Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Keracunan Ratusan Siswa di MBG Lombok Tengah, Ini Dalih Bos SPPG
Ketua Yayasan Budi Sain Mangkling yang menaungi SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu, Khairuddin. (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • Ratusan siswa SD dan MTs di Batukliang, Lombok Tengah, mengalami sakit perut, mual, dan pusing setelah menyantap kebab ayam program MBG.
  • Ketua yayasan SPPG menyebut kebab bermayones terlambat dibagikan dan dikonsumsi melewati SOP pukul 09.00 WITA, meski sampel makanan sebelumnya telah diuji.
  • BGN NTB menutup sementara SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu; 333 korban tercatat, seluruhnya telah pulang dari fasilitas kesehatan, sementara hasil uji laboratorium masih ditunggu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lombok Tengah, IDN Times - Ratusan siswa Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengalami gejala sakit perut, mual, dan pusing usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (11/9/2026). Ketua Yayasan Budi Sain Mangkling yang menaungi SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu, Khairuddin buka suara terkait kasus keracunan massal yang menimpa ratusan siswa SD dan MTs tersebut.

​Khairuddin, menjelaskan bahwa menu yang dibagikan pada hari kejadian adalah kebab ayam. Menu itu kata dia, merupakan request atau permintaan dari para siswa. Berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP), makanan basah seperti kebab ayam yang mengandung mayones wajib dikonsumsi di bawah pukul 09.00 WITA.

​"Kebetulan yang diberikan hari ini menu kebab. Sesuai ketentuan, di bawah jam 9 harus dimakan. Namun, ada sebagian sekolah yang terlambat memberikan sehingga terjadilah, bahasa kasarnya, basi," kata Khairuddin.

1. Klaim telah lakukan uji sampel makanan sebelum didistribusikan ke sekolah

Menu MBG kebab ayam yang dikonsumsi para siswa. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Dia menjelaskan proses memasak sebenarnya sudah dimulai sejak pukul 12.00 malam, sedangkan proses packing mulai pada pukul 04.30 WITA. Selanjutnya, MBG didistribusikan ke sekolah-sekolah dimulai pukul 07.00 WITA.

Sebelum makanan didistribusikan ke sekolah-sekolah, kata dia, telah dilakukan uji sampel. Dimana, salah satu anggota TNI mencicipi menu MBG kebab ayam tersebut sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah.

Dia juga menyebutkan ada 50 penerima manfaat dekat SPPG yang mengonsumsi makanan tersebut tidak mengalami gejala apapun karena dikonsumsi di bawah pukul 09.00 WITA.

​Khairuddin mengatakan ada kelalaian di lapangan yang membuat tenggat waktu konsumsi terlampaui dari pukul 09.00 WITA. ​"Kadang pendistribusian, kadangkala guru juga ada acara maulidan. Setelah itu baru dibagikan ke anak-anak kita. Boleh dikatakan sudah melanggar SOP," tambahnya.

2. Makanan ala hotel picu petaka

Kondisi dapur SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Selain faktor keterlambatan konsumsi yang memicu basi pada mayones, Khairuddin mengatakan adanya faktor kesehatan individu, seperti siswa yang memiliki riwayat penyakit maag sehingga memicu komplikasi gejala sakit perut. Dari ratusan siswa yang dibawa ke Puskesmas, kata dia akibat kepanikan massal.

Dia menyebutkan seperti di Puskesmas Aik Darek dari 67 siswa yang dibawa ke sana, hanya sebagian kecil yang benar-benar menunjukkan gejala. Sementara sisanya ikut dibawa karena kepanikan orang tua dan lingkungan sekitar.

Sebagai pemilik SPPG, dia mengkritik menu kebab ayam yang disebut makanan ala hotel penyebab terjadinya kejadian keracunan massal. "Makanan yang dia buat kelihatan high class, tapi itu membawa petaka. Sehingga sekarang kita harap jangan menu yang aneh-aneh ala hotel tapi yang sederhana tapi bisa diterima oleh perut," kata dia.

3. SPPG ditutup sementara

SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu. (IDN Times/Muhammad Nasir)

​Sementara, Badan Gizi Nasional (BGN) Regional NTB memastikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu yang menyalurkan MBG tersebut ditutup sementara. Koordinator BGN Regional NTB, Eko Prasetyo, menyatakan bahwa laporan insiden ini telah diteruskan ke BGN RI.

​"Laporan sudah naik ke pusat, dan SPPG akan diberhentikan sementara," kata Eko.

​Berdasarkan data by name by address per Kamis (11/9/3026) pukul 18.00 WITA, jumlah total korban tercatat sebanyak 333 orang, berkurang dari data awal Tim Surveilans Dinas Kesehatan yang sempat mencatat 352 orang. Rincian korban yang sempat mendatangi fasilitas kesehatan meliputi Puskesmas Pringgarata 180 orang, Puskesmas Aik Darek 86 orang, Puskesmas Mantang 51 orang dan Puskesmas Bagu 16 orang.

​Eko menambahkan seluruh korban yang sempat dibawa ke Puskesmas kini telah dipulangkan dan tidak ada lagi yang menjalani rawat inap di fasilitas kesehatan. Saat ini, BGN Regional NTB bersama instansi terkait masih menunggu hasil uji laboratorium resmi terhadap sampel makanan yang diproduksi SPPG untuk memastikan secara pasti penyebab keracunan massal tersebut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article