Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Tertimpa Bangunan, Balita Meninggal karena Kedinginan di Pengungsian Nagekeo
Seorang anak di Nagekeo meregang nyawa setelah berhari-hari bertahan di pengungsian. (facebook.com/Nona FBW)
  • Mario Calviano Guru, balita 2 tahun asal Nagekeo, meninggal setelah sakit di pengungsian Bukit Puta pascagempa Flores pada 15 Agustus 2026.
  • Keluarga dan relawan menyebut minimnya selimut, tenda, air bersih, obat, serta fasilitas kesehatan memperburuk kondisi pengungsi; Calvino sempat dirawat di RS Aeramo dan dirujuk ke RS Bajawa.
  • Basarnas mencatat 13 orang meninggal, 13 luka berat, dan 9 luka ringan akibat gempa Nagekeo; bantuan logistik baru mulai datang pada hari keempat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
15 Agustus 2026

Gempa magnitudo 7,7 melanda Pulau Flores dan memaksa warga mengungsi.

Kamis (20/8/2026)

Mario Calviano Guru (2) meninggal dunia setelah sakit saat bertahan di Posko Pengungsian Bukit Puta. Ia sempat dirawat dan dirujuk ke rumah sakit.

Kamis (21/8/2026) pukul 12.00 WITA

Basarnas mencatat 13 orang meninggal dunia akibat gempa di Kabupaten Nagekeo, dengan 13 warga luka berat dan 9 luka ringan.

Jumat (21/8/2026)

Relawan Afik menyatakan kondisi kesehatan Calvino menurun akibat minimnya bantuan dan fasilitas kesehatan di pengungsian.

Saat ini

Para penyintas masih menghadapi dingin, keterbatasan tempat tinggal, obat-obatan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Mario Calviano Guru, anak laki-laki berusia 2 tahun, meninggal setelah sakit saat mengungsi pascagempa di Nagekeo. Ia mengalami demam tinggi, tubuh kaku, dan kejang sebelum meninggal.
  • Who?
    Mario Calviano Guru, keluarganya, relawan Afik dari Posko Askar Kauny, warga Desa Marapokot, serta pengungsi terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo.
  • Where?
    Korban sempat berada di Posko Pengungsian Bukit Puta, kemudian dirawat di RS Aeramo dan dirujuk ke RS Bajawa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
  • When?
    Mario meninggal pada Kamis, 20 Agustus 2026, lima hari setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026.
  • Why?
    Keluarga dan relawan menyatakan korban sakit setelah terpapar dingin di pengungsian yang kekurangan selimut, tenda, air bersih, obat-obatan, dan fasilitas kesehatan memadai.
  • How?
    Setelah kesehatannya menurun di pengungsian, Mario dibawa ke RS Aeramo lalu dirujuk ke RS Bajawa karena demam tinggi. Perawatan medis tidak berhasil menyelamatkan nyawanya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mario, anak umur 2 tahun dari Nagekeo, meninggal setelah gempa di Flores. Ia tinggal di tempat pengungsian yang dingin dan susah air bersih. Mario sempat sakit demam, dibawa ke rumah sakit, lalu meninggal. Keluarganya minta pemerintah cepat memberi tenda, selimut, air, dan obat untuk pengungsi lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Perjuangan hidup seorang anak korban gempa di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur harus berakhir di tengah dinginnya posko pengungsian. Mario Calviano Guru (2), balita asal Nagekeo ini meninggal dunia pada Kamis (20/8/2026).

Ia sempat bertahan di posko pengungsian Bukit Puta pascagempa yang melanda wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026 lalu. Menurut keterangan pihak keluarga, korban sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, nyawa balita tersebut tidak berhasil diselamatkan.

Afik, seorang relawan sekaligus warga setempat, membenarkan informasi duka tersebut. Ia menyebutkan bahwa Calvino merupakan salah satu anak yang bertahan bersama keluarganya di tengah keterbatasan fasilitas pengungsian. Selama berada di sana, kondisi kesehatan korban terus menurun akibat minimnya bantuan dan fasilitas kesehatan yang memadai.

1. Diterpa dinginnya malam dan kekurangan air di pengungsian

Warga pengungsi di Nagekeo masih terisolir dan belum dapat bantuan. (Dok Istimewa)

Afik menyebut kondisi di pengungsian serba terbatas. Minimnya persediaan selimut membuat sebagian besar warga Desa Marapokot harus bertahan di tengah dinginnya malam. Situasi ini semakin diperparah dengan krisis air bersih.

"Sehingga anak ini jatuh sakit, sempat dirawat, tapi akhirnya meninggal dunia," kata Afik saat dihubungi pada Jumat (21/8/2026).

Relawan Posko Askar Kauny tersebut mendapatkan kabar duka mengenai kepergian Calvino melalui koordinator pengungsian. Berdasarkan informasi yang diterima, kondisi serba darurat serta trauma akibat gempa susulan yang terus terjadi membuat pihak keluarga dan pengungsi diliputi kecemasan mendalam.

"Saat ini ada banyak penyintas lain yang harus bertahan menghadapi dingin, keterbatasan tempat tinggal, obat-obatan, serta kebutuhan dasar lainnya," tukasnya.

2. Keluarga ingin pemerintah bergerak cepat

Keluarga korban Calviano, anak yang meninggal usai mengungsi saat gempa Flores. (Dok Istimewa)

Sebelum mengembuskan napas terakhir, Calvino sempat dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Aeramo, kemudian dirujuk ke RS Bajawa akibat demam tinggi. Demam itu menyembabkan tubuhnya kaku dan kejang.

"Anak ini sebelumnya sehat dan sangat segar. Ia sakit karena terpapar dingin di pengungsian. Itulah yang membuat saya sangat terpukul," ujar Jack, salah satu anggota keluarga korban.

Jack mendesak pemerintah agar segera bertindak cepat untuk menangani kondisi para pengungsi yang saat ini bertahan tanpa tenda maupun fasilitas yang memadai.

"Kami mohon bantuan segera. Ini situasi yang serius. Korban meninggal baru berusia dua tahun. Ia jatuh sakit hanya karena kondisi keterbatasan di atas bukit, tanpa kelambu dan tanpa tenda. Sebagai keluarga, saya berbicara dengan duka yang mendalam atas kepergian keponakan saya ini," pungkasnya.

3. Kesulitan air bersih

Warga pengungsi di Nagekeo masih terisolir dan belum dapat bantuan. (Dok Istimewa)

Sebelumnya, warga Desa Marapokot juga mengeluhkan krisis air bersih di tempat pengungsian. Warga terpaksa berpencar ke sejumlah kawasan perbukitan karena masih diliputi trauma dan kekhawatiran terhadap gempa susulan yang terus terjadi.

Berdasarkan data Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) per Kamis (21/8/2026) pukul 12.00 WITA, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa di Kabupaten Nagekeo tercatat sebanyak 13 orang. Sementara itu, 13 warga lainnya dilaporkan mengalami luka berat dan 9 orang mengalami luka ringan.

Para pengungsi sempat mengandalkan sisa logistik dan air bersih seadanya, termasuk pasokan 1.000 liter air bersih yang belum mencukupi kebutuhan seluruh titik pengungsian. Di Posko Desa Aloripit saja, tercatat ada sekitar 134 kepala keluarga, belum termasuk ratusan warga asal pesisir Marapokot yang terdampak sangat parah. Praktis, bantuan logistik baru mulai berdatangan pada hari keempat pascagempa magnitudo 7,7 yang mengguncang pulau tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article