Mario Calviano Guru saat mendapatkan perawatan medis di RS Aeramo. (IDN Times/Uni Lubis)
Sebelum mengembuskan napas terakhir, Calvino sempat dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Aeramo, kemudian dirujuk ke RS Bajawa akibat demam tinggi. Demam itu menyembabkan tubuhnya kaku dan kejang.
"Anak ini sebelumnya sehat dan sangat segar. Ia sakit karena terpapar dingin di pengungsian. Itulah yang membuat saya sangat terpukul," ujar Jack, salah satu anggota keluarga korban.
Jack mendesak pemerintah agar segera bertindak cepat untuk menangani kondisi para pengungsi yang saat ini bertahan tanpa tenda maupun fasilitas yang memadai.
"Kami mohon bantuan segera. Ini situasi yang serius. Korban meninggal baru berusia dua tahun. Ia jatuh sakit hanya karena kondisi keterbatasan di atas bukit, tanpa kelambu dan tanpa tenda. Sebagai keluarga, saya berbicara dengan duka yang mendalam atas kepergian keponakan saya ini," pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin juga telah menjenguk dan meninjau kondisi Mario Calviano Guru yang tengah dirawat di RSUD Aeramo pada Rabu (19/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, Menkes menyempatkan diri berbincang dengan pihak keluarga mengenai perkembangan kondisi Calvino.
"Saya ingin memastikan RS Lapangan segera berfungsi, sehingga pasien-pasien segera ditangani dengan baik. Prioritasnya menyelamatkan nyawa," kata Budi yang saat itu melakukan pengecekan kondisi sejumlah pasien, termasuk Calvino.
Diketahui bahwa Kemenkes telah membangun RS Lapangan di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo. Pendirian fasilitas kesehatan darurat ini untuk memastikan kesiapan pelayanan medis sekaligus mendukung pemulihan fasilitas kesehatan pascagempa bumi dengan magnitudo 7,7 yang melanda wilayah NTT pada Sabtu 15 Agustus 2026.
Keluhan kekurangan peralatan medis dan tenda misalnya, langsung ditindaklanjuti Budi dengan meminta tim Kemenkes mengadakan yang dibutuhkan. "Segera ya. Secepatnya. Besok," kata Budi.