Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ditopang Tambang, Ekonomi NTB Tumbuh 5,3 Persen Sepanjang 2024

Ditopang Tambang, Ekonomi NTB Tumbuh 5,3 Persen Sepanjang 2024
Ilustrasi pengangkutan bahan tambang (Dok/Screenshot AMMAN).

Mataram, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang 2024 sebesar 5,3 persen (c-to-c). Pertumbuhan ekonomi NTB 2024 mengalami kenaikan dibandingkan 2023 yakni sebesar 1,8 persen.

Kepala BPS NTB, Wahyudin mengatakan pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha. Sepanjang 2024, sektor pertambangan mengalami pertumbuhan signifikan mencapai 11,66 persen.

"Sementara itu, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang memiliki share paling dominan terhadap perekonomian Provinsi NTB tumbuh sebesar 1,54 persen. Sedangkan lapangan usaha konstruksi yang share-nya tertinggi keempat tumbuh sebesar 2,93 persen," kata Wahyudin di Mataram, Rabu (5/2/2025).

1. Lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan pada 2024

Kepala BPS Provinsi NTB Wahyudin. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Kepala BPS Provinsi NTB Wahyudin. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Wahyudin menyebutkan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan pada 2024, selain pertambangan dan penggalian. Antara lain lapangan usaha pengadaan listrik dan gas sebesar 9,08 persen.

Selanjutnya, penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 8,37 persen serta administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar 6,56 persen.

Selanjutnya, lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 6,19 persen. Lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh sebesar 5,87 persen.

Kemudian jasa keuangan dan asuransi tumbuh 5,72 persen serta jasa perusahaan tumbuh sebesar 5,24 dan jasa lainnya tumbuh sebesar 4,81 persen.

2. Pengeluaran konsumsi LNPRT tertinggi

Bantuan beras untuk korban banjir di Batubara (dok.Inalum)
Bantuan beras untuk korban banjir di Batubara (dok.Inalum)

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen pengeluaran konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tabga (LNPRT) sebesar 11,26 persen. Kemudian diikuti komponen ekspor barang dan jasa yang tumbuh sebesar 5,77 persen.

Berikutnya komponen pengeluaran konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 5,17 persen. Selanjutnya, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,45 persen dan komponen pembentukan modal tetap bruto tumbuh sebesar 3,11 persen.

"Sedangkan komponen impor barang dan jasa yang menjadi faktor pengurang tumbuh sebesar 3,87 persen," jelas Wahyudin.

Secara terperinci, Wahyudin menyebutkan pertumbuhan ekonomi NTB setiap triwulan sepanjang 2024. Pada triwulan I 2024, pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 4,75 persen, triwulan II sebesar 11,06 persen, triwulan III sebesar 6,22 persen dan triwulan IV minus 0,5 persen.

3. Penyebab ekonomi NTB triwulan IV 2024 mengalami kontraksi

Petani di desa Songak Lotim saat membersihkan gulma padi (IDN Times/Ruhaili)
Petani di desa Songak Lotim saat membersihkan gulma padi (IDN Times/Ruhaili)

Wahyudin menambahkan pada triwulan IV 2024 dibandingkan triwulan IV 2023, ekonomi NTB mengalami kontraksi sebesar 0,5 persen. Dia menjelaskan pertumbuhan terjadi pada 15 lapangan usaha sedangkan 2 lapangan usaha lainnya mengalami kontraksi.

Dia mengatakan lapangan usaha yang mengalami kontraksi terdalam adalah pertambangan dan penggalian sebesar 16,84 persen. Disusul oleh jasa keuangan dan asuransi yang mengalami kontraksi sebesar 8,91 persen.

Sedangkan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah pengadaan listrik dan gas sebesar 16,29 persen. Disusul lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 9,44 persen.

Kemudian penyediaan akomodasi, makan dan minum sebesar 7,26 persen serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 6,31 persen.

Selanjutnya lapangan usaha jasa lainnya tumbuh sebesar 5,92 persen, real estate tumbuh 5,50 persen, jasa perusahaan tumbuh 4,98 persen serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 4,82 persen.

"Sementara itu, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang memiliki share paling dominan terhadap perekonomian di NTB tumbuh sebesar 2,75 persen. Sedangkan lapangan usaha konstruksi yang share-nya tertinggi keempat tumbuh sebesar 2,96 persen.

Wahyudin menyarankan kepada Pemda NTB supaya menggenjot sektor pertanian dan perdagangan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi NTB. Apalagi, pada 2025, pemerintah pusat menargetkan pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 7 persen.

Dia mengatakan sektor pertanian memiliki share terhadap ekonomi NTB sebesar 20,06 persen. Sedangkan sektor perdagangan memiliki share sebesar 14,47 persen. Sedangkan sektor pertambangan memiliki share terhadap ekonomi NTB sebesar 19,02 persen.

Apabila ketiga sektor ini digenjot pada 2025, dia optimistis ekonomi NTB akan mampu mencapai target 7 persen pada 2025. Menurut Wahyudin, pertambangan emas dan tembaga milik PT Sumbawa Timur Mining (STM) di Kabupaten Dompu perlu digesa, karena saat ini masih dalam tahap eksplorasi. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
Muhammad Nasir
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More

Dua Lurah di Kupang Dianiaya usai Digrebek Berduaan

05 Apr 2026, 15:35 WIBNews