan "satu-satunya dokter spesialis toksinologi ular berbisa di Indonesia" pada dasarnya benar dalam hal kepakaran klinis yang diakui secara luas. Berbagai sumber menyebut bahwa ia merupakan satu-satunya dokter Indonesia yang memiliki kepakaran khusus di bidang clinical toxinology untuk penanganan gigitan ular berbisa.

Bahkan ketika menyelesaikan fellowship toksinologi di Australia, disebutkan bahwa jumlah dokter dengan keahlian serupa di dunia hanya sekitar 53 orang. Keahlian tersebut tidak hanya mencakup identifikasi jenis ular, tetapi juga diagnosis keracunan, penggunaan antivenom, tata laksana kegawatdaruratan, hingga penelitian venom dan toksin.

Selain menjadi anggota tim penyusun pedoman WHO tentang penanganan gigitan ular berbisa yang terbit pada 2019, Tri Maharani juga menjadi rujukan berbagai rumah sakit di Indonesia. Ia menerima konsultasi dari dokter di berbagai daerah mengenai tata laksana pasien gigitan ular berbisa melalui telepon maupun sistem konsultasi daring.

3. Prestasi, kontribusi dan karya ilmiah yang paling berpengaruh

ilustrasi buku (pexels.com/Valentin Ivantsov)

Salah satu kontribusi terbesar Tri Maharani adalah memperjuangkan akses antivenom bagi pasien. Dikutip dari berbagai sumber, sejak 2014, ia mengaku menggunakan sebagian besar penghasilannya untuk membeli serum antibisa yang kemudian didonasikan kepada rumah sakit atau pasien yang membutuhkan karena stok nasional sering kali terbatas.

Ia juga aktif mengembangkan penelitian mengenai epidemiologi gigitan ular di Indonesia, karakteristik ular berbisa lokal, efektivitas antivenom, hingga edukasi pertolongan pertama berbasis bukti. Salah satu publikasi dan kajian yang paling sering dirujuk adalah penelitian mengenai gigitan Kobra Jawa (Naja sputatrix) yang menjadi dasar berbagai edukasi nasional karena menunjukkan bahwa spesies tersebut merupakan penyebab kasus gigitan ular terbanyak di Indonesia pada periode 2018–2023. Temuan itu kemudian menjadi pijakan dalam penyusunan pedoman distribusi serum antibisa dan pelatihan tenaga kesehatan.

Prestasi lain yang diraihnya antara lain menjadi anggota penyusun pedoman WHO tentang snakebite management, menerima penghargaan Wanita Inspirasi Indonesia 2016, serta dikenal luas sebagai tokoh yang memperkenalkan prinsip imobilisasi sebagai pertolongan pertama yang benar bagi korban gigitan ular berbisa di Indonesia. Edukasi tersebut berhasil mengubah berbagai praktik keliru, seperti menyayat luka, mengisap bisa, atau memasang torniket yang justru memperburuk kondisi pasien.

Editorial Team

Related Article